Banjir Jakarta dan Narasi Perubahan Iklim

Profile2Oleh Rizal K*.

Hampir setiap tahun Jakarta dilanda banjir.  Selama ini narasi banjir selalu dikaitkan dengan hujan lebat yang mengguyur Jakarta, volume air kiriman dari kawasan Bogor, kenaikan permukaan air laut, penurunan tanah dan sistem drainase primer (sungai) yang kurang berfungsi. Belakangan ini muncul narasi perubahan iklim. Pemanasan global menambah volume air laut yang berakibat pada naiknya permukaan air laut. Well, terdengar seperti tidak ada yang baru.

Pemanasan global juga menyebabkan penguapan air laut lebih cepat dan lebih banyak. Artinya, hujan akan lebih sering dan curahnya akan semakin besar. Data BMKG mengkonfirmasi perihal curah hujan ini (Gambar  1). Sejak 1981, hujan lebat di atas 100 mm per hari terus meningkat. Satuan mm per hari[1] artinya tinggi air yang tertampung pada area seluas 1m x 1m (atau 1 m2). Jadi, curah hujan 100 mm adalah jumlah air hujan yang turun sebanyak 100 mm x 1m2 = 0,1 m3 = 100 liter untuk setiap area seluas 1 m2 sehari. Dengan luas wilayah 661,5 km2 atau  661.500.000 m2, dan jika hujan turun merata di seluruh wilayah, maka volume air hujan yang turun sehari adalah 66.150.000 m3. Jika direratakan setara 2.756.250 m3 per jam, atau 765,6 m3  per detik. Sebagai perbandingan, bendungan Katulampa di Bogor pada saat tinggi air mencapai rekor tertinggi 250 cm pada 12 Februari 2010 lalu, volume air yang mengalir ke Jakarta sebesar 630 m3 per detik[2].

Perubahan Curah Hujan Jakarta 1981-2015_aGambar 1: Pola hujan lebat jangka panjang di Jakarta 1981-2016.
Keterangan: garis kuning adalah hujan lebat (>100 mm/hari), garis merah adalah hujan sedang (>50 mm/hari), garis hijau adalah hujan ringan (>20 mm/hari).
Sumber: http://www.bmkg.go.id

Menarik untuk dicermati tren hujan sedang (>50 mmhari) dan hujan ringan (>20 mm/hari) meningkat cukup tajam setiap tahunnya. Begitu juga halnya dengan hujan lebat (>100 mm per hari), terutama setelah tahun 1995 yang semakin fluktuatif (lihat garis kuning).

Kenaikan air laut juga terbukti. Kajian Nanin (2012)[3] memprediksi pada 2030 permukaan air laut akan naik 1,29 m akibat akibat perubahan iklim (skenario B2 IPCC), dengan tambahan 2,88 m akibat pasang-surut (pasut). Sementara itu, penurunan permukaan tanah diprediksi turun sedalam 2,28 m pada 2030. Prediksi ini cukup mengejutkan karena penurunan permukaan tanah ternyata lebih cepat dibandingkan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global, setidaknya berdasarkan skenario B2 IPCC tadi. Dengan prediksi tinggi genangan 6,45 m pada 2030 (termasuk antisipasi pasut), maka estimasi kawasan yang tenggelam disimulasikan pada Gambar 2. Dengan prediksi tersebut, diperkirakan total lahan yang tenggelam mencapai 3000 ha, termasuk 563 ha lahan industri. Jika kita reratakan, Jakarta Utara dengan luas 13.700 ha dan PDRB 379,2 triliun  menurut data BPS pada tahun 2015, maka kerugian ekonomi tahunan akibat hilangnya kegiatan produktif  di kawasan tersebut sebesar kurang lebih 83 triliun (nilai 2015, di luar nilai aset tanah, properti dan infrastruktur). Tentu saja angka ini adalah perkiraan kasar, namun bisa digunakan sebagai gambaran atas literally sinking costs yang harus ditanggung Jakarta, jika tidak melakukan respon yang serius.

Prediksi genangan jakarta 2030

Gambar 2: Prediksi kawasan yang tenggelam akibat naiknya permukaan air laut dan penurunan tanah pada 2030.
Sumber: Nanin et al. (2012)

Kiranya cukup mengenai fakta empirik. Lalu kebijakan-aksi apa yang harus diambil? Solusi standar normalisasi sungai tentu tetap penting, namun itu bukan respon yang tepat terhadap dampak jangka panjang dari perubahan iklim. Sungai yang berfungsi baik tentunya dapat mengalirkan air ke laut dengan lancar. Namun, jika permukaan laut naik, solusi ini mungkin tidak akan bekerja sebagaimana yang diharapkan.

Kapasitas tata kelola air juga harus ditingkatkan untuk antisipasi tren curah hujan yang terus meningkat. Pembangunan waduk Ciawi dan Sukamahi yang on progress tidak hanya bermanfaat untuk penyimpanan cadangan air tawar bagi Jakarta, tetapi juga untuk pengendalian debit air yang masuk ke Jakarta. Mungkin masih diperlukan beberapa waduk serupa agar debit air ke Jakarta dapat sepenuhnya dikendalikan. Pastinya, langkah ini harus paralel dengan peningkatan kapasitas alami kawasan resapan air Bopunjur.

Membangun tembok raksasa mungkin dapat melindungi Jakarta dari kenaikan air laut. Namun solusi ini akan menelan biaya yang luar biasa mahal, dan mungkin menimbulkan dampak lingkungan tambahan berupa kerusakan kawasan pesisir di sekitarnya. Namun ini satu-satunya solusi, dalam pandangan saya, yang bisa mempertahankan lanskap kota Jakarta sebagaimana sekarang. Alternatifnya, pola ruang Jakarta harus diatur ulang. Kawasan yang diprediksi tenggelam harus diubah menjadi kawasan konservasi lingkungan. Konsekuensinya, akan terjadi realokasi ruang secara besar-besaran, kemungkinan ke arah selatan. Ide ini mungkin terdengar kontroversial saat ini. Namun, perubahan iklim menuntut kita untuk mencari solusi yang bukan business as usual.

Penyebab banjir yang bukan karena perubahan iklim adalah penurunan tanah. Jika melihat angka penurunan tanah 2,28 m pada 2030, semestinya kita lebih khawatir pada isu ini ketimbang isu kenaikan air laut, yang diprediksi naik 1,29 m pada tahun yang sama. Kemasan isu perubahan iklim seakan-akan menjauhkan isu penurunan tanah ini dari realita permasalahan banjir Jakarta. Berbeda dengan solusi perubahan iklim, solusi penurunan tanah ini sepenuhnya berada dalam kewenangan Pemda Jakarta. Anehnya, narasi banjir Jakarta, meskipun relevan, justru dibawa ke narasi perubahan iklim yang solusinya banyak di luar wilayah Jakarta. Sepertinya Jakarta kehilangan orientasi dalam menangani banjir di wilayahnya sendiri[.]

 

*Penulis adalah seorang pemerhati perencanaan dan pembangunan, admin blog rumahpangripta.org, warga Jakarta Pusat yang peduli, mahasiswa doktoral di UCL, UK.

Featured image from sidomi.com

 

[1] https://water.usgs.gov/edu/activity-howmuchrain-metric.html

[2] https://metro.tempo.co/read/546133/mengenal-katulampa-primadona-info-banjir-jakarta

[3] http://repository.lapan.go.id/repository/1788-1889-1-SM.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s