Bumi adalah Planet-Kota?

Profile2
Oleh Rizal, K*

Judul di atas memang terkesan bombastis. Bagaimana jika itulah yang sebenarnya terjadi? Pada tulisan sebelumnya, seorang kolega kami yang juga peneliti di URDI, Bayu Wirawan, mengangkat isu tentang Pulau Jawa yang telah menjadi pulau-kota. Serupa dengan itu, teori planet-kota mendeteksi fenomena tersebut juga berlangsung pada skala planet. Dengan tujuh milyar lebih penduduk, tidaklah sulit menemukan jejak perkotaan bahkan di sudut terpencil planet bumi ini.

Ide tentang planet-kota bermula dari hipotesis Lafebvre pada tahun 1970an tentang terbentuknya suatu masyarkat perkotaan paripurna. Belakangan ide Lafebvre ini gencar-gencarnya dipromosikan kembali oleh urbanist dari Harvard University dan ETH Zurich, Neil Brenner dan Christian Schimdt. Intinya, mereka mempertanyakan dikotomi kota-desa yang menjadi ciri utama