Memindai Pulau-Kota Jawa

Oleh Bayu Wirawan*

Urbanisasi merupakan fenomena global kekinian yang tidak dapat dihindari sebagaimana juga yang terjadi di Indonesia.  KBBI mendefinisikan urbanisasi dalam dua arti yaitu (1) mobilitas penduduk dan/atau (2) perubahan spatial dan pola hidup, yang keduanya berasa dari desa ke kota.  Fenomena urbanisasi di Indonesia dapat ditarik hingga pada masa kolonialisme yaitu sebagai fungsi konsentrasi kegiatan. Berkecamuknya konflik pada masa-masa awal kemerdekaan ikut mendorong terjadinya eksodus masyarakat desa ke kota demi alasan keamanan.  Urbanisasi terus berlangsung setelahnya ketika diadopsinya mahzab kota sebagai pusat pertumbuhan yang dimulai pada era 70-an.  Statistik Indonesia memperlihatkan bahwa proporsi jumlah penduduk perkotaan meningkat dengan laju pertumbuhan sekitar sepuluh persen tiap tahunnya. Dalam kurun waktu 1980-2000, proporsi penduduk perkotaan meningkat tajam dari 22% menjadi 42%[i]. Proporsi 50% penduduk perkotaan telah tercapai di tahun 2010, dan diperkirakan menjadi 85% pada tahun 2050[ii].  Artikel ini berusaha untuk melihat secara sekilas gambaran spasial urbanisasi yang terjadi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sebagai bahan perenungan mengenai seberapa jauh urbanisasi berdampak terhadap pola spasial Pulau Jawa.

Nuansa urbanisasi di Indonesia sangat terlihat di Pulau Jawa.  Data BPS memperlihatkan bahwa dengan luas hanya sekitar 6,7% dari daratan Indonesia Pulau Jawa menampug kurang lebih 60% penduduk Indonesia dalam kurun 1970-2010[iii].  Besarnya jumlah penduduk yang terkonsentrasi di Pulau Jawa ini tentunya menjadi tantangan tersendiri.  Bahkan timbul opini bahwa urbanisasi telah mengarahkan Pulau Jawa menjadi “Pulau-Kota Jawa” dengan segala tantangan dan kengeriannya akibat dari kebutuhan produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan[iv]. Sehingga untuk mengantisipasi bangkitnya Pulau-Kota Jawa diperlukan berbagai pembangunan infrastruktur[v]. Wacana timbulnya Pulau-Kota Jawa tentunya perlu dibuktikan tidak hanya berdasarkan dari peningkatan jumlah penduduk saja, akan tetapi dengan melihat juga sebaran spasial dari penduduk tersebut. Dengan demikian, dapat diketahui seberapa jauh sebenarnya urbanisasi terjadi di Pulau Jawa.

Menjawab ada tidaknya fenomena terbentuknya Pulau-Kota Jawa secara cepat dapat dilihat dari distribusi kepadatan penduduk Pulau Jawa yang kemudian teraglomerasi menjadi kawasan perkotaan.  Pada artikel ini, aglomerasi dilihat berdasar kepadatan penduduk per desa di Pulau Jawa.  Angka acuan kepadatan kawasan perkotaan yang diadopsi adalah 1500 jiwa/km2, merujuk pada buku OECD berjudul “Redefining Urban: A New Way to Measure Metropolitan Areas”.  Data dasar yang dipergunakan adalah data Potensi Desa tahun 2011 yang bersumber dari BPS.  Sebaran aglomerasi kawasan perkotaan di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 1.

