Benarkah minimarket ‘membunuh’ toko kelontong?

Bahwa kehadiran minimarket diduga sebagai penyebab tutupnya banyak toko kelontong tradisional sepertinya sudah menjadi aksioma yang tidak perlu pertanyakan lagi. Dengan kata lain, minimarket dianggap sudah memenangkan kompetisi di pasar retail, setidaknya terhadap toko kelontong. Akibatnya, pandangan bahwa nasib toko kelontong sudah di ujung tanduk mulai bermunculan. Pandangan ini semakin menguat terutama di kota-kota besar di mana modernisasi di berbagai sektor berlangsung dengan pesatnya. Singkatnya, keberadaan toko kelontong secara perlahan namun pasti akan tersingkir dari gegap gempita modernisasi perkotaan yang menandai akhir dari sebuah era toko kelontong.

Namun munculnya berita tentang kebangkrutan salah satu pelaku di pasar minimarket belakangan ini seakan-akan menyadarkan kita kembali benarkah demikian adanya? Benarkah presumsi bahwa minimarket adalah penyebab kemunduran toko kelontong? Jika demikan halnya, seharusnya pasar minimarket terus tumbuh mengambilalih pasar toko kelontong. Tulisan singkat ini mencoba untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menganalisis data terkait keberadaan toko kelontong dan minimarket. Analisis difokuskan pada keberadaan minimarket dan toko kelontong di tujuh kawasan perkotaan utama di Indonesia, yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. Fokus pada kawasan perkotaan didasarkan pada pertimbangan bahwa modernisasi bisnis retail skala kecil jauh lebih intens terjadi di kawasan perkotaan sebagaimana disinggung di atas. Data yang dianalisis hanya mencakup perkembangan keduanya dari 2003 sampai dengan 2014. Dengan demikian, perkembangan terkini dari kedua jenis bisnis tersebut tidak tertangkap dalam analisis ini. Namun demikian, rentang waktu sebelas tahun seyogyanya cukup untuk mengungkap pola yang terjadi selama ini.

Belakangan ini juga bergulir wacana untuk membatasi perkembangan minimarket. Sesungguhnya bisnis minimarket telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 70 tahun 2013 dan Peraturan Presiden Indonesia (Perpres) Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. Melalui peraturan tersebut sudah diatur secara spesifik proporsi terkait kepemilikan gerai serta komposisi produk yang dijual. Adapun kunci pengaturan ruang bagi kegiatan bisnis minimarket terletak di tangan pemerintah daerah melalui kebijakan penataan ruang, termasuk peraturan zonasi.  Diberitakan* bahwa Pemerintah melalui peraturan presiden akan melakukan pengaturan terhadap ketiga aspek tersebut dan membuat beberapa penyesuaian terhadap persentase yang telah ada di peraturan saat ini. Narasi kebijakan yang dibangun adalah untuk pemerataan dan ekonomi berkeadilan. Dengan adanya pengaturan ini diharapkan komposisi kepemilikan gerai bisnis minimarket akan lebih tersebar ke individu-individu, serta dapat meningkatkan komposisi produk lokal khususnya UMKM, agar minimarket tidak hanya semata-mata didominasi oleh merek dari perusahaan tertentu saja. Di samping itu, pengaturan zona bisnis minimarket akan diarahkan pada kelas jalan tertentu, dan tidak berada di dalam kawasan permukiman. Terlepas dari tujuan pemerataan dan keadilan yang didengungkan, penerapan kebijakan diskriminasi semacam ini perlu dilakukan secara hati-hati karena karakternya yang dipandang kurang progresif, yakni cenderung membatasi ketimbang mendorong. Dan lagi, jika harga jual barang di minimarket lebih murah dibandingkan toko kelontong, maka secara agregat konsumen lah yang dirugikan pada akhirnya.

Kembali ke pertanyaan utama yang ingin direspon oleh tulisan ini, grafik di bawah memberikan gambaran apa yang sesungguhnya terjadi. Secara umum, minimarket menunjukan tren pertumbuhan yang cukup signifikan terutama di tiga kota utama: Jakarta, Bandung dan Surabaya. Jumlah minimarket sempat mengalami fluktuasi di beberapa periode di kota-kota tertentu, namun secara umum menunjukan pola yang terus meningkat. Dari tujuh kota besar yang diamati, hanya kota Yogyakarta yang menunjukkan grafik yang sangat landai, meskipun data detail masih menunjukan pertumbuhan yang positif. Sebaliknya, grafik toko kelontong memberi kesan bahwan jumlah toko kelontong secara umum mengalami penurunan. Namun demikian, jika kita amati secara urun waktu, tren menurun memang terlihat cukup jelas dalam periode 2003-2006. Menariknya, jumlah toko kelontong menunjukkan pola yang cenderung stabil di periode selanjutnya. Jika dikombinasi dengan fakta minimarket yang cenderung meningkat di periode yang sama, muncul keraguan apakah minimarket memang benar penyebab mundurnya bisnis toko kelontong.

Untuk menganalisis relasi keduanya, kami melakukan analisis regresi data panel sederhana dengan menggunakan teknik efek tetap (fixed effects). Teknik ini memungkin kita untuk melihat efek perubahan jumlah (variance) minimarket terhadap perubahan jumlah toko kelontong (dependent variable) dari waktu ke waktu. Unit analisis yang digunakan adalah kelurahan. Dengan kata lain, kami melihat relasi keduanya di tingkat kelurahan. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa keberadaan minimarket hanya akan mempengaruhi ‘survival rate’ toko kelontong yang lokasinya berdekatan atau tidak jauh dari minimarket tersebut. Kami definisikan ‘berdekatan’ sebagai berlokasi di kelurahan yang sama. Jumlah observasi secara total adalah 5.560, yang terdiri dari 1.120 grup kelurahan yang diamati di lima titik waktu. Regresi menghasilkan koefisien minimarket -0,578, t(1.111) = -1,64, p > 0,10. Tanda koefisien yang negatif menunjukan relasi bahwa keberadaan minimarket mempunya efek negatif terhadap eksistensi toko kelontong. Namun secara substansi efek tersebut tidaklah terlalu besar. Penambahan satu unit minimarket di sebuah kelurahan hanya menyebabkan tutupnya 0,6 toko kelontong di kelurahan tersebut. Atau, dengan jumlah bilangan yang lebih masuk akal, kehadiran sepuluh minimarket menyebabkan enam toko kelontong tutup. Namun demikian, secara statistik hasil regresi ini tidak signifikan. Artinya, berdasarkan data yang ada tidak dapat disimpulkan bahwa minimarket memang menyebabkan turunnya jumlah toko kelontong.

Kesimpulannya, klaim bahwa kehadiran minimarket itu menyebabkan toko kelontong tutup masih perlu dipertanyakan. Bukti empiri sejauh ini menunjukan hasil yang belum bisa disimpulkan. Tanpa bukti yang memadai, kebijakan untuk ‘mengendalikan’ pertumbuhan minimarket tidak hanya kehilangan pijakan ilmiah, namun juga dapat menutup peluang ekonomi yang ada di depan mata.

Minimarket

 

Kelontong

 

*Beberapa tautan media: Kontan, Republika, CNNIndonesia, BSN.

Ditulis oleh Khairul Rizal

 

 

Kembali ke atas
Beranda
Kirim artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s