Quiz 1.1: Slum tourism?

Dharavi, India, adalah sebuah kawasan kumuh terbesar ketiga di dunia. Di Dharavi ini tumbuh satu jenis bisnis wisata yang unik, yaitu wisata ke kawasan kumuh (Slum Tourism).

Setujukah Anda dengan jenis wisata ini? Apakah jenis wisata ini perlu dikembangkan di Indonesia atau tidak? Jelaskan argumen Anda di kolom komentar.

5 comments

  1. slum tourism mungkin berkembang di Indonesia. Bentuknya seperti apa saya belum tahu. Di kota-kota besar Indonesia kita dapat melihat suatu bangunan vertikal baru yang disekitarnya masih terdapat kawasan kumuh (ataupun padat). Hal ini mungkin saja dimanfaatkan untuk dijual oleh pihak yang mau (tega) terutama untuk pasar wisatawan asing. setidaknya melalui bentuk viewing kawasan kumuh dari dalam gedung vertikal yang nyaman.

    Liked by 1 person

  2. Slum tourism sudah mulai ada di Indonesia tampaknya, tepatnya masih di sekitar area Jakarta. Mungkin terinspirasi dengan yang di India. Berikut beberapa link-nya: http://uncontainedlife.com/slum-tourism-in-jakarta-indonesia/; http://edition.cnn.com/2009/WORLD/asiapcf/07/29/indonesia.slum.tourism/index.html.

    Terkait dengan setuju atau tidaknya, saya tidak setuju jika memang wisata ini hanya berhenti untuk mengumpulkan profit bagi sang pelaku bisnis. Sebenarnya wisata slum area ini bisa jadi salah satu peluang awal untuk menggugah kesadaran Pemerintah akan ‘PR’ kekumuhan, kemiskinan, marginalisasi, dsb. yang masih merajalela. Dengan semakin maraknya wisata ini, semakin marak pula publik bereaksi dan merespon. Reaksi dan respon publik ini yang dapat menggerakan kebijakan riil Pemerintah untuk segera menangani hal ini.

    Jadi, jika wisata slum tsb. hanya dibiarkan berkembang bebas hanya untuk kepentingan pelaku bisnis, saya kurang setuju. Wisata spt ini perlu dijadikan alat untuk kembali mengingatkan Pemerintah (dan para planner) dalam menyediakan kebijakan publik yang lebih layak bagi seluruh warga.

    Liked by 1 person

  3. Saya melihatnya lebih ke isu etika, yang meng-komoditas-kan kemiskinan. Bisnis seperti ini riskan menimbulkan eksploitasi terhadap warga yg tinggal di slum. Artinya benefit dinikmati oleh pemilik bisnis namun ekses tinggal di kawasan kumuh. Jika pun bisnis ini bermanfaat bagi warga, bukankah akan semakin mempersulit meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan mereka karena itulah komoditas yang mereka ‘jual’ ke pengunjung? Dengan kata lain turis tidak akan datang lagi jika lingkungan mereka sudah tidak kumuh lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s