Benarkah Reklamasi Menyebabkan Banjir?

Profile2Oleh Rizal, K*.

Perdebatan mengenai reklamasi pantai utara Jakarta semakin sengit dan panas. Pelbagai pihak, mulai dari organisasi keahlian, koalisi pakar, dan bahkan kementerian terkait[1] telah merilis hasil analisis yang disertai dengan empiriknya masing-masing. Artikel singkat ini mencoba terlibat dalam diskursus akademik dan kebijakan tersebut. Secara spesifik, tulisan ini mencoba mengklarifikasi hubungan antara reklamasi dengan kejadian bencana banjir dan gelombang pasang di Jakarta. Telaah evaluatif (ex-post) semacam ini memungkinkan untuk dilakukan karena faktanya beberapa pulau telah dan hampir selesai direklamasi (pulau C, D dan G).  Sejauh ini, dalam pengamatan kami, diskusi publik terkait reklamasi pantai utara Jakarta lebih diwarnai dengan telaahan yang sifatnya perkiraan ke depan (ex-ante), dan cenderung normatif (misal: reklamasi menyebabkan banjir). Artikel ini menawarkan sesuatu yang ex-post dengan fakta empirik. Sebelum itu, ada baiknya kita meninjau sekilas konteks dari pembangunan reklamasi dan pro dan kontra yang menyertainya.

Ide awal reklamasi adalah untuk mengatasi isu terbatasnya ruang pembangunan di daratan Jakarta. Belakangan, ide tersebut diintegrasikan dengan gagasan bendungan laut raksasa (Giant Sea Wall – GSW) untuk melindungi Jakarta dari naiknya air laut sekaligus menjadi resorvoir air tawar jangka panjang bagi Jakarta. Narasi kebijakan yang dibangun didasarkan pada fakta bahwa penurunan tanah Jakarta telah menyebabkan sebagian wilayah Jakarta lebih rendah dari permukaan laut. Situasi ini membuat Jakarta sangat rentan tenggelam, karena sulitnya mengalirkan air permukaan ke laut dan menahan air laut menorobos masuk ke daratan Jakarta. Dengan GSW, kedua persoalan tersebut secara rekayasa dapat diatasi, bahkan air permukaan dapat ditampung untuk cadangan air tawar jangka panjang.

Terlepas dari solusi yang ditawarkan, konsep GSW, termasuk reklamasi di dalamnya, selalu dibayangi oleh dua isu kontroversial. Pertama adalah bagaimana dan siapa yang akan memanfaatkan pulau reklamasi. Kedua adalah dampak lingkungan dari pembangunan infrastruktur raksasa ini. Jika dirangkum, pro dan kontra terhadap reklamasi di teluk Jakarta masih seputar kedua isu tersebut. Di satu sisi, pembangunan GSW dinilai akan menimbulkan dampak negatif yang signifikan[2], antara lain menganggu terumbu karang dan mangrove, menyebabkan banjir, menenggelamkan pulau-pulau kecil akibat pengambilan pasir, memperparah penurunan tanah, menjadi tempat penimbunan limbah yang menghasilkan polusi dan bau[3], memicu pelandaian sungai-sungai Jakarta, dan mengganggu kehidupan nelayan.

Di sisi lain, pro GSW mengemukakan argumen bahwa reklamasi dapat membantu memecah gelombang air laut dan melindungi Jakarta dari risiko abrasi. GSW juga bisa mengantisipasi kenaikan air laut akibat dari pasang-surut maupun pemanasan global. Dari aspek kemanfaatan ekonomi, reklamasi memberi solusi atas keterbatasan ruang pembangunan di Jakarta. Jika disertai dengan kebijakan yang tepat, kemanfaatan ekonomi dari reklamasi tidak akan terkonsentrasi pada sekelompok tertentu saja, tetapi terdistribusi merata bagi pembangunan ekonomi Jakarta secara keseluruhan.

Kembali ke fokus utama tulisan ini, benarkah reklamasi menyebabkan Jakarta lebih rentan terhadap bencana banjir dan gelombang pasang? Untuk menjawab pertanyaan tesebut kami menelusuri kejadian banjir dan gelombang pasang di pesisir utara Jakarta melalui catatan yang disampaikan oleh 16 kelurahan[4] yang bersinggungan langsung dengan teluk Jakarta. Hasilnya ditampilkan pada gambar 1. Jika kita sandingkan data bencana tersebut dengan waktu dimulainya pelaksanaan reklamasi beberapa pulau[5], terlihat korelasi yang kuat bahwa begitu aktivitas reklamasi pulau dimulai sekitar awal 2011 frekuensi kejadian bencana banjir dan gelombang pasang pun meningkat secara drastis.

Banjir Jakarta

Namun demikian, fakta empirik tersebut harus dibaca dengan lebih seksama. Seringkali kita dibingungkan oleh perbedaan antara korelasi (sesuatu yang terjadi bersamaan atau runtut) dengan kausalitas (bahwa sesuatu menyebabkan sesuatu yang lain terjadi). Korelasi bisa jadi hanyalah sebuah kebetulan, atau bisa juga disebabkan oleh satu penyebab umum. Dalam kasus ini, meningkatnya kejadian gelombang pasang bisa jadi disebabkan oleh perubahan iklim makro, bukan spesifik disebabkan oleh reklamasi.

Jika melihat lebih ke belakang, kecenderungan meningkatnya kejadian gelombang pasang sudah dimulai sejak tahun 2005, jauh sebelum reklamasi pulau D dimulai. Seseorang bisa saja berargumen bahwa peningkatan drastis kejadian gelombang pasang sejak tahun 2011 bertepatan dengan dimulainya reklamasi pulau D. Dengan data yang ada, sepertinya sulit untuk tidak menerima argumen tersebut. Dengan kata lain, ada relasi antara meningkatnya kejadian bencana banjir dan gelombang pasang dengan aktivitas reklamasi pulau yang sedang berlangsung, dan relasi ini bukan lah suatu kebetulan belaka.

Tulisan ini pun akan menyimpulkan demikian sampai ketika kami curiga pola yang sama bisa juga terjadi di lokasi lain. Untuk membuktikannya, kami melakukan penelusuran lebih jauh dengan melakukan kompilasi data yang sama untuk kota Semarang. Seperti halnya Jakarta, kota Semarang sama-sama terletak di pantai utara Jawa dan seringkali menghadapi ancaman bencana banjir rob akibat pasang-surut air laut. Menariknya, data kejadian bencana banjir dan gelombang pasang di kota Semarang menunjukan pola yang cukup mirip dengan Jakarta (lihat Gambar 2). Berbeda dari Jakarta, kota Semarang tidak melakukan reklamasi pulau. Dengan demikian, kami berspekulasi bahwa fenomena banjir dan gelombang pasang di Jakarta kemungkinan disebabkan oleh suatu penyebab yang lebih umum, seperti kondisi iklim makro, ketimbang spesifik disebabkan oleh reklamasi pulau[.]

Banjir Semarang

 

 

[1] liputan6.com, tempo.co

[2] kompas.com 

[3] http://bit.ly/SelamatkanTelukJakarta

[4] termasuk kelurahan yang berlokasi di Kepulauan Seribu

[5] Reklamasi pulau D dimulai sekitar 2011, pulau L dan P sekitar 2012, pulau N sekitar 2013, dan pulau G sekitar 2015.

 

**Penulis adalah seorang pemerhati perencanaan dan pembangunan, admin blog rumahpangripta.org, warga Jakarta yang peduli, mahasiswa doktoral di UCL, UK.

Featured image from leisureopportunities.co.uk

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s