Solar Urban Planning – Pendekatan energi surya dalam perencanaan kota berkelanjutan

Gretiano Wasian, M.T.*

Energi listrik merupakan salah satu bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan perkotaan. Listrik telah menjadi kebutuhan primer yang diperlukan oleh setiap orang, baik saat tidur ataupun beraktivitas.

Namun, selama ini produksi listrik di Indonesia masih sebatas pada sumber yang tidak terbarukan . Pada akhirnya, kondisi ini akan menjebak pada ketergantungan terhadap sumber daya yang semakin menipis dan akan segera habis.

Untuk itu, Indonesia perlu mencari energi alternatif dari sumber terbarukan, utuk memastikan ketersediaan energi secara terus menerus dan tanpa membahayakan lingkungan itu sendiri. Salah satu contoh penggunaan sumber energi terbarukan yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan energi surya.

Pendekatan solar urban planning

Solar urban planning atau perencanaan kota berbasis energi surya merupakan pendekatan perencanaan untuk melakukan efisiensi penggunaan energi pada sebuah kota, dengan pemanfaatan energi terbarukan dari matahari yang menggunakan teknologi solar photovoltaic (pemanfaatan sinar matahari untuk diubah menjadi listrik dengan tekonologi sel fotovoltaik), solar heat (pemanfaatan panas matahari untuk diubah menjadi listrik dengan teknologi pengumpulan panas) dan solar passive (pemanfaatan energi matahari tanpa langsung mengkonversi energi tersebut menjadi listrik) dalam penerapannya[1].

Mungkin istilah solar urban planning belum terlalu banyak digunakan di Indonesia. Namun, Perencanaan kota berbasis energi surya adalah bagian “babak baru” dari perencanaan berkelanjutan, dimana listrik telah menjadi salah satu komponen penting dalam berjalannya sebuah kota.

Kenapa kawasan perkotaan penting bagi perencanaan berbasis energi surya? Kawasan perkotaan merupakan wilayah yang paling banyak mengkonsumsi listrik karena merupakan konsentrasi dari berbagai aktivitas seperti perkantoran dan bisnis, industri, rumah tangga dan aktivitas lainnya.

Lingkup area perencanaan kota berbasis energi surya ini meliputi [1] (1) area perkotaan yang baru dibangun, seperti kota terencana BSD City atau Meikarta yang banyak tumbuh sekarang ini; (2) area perkotaan yang sudah ada, seperti kota Jakarta, Makasar, Medan yang membutuhkan suplai listrik cukup besar; dan (3) kawasan sejarah atau dilindungi yang berada di kawasan perkotaan, seperti kawasan kota tua semarang.

Energi surya untuk perkotaan

Penggunaan energi surya untuk perkotaan pada kenyataannya telah lama dikembangkan. Namun, energi surya baru dipertimbangkan sebagai bagian dari produk perencanaan kota semenjak tahun 90an. Jerman merupakan salah satu negara pertama yang telah mengadopsi produk ini dalam perencanaan kotanya melalui program Build with the sun – 50 solar settlements in North Rhine-Westphalia[2] pada 1997, dengan total 4300 rumah tangga yang dilingkupi program ini.

Pada 2004, Jerman melanjutkan kegiatan perencanaan kota berbasis energi surya ini melalui program solar urban master plan for the City of Berlin, yang diprakarsai oleh ecofys, atas permintaan pemerintah kota Berlin. Dalam program ini, pemerintah bersama stakeholders terkait melakukan survei dan pemetaan kawasan dan bangunan di perkotaan yang mungkin mengaplikasikan energi surya.

Secara umum, ada beberapa hal dapat menjadi perhatian dalam melakukan perencanaan kota berbasis energi surya, yaitu:

  1. Identifikasi lingkup rencana tata ruang yang akan dilakukan. Apakah masuk dalam lingkup dokumen rencana tata ruang wilayah kota? Atau masuk dalam detail rencana tata ruang lingkungan? Karena masing-masing kebijakan memiliki dampak konsekuensi berbeda dalam aplikasinya.
  2. Identifikasi stakeholders yang terlibat. Dalam hal ini penggunaan energi surya untuk kawasan perumahan dan industri akan berbeda, karena ada perbedaan pola konsumsi dan teknologi yang dibutuhkan, misalnya apakah perlu mengadopsi jenis listrik grid tie[3]? Atau hybrid[4]?. Dan lagi, ketersediaan dan karakter ruang bangunan dari masing-masing pengguna juga memiliki perbedaan.
  3. Identifikasi kebutuhan daya dan ketersediaan listrik. Kawasan perumahan akan membutuhkan lebih banyak daya pada malam hari dibandingkan siang hari. Pola ini cenderung membutuhkan aplikasi pembangkit hybrid. Berbeda dengan kawasan perkantoran yang cenderung membutuhkan aplikasi pembangkit grid tie, karena pola konsumsi listrik yang dominan pada siang hari.
  4. Identifikasi regulasi dan kebijakan yang ada. Indonesia telah memiliki regulasi jual beli listrik panel surya dengan PLN[5], baik untuk individu, perusahaan atau Independent Power Plant (IPP). Salah satu contoh regulasi untuk jual-beli listrik surya fotovoltaik oleh rumah tangga, melalui kebijakan:
    • Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.
    • Peraturan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 0733.K/DIR/2013, 19 November 2013, tentang Pemanfaatan Energi Listrik dari Fotovoltaik oleh Pelanggan PT. PLN (Persero).
    • Surat Edaran Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 0009.E/DIR/2014 tentang Ketentuan Operasional Integrasi Fotovoltaik Milik Pelanggan ke Dalam Area Sistem Tenaga Listrik PT. PLN (Persero).
    • Peraturan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 0190.P/DIR/2016 tentang (SPLN D5.005-1:2015), 13 Mei 2016, persyaratan teknis interkoneksi sistem fotovoltaik (PV) pada jaringan distribusi jaringan rendah.

