Jangan Lupakan Teori Dasar Perkotaan!

Profile2
Oleh Rizal, K*

Bagaimana gambaran sebuah kota ideal telah diteorikan sejak lama oleh para teoretikus perkotaan. Meskipun teori-teori tersebut telah muncul lebih dari seabad yang lalu, namun ide yang mendasari teori tersebut, meskipun sederhana, beberapa masih ada yang relevan dengan dinamika perkotaan sekarang.

Awalnya ada keraguan untuk menulis topik tentang teori perkotaan. Hari gini nulis teori? Siapa yang baca? Jadi, tantangan terberatnya adalah bagaimana membuatnya tidak membosankan namun tetap mudah dipahami. Untuk merespon tantangan tersebut kami mengadopsi pendekatan praksis. Daripada menjelaskan teori dalam bahasa yang abstrak, tulisan ini menyertakan juga contoh yang merepresentasikan teori tersebut. Mari kita tinjau beberapa teori perkotaan yang pernah popular.

Di akhir abad ke-19 Ebenezer Howard mencetuskan konsep garden city. Konsep ini cukup berpengaruh terhadap perencanaan tidak hanya di kota-kota Inggris saat itu, tetapi juga kota-kota Eropa dan belahan dunia lainnya. Sebuah kota ideal, setidaknya dalam pandangan Howard, adalah kombinasi proporsional dari lanskap perkotaan dan perdesaan dan Garden city adalah perwujudan prinsip tersebut. Secara spesifik dia mendeskripsikan garden city sebagai kota dengan ukuran yang relatif kecil, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 32.000, dan dikelilingi oleh jalur hijau dan lahan pertanian untuk mendukung kota tersebut. Letchworth atau Welwyn, dua kota mungil di utara London, adalah perwujudan asli konsep garden city yang didesain langsung oleh Howard.

Mungkin Ubud di pulau Bali adalah kota Indonesia yang cukup pas merepresentasikan garden city. Meskipun sedikit kurang terstruktur, jumlah penduduk dan proporsi rural dan urban Ubud cukup memenuhi kritera sebagai garden city. Saya juga membayangkan kota Solok di Sumatera Barat, namun secara ukuran kota Solok sudah agak terlalu besar. Masih dalam konteks garden city, Howard juga memperkenalkan istilah satellite town dalam konstelasi garden city, yang menjadi fondasi bagi teori kota satelit oleh Taylor pada 1915.

Teori kota satelit dengan sendiri sudah cukup menjelaskan. Kota satelit merujuk pada kota-kota kecil di sekitar sebuah kota besar. Kota-kota satelit ini berfungsi sebagai penyangga, terutama dalam hal menampung limpahan populasi dan aktivitas di kota utama. Contohnya yang paling popular di Indonesia adalah kota bodetabek sebagai kota satelit dari Jakarta.

Eliel Saarinen (1943) merivisi sedikit teori kota satelit dengan menyatakan bahwa sebuah kota terdesentralisasi membentuk satelit-satelit secara organik, layaknya sebuah organisme hidup. Kelebihan beban penduduk dan aktivitas menyebabkan kota berekspansi ke sekitarnya dan membentuk kota-kota baru (satelit) secara perlahan dan alami. Dengan kata lain, ide ini mirip dengan narasi urban sprawl, kota dengan kepadatan rendah dan ekstensif ketimbang intensif dalam penggunaan ruangnya.

Saarinen memandang bahwa seiring tumbuhnya kota baru secara organik atau alamiah, kota lama harus ‘direnovasi’ dan disesuaikan fungsinya. Sekali lagi, ide ini mirip dengan konsep ‘baru tapi lama’ gentrification, meremajakan kembali kota lama. Dia menambahkan bahwa kota lama dan kota baru harus dipisahkan oleh jalur hijau.

