Ide dan epistemic community

Ide pembuatan weblog komunitas ini dimulai dari diskusi ringan di WA grup beberapa waktu yang lalu mengenai hubungan kredit motor dan kemiskinan. Dari diskusi tersebut disadari betapa banyak dan beragamnya ide dan pandangan terhadap sebuah persoalan di dunia keplanologian, namun keterbatasan media membuat diskusi menjadi sedikit terbatasi. Situasi tersebut, disadari atau tidak, menggiring ke ide pembuatan blog komunitas ini.

Blog komunitas bukanlah hal yang baru di dunia yang sudah dipenuhi dengan hiruk-pikuk sosial media. Blog seperti kompasiana, qureta, selasar sudah cukup lama mewarna dunia sosial media dengan ide dan diskusi yang menggelitik pemikiran. Di bidang keplanologian juga sesungguhnya sudah bermunculan, namun masih bertumpu pada inisiatif individu ketimbang sebuah gerakan dari sebuah komunitas. Sesungguhnya blog ini dimaksudkan untuk membangun dan memfasilitasi terbentuknya komunitas epistemik tersebut yang peduli terhadap isu-isu terkait keplanologian.

Di dalam kepustakaan, komunitas epistemik mempunyai peran yang penting dalam penetapan agenda (agenda setting) sebuah kebijakan publik, yang dimulai dari penciptaan isu (issue creation), pengembangan isu (issue expansion), hingga menjadi agenda bagi pengambil kebijakan. Dengan sedikit memberanikan diri untuk mengambil perspektif yang jauh ke depan, komunitas ini berpotensi untuk memainkan peran strategis tersebut jika difasilitasi dengan baik. Dan lagi, komunitas ini mempunyai modal sosial yang kuat yang berakar pada kesamaan almamater dan modal pengetahuan yang mumpuni hasil tempaan berbagai universitas ternama di berbagai belahan dunia. Hal tersebut belum termasuk jejaring lokal dan global yang melekat pada setiap individu anggotanya.

Munculnya pemikiran-pemikiran inovatif di ranah keplanologian adalah kontribusi lainnya yang diharapkan dari keberadaan komunitas ini. Kepustakaan terkait pengetahuan dan inovasi juga menekankan pentingnya berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dalam inovasi. Pengetahuan baru merupakan hasil kombinasi dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, begitulah kira-kira pandangan para ahli inovasi mengenai proses inovasi. Lagi, pengetahuan tersebut, terutama yang tacit, melekat pada individu-individu yang membentuk komunitas ini. Dengan memfasilitasi proses berbagi pengetahuan dengan sendirinya akan memperbesar peluang terjadinya sintesis pengetahuan yang berujung pada lahirnya pemikiran-pimikiran inovatif.

Proses berbagi pengetahuan adalah satu prasyarat yang penting, namun belum tentu mencukupi untuk membidani lahirnya pemikiran-pemikiran inovatif. Basis pengetahuan yang tersedia harus cukup besar dan cukup beragam sehingga proses berbagi pengetahuan dapat berlangsung. Bayangkan jika komunitas ini dengan latarbelakang pengetahuan yang mirip maka logikanya hampir tidak ada pengetahuan yang dapat dipertukarkan atau dikombinasikan satu dengan yang lain. Di samping itu, intensitas pertukaran pengetahuan antar-anggota juga kondisi yang disyaratkan untuk mempermudah terjadinya inovasi. Tanpa adanya interaksi yang intensif maka potensi pengetahuan yang  besar dan beragam yang dimiliki komunitas ini dikhawatirkan akan menjadi dormant, atau setidaknya kurang maksimal dari aspek kemanfaatannya. Singkatnya, ide membentuk komunitas epistemik ini sangat beririsan dengan konsepsi proses inovasi yang dinamis.

Satu hal penting lainnya adalah keterlibatan komunitas ini dengan isu-isu terkini yang sedang berkembang di masyarakat. Sebagian dari kita mungkin terbiasa untuk menarik diri dari objek yang sedang kita teliti guna mendapatkan ruang objektivitas yang lebih baik. Setidaknya objektivas pengamatan ini sangat crucial dalam mengambil kesimpulan akademik dari sebuah penelitian. Namun demikan, proses akademik seperti ini cukup menyita waktu sementara dinamika yang terjadi di masyarakat silih berganti dengan cepat, sehingga respon akademik terhadap isu-isu tersebut seringkali datang terlambat bahkan isunya sudah bukan menjadi perhatian publik lagi. Untuk itu, diperlukan sebuah media yang dapat menjembati antara hadirnya kualitas akademik dan kecepatan respon terhadap perkembangan isu di lapangan. Saya melihatnya ini sebagai sebuah tantangan intelektual bagi komunitas ini.

Lalu kenapa blog ini diperlukan? Blog ini hanya sebagai media untuk memfasilitasi terbangunnya komunitas epistemik yang kita diskusikan panjang lebar tadi di atas. Harapan pesimisnya, blog ini bisa menjadi media silaturahim antar-anggota komunitas sekaligus tempat menyampaikan kegalauan intelektual, misalnya paper yang ditolak oleh konfrensi internasional, ide yang diacuhkan atasan atau supervisor, dan sebagainya. Namun jika komunitas ini optimis, kita dapat memainkan peran strategis sebagaimana hal-hal muluk yang dibahas di atas. Seperti apa blog dan komunitas ini berevolusi ke depannya, tergantung sepenuhnya dari peran masing-masing individu anggotanya. Terlepas dari ketidakpastian yang selalu membayangi setiap apapun yang kita lakukan, tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan? [.]

Ditulis oleh: Khairul Rizal

kembali ke atas
Beranda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s