Sebaran kepadatan penduduk

Gambar 1 Aglomerasi Kawasan Perkotaan di Pulau Jawa

Secara spasial sebaran kepadatan penduduk Pulau Jawa ternyata masih terkonsentrasi di kawasan-kawasan metropolitan (Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Malang) serta pada beberapa kawasan-kawasan kota menengah dan kecil (Serang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Garut, Tasikmalaya, Purwokerto, Madiun, Kediri). Kota-kota tersebut memang telah menjadi pusat-pusat kegiatan ekonomi dan kebudayaan di Pulau Jawa sejak masa kolonial Belanda. Disandingkan dengan pengembangan jaringan jalan tol, terlihat bahwa jaringan jalan tol yang ada hingga tahun 2010 (digambarkan dengan garis tersambung) hanya berfungsi untuk melayani kota-kota metropolitan di Pulau Jawa yang memang merupakan pusat kegiatan ekonomi skala nasional.  Pengembangan jaringan jalan tol Trans Jawa pasca 2010 (ditandai dengan garis terputus) menunjukan bagaimana usaha Pemerintah untuk menyambungkan seluruh kawasan perkotaan yang ada. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia ternyata masih dan atau akan terfokus pada koridor-koridor jaringan jalan utama.

Pemindaian lebih dalam terkait Pulau Jawa memperlihatkan bahwa kawasan dengan kepadatan penduduk yang tinggi ternyata hanya terkonsentrasi pada beberapa kawasan metropolitan saja, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Malang, Yogyakarta, Surakarta dan Cirebon (Gambar 2).  Fenomena urbanisasi yang terjadi di Pulau Jawa dijelaskan oleh Firman (2015)[vi] sebagai urbanisasi in-situ, di mana urbanisasi terjadi akibat dari adanya proses membesarnya kota inti.

Sebaran kepadatan penduduk_1

Gambar 2 Ilustrasi Kepadatan Penduduk Kawasan Perkotaan Pulau Jawa

Hasil dari pemindaian urbanisasi Pulau Jawa yang dilihat dari sudut pandang sebaran kepadatan penduduk per desa memperlihatkan bahwa mitos terbentuknya Pulau-Kota Jawa menjadi suatu wacana yang sangat menarik untuk didiskusikan.  Pada tingkat agregat nasional, dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan disertai dengan luasan yang kecil Pulau Jawa memang memungkinkan menjadi sebuah pulau-kota.  Akan tetapi, apabila dilihat secara lebih seksama, kawasan perkotaan yang tumbuh di Pulau Jawa ternyata masih terkonsentrasi pada kota-kota “lama” yang telah ada, sehingga penulis memandang bahwa mitos tersebut sesungguhnya belum terjadi.  Hanya saja memang penting untuk disadari bahwa keberadaan pembangunan jalan tol ternyata memberikan kontribusi yang tinggi terhadap perluasan kawasan perkotaan sebagaimana yang terjadi di Koridor Jakarta-Purwakarta-Bandung.  Dengan melihat pola perkembangan ini, adanya rencana pengembangan jaringan tol tentunya akan semakin mendorong perkembangan koridor perkotaan di Pulau Jawa.  Hampir dapat dipastikan bahwa koridor perkotaan Cirebon-Tegal-Pekalongan-Semarang, Yogyakarta-Surakarta, dan Surabaya-Kediri-Malang akan berkembang dengan pesat seiring adanya pembanguna jaringan jalan tol yang diperkirakan hampir seluruhnya akan beroperasi pada 2020.  Tanpa disertai dengan aturan pengendalian pengembangan kawasan perkotaan, dapat diperkirakan mitos Pulau-Kota Jawa tinggal menunggu waktu saja untuk terbuktikan.

 

*Peneliti di URDI, Jakarta. Dapat dihubungi melalui surel: b.wirawan1996@gmail.com

[i] Firman, 2010
[ii] katadata
[iii] BPS
[iv] Gotosave
[v] Okezone
[vi] Opinicetak

 

 

 

 

2 comments

  1. Sangat menarik … apakah mas Bayu punya data mengenai urbanisasi akibat penduduk desa yang pindah ke kota, daerah urban baru yang terjadi akibat expansi kota lama, dan daerah baru yang menjadi daerah urban?

    Liked by 1 person

    • Terima kasih Mas Arlan atas tanggapannya. Baseline data saya menggunakan podes 2011. Urbanisasi yang dapat dilihat baru sebatas urban expansion. Kalaupun mobilitas penduduknya mungkin belum bisa. Salam

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s