Jika pernah ke Helsinki di Finlandia (saya belum pernah), kawasan Munkkiniemi dan Haaga adalah jejak asli teori kota satelit organik. Tentunya dengan beberapa catatan, perkembangan perumahan skala besar di sekitar Jakarta (misalnya, Bintaro, BSD, dll) adalah bentuk ekspansi organik kota Jakarta ala Saarinen.

Tiga teori perkotaan tersebut, menurut kami, adalah jejak teori perkotaan murni yang berorientasi lanskap. Setelah itu, teori perkotaan banyak diwarnai oleh perspektif ekonomi. Teori agglomerasi perkotaan dan dual/integrasi kotadesa adalah dua teori perkotaan yang dibungkus dalam wacana pembangunan ekonomi wilayah. Kedua teori tersebut fokus pada interaksi antara kota dan desa serta antarkota yang membentuk sistem wilayah.

Teori aglomerasi pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Jerman Alfred Weber (1929).  Intinya, aktivitas ekonomi cenderung untuk berlokasi di tempat yang sama (agglomerasi). Kenapa? Sederhananya untuk mengambil keuntungan dari skala ekonomi yang ditawarkan oleh agglomerasi, baik dalam hal produski maupun market.

Agglomerasi yang terlalu kecil membuat produksi kurang efisien. Bayangkan Anda memproduksi roti di suatu wilayah yang sepi dan jauh dari penyuplai bahan baku. Lalu bandingkan jika memproduksi roti di sebuah kota yang juga menjual tepung, keju, gula, dan tersedia pekerja yang cukup. Dan lagi, roti akan lebih mudah dijual jika calon pembelinya berkumpul di satu tempat. Belakangan, teori aglomerasi ini mulai dihubungkan dengan proses inovasi dan pengembangan pengetahuan dan teknologi (lihat Cook 1997).

Di sisi lain, aglomerasi yang terlalu besar dapat menimbulkan diseconomies, dalam bentuk kemacetan, degradasi lingkungan, harga lahan yang meroket, dan sebagainya. Teori aglomerasi ini cukup efektif menjelaskan fenomena primasi sebuah kota relatif terhadap kota kedua setelahnya, seperti halnya Jakarta. Teori aglomerasi yang dibangun berdasarkan pada prinsip cumulative causation ini terus berkembang dan cukup menarik perhatian hingga ke era Myrdal (1957), Jacob (1969) dan Krugman (1991).

Teori ekonomi perkotaan lainnya adalah teori dual-sektor dan integrasi kota-desa. Arthur Lewis (1954) mengkonstruksi model ekonomi dari interaksi ekonomi sektor modern perkotaan (industri) dan sektor tradisional perdesaan (pertanian). Pembangunan ekonomi, menurut Lewis, pada dasarnya adalah transformasi struktural dari sektor tradisional ke sektor modern. Sejalan dengan ini, McGee (1990) memperkenalkan istilah desakota yang merupakan ruang perpaduan desa dan kota. Teori integrasi desa-kota ini selanjutnya diposisikan dalam konteks pengembangan ekonomi wilayah yang lebih luas.

Teori dual-sektor dan desa-kota ini, dalam pandangan kami, sangat akurat menjelaskan fenomena perkotaan di negara-negara transisi seperti halnya Indonesia. Karena sesungguhnya kedua teori tersebut memang dikonstruksi berdasarkan observasi yang berlangsung di negara Global Selatan.

Tentunya banyak teori perkotaan lainnya yang tidak dicakup dalam tulisan singkat ini. Kebanyakan teori-teori tersebut bersifat tematik, seperti kota berkelanjutan, kota setara gender, atau teori perkotaan yang berbasis Marxisme, seperti kota berkeadilan dengan pelbagai variannya.

Apakah Indonesia punya teori perkotaannya sendiri?

 

* Penulis adalah seorang pemerhati perencanaan dan pembangunan, admin blog rumahpangripta.org, kandidat doktor dari UCL, UK.

Featured image: wallpapervortex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s