Bagaimana perkembangan energi surya di Indonesia?

Indonesia belum mengadopsi perencanaan kota berbasis energi surya dalam produk rencana tata ruang, namun banyak masyarakat perkotaan yang sudah memanfaatkan beberapa aplikasi energi surya di rumah dan kantornya secara individu, seperti listrik grid tie dengan kWh EXIM untuk efisiensi listrik rumah tangga, pemanfaatan pemanas air dengan energi matahari atau konsep rumah yang banyak memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber penerangan di siang hari.

Salah satu aplikasi yang sedang banyak dicoba pasang adalah pemanfaatan listrik surya atap dengan net metering atau listrik grid tie dengan kWh . Di kawasan Jabodetabek, populasi pemanfaatan listrik grid tie dengan kWh EXIM ini sudah mencapai 100 pelanggan pada 2017[7], dengan daya panel surya fotovoltaik terpasang 600 kWp untuk mendukung kapasitas listrik PLN 1.727 kWh.

Kedepannya, kota berbasis energi surya akan menjadi tren dan kebutuhan, terutama setelah Kementerian ESDM bersama beberapa stakeholders, terutama REI – Real Estate Indonesia, menandatangani Deklarasi Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap Menuju Gigawatt Fotovoltaik di Indonesia[8], pada September 2017 lalu.

Melalui deklarasi ini, pengembang, perbankan dan penyedia teknologi fotovoltaik akan bekerjasama membangun kota yang terpasang panel surya pada atap-atap bangunannya. Hal ini merupakan bagian dari target pemerintah untuk mencapai 23% sumber energi terbarukan pada 2025, atau sebesar 6.4 GW dari listrik surya.

Dengan ketersediaan akses listrik surya yang baik, peran perencana untuk mengadopsi penggunaan energi surya dalam produk perencanaan kota menjadi penting. Mengingat pertumbuhan kebutuhan listrik bersih yang terus meningkat, berbanding lurus dengan naiknya pemanfaatan ruang oleh masyarakat modern Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari konversi lahan untuk aktivitas perkotaan yang mencapai lebih dari 30%, setiap tahunnya[9]. Konversi lahan merupakan konsekuensi logis dari peningkatan aktivitas dan jumlah penduduk serta proses pembangunan lainnya.

Gencarnya pembangunan infrastruktur yang digerakkan oleh pemerintah diperkirakan akan secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 6% pada 2020[10]. Konsekuensinya, kebutuhan listrik juga akan meningkat yang pada akhirnya akan mendorong naiknya konsumsi listrik hingga mencapai lebih dari 300 TWh pada 2020.

Untuk mendukung hal ini, sudah seharusnya perencana dapat berperan aktif untuk mendorong dan mengedukasi pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan energi surya. Tujuannya adalah agar produk perencanaan yang dihasilkan para perencana dapat terus beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dan dinamika perkembangan kota[.]

 

*Dosen Jurusan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan Founder janaloka.com, platform media online pertama yang menyediakan informasi ekosistem bisnis dan implementasi sistem panel surya di Indonesia dan SEA.
Surel: gretiano@janaloka.com atau neno.wasian@gmail.com

 

[1] Amado, Miguel dan Francesca Poggi. 2012. Towards solar urban planning: A new step for better energy performance. Energy Procedia 30 ( 2012 ) 1261 – 1273, http://www.sciencedirect.com.

[2] http://www.energieagentur.nrw/gebaeude/solarsiedlungen/50-solarsiedlungen-in-nrw

[3] Jenis listrik surya fotovoltaik yang memanfaatkan koneksi listrik surya dengan PLN secara langsung.

[4] Jenis listrik surya fotovoltaik yang memanfaatkan baterai tempat penyimpanan cadangan daya, agar dapat digunakan sewaktu-waktu.

[5] https://janaloka.com/pelaksanaan-net-metering-dengan-kwh-meter-exim/

[6] https://janaloka.com/pelaksanaan-net-metering-dengan-kwh-meter-exim/

[7] Laporan layanan PV Roof top net metering PLN Distribusi Jakarta Raya. Jakarta. 19 Juni 2017.

[8] https://janaloka.com/panel-surya-di-atap-rumah-oleh-rei-dan-ebtke/

[9] Nurjanah, Evi Novia dan Heru Purwandari. 2012. Alih Fungsi Lahan: Potensi Pemicu Transformasi Desa – Kota (Studi Kasus Pembangunan Terminal Tipe A “Kertawangunan”). JSEP Vol. 6 No. 3 November 2012. Universitas Jember.

[10] BI: 2020, Ekonomi Tumbuh di Atas 6% http://www.beritasatu.com/investor/449894-bi-2020-ekonomi-tumbuh-di-atas-6.html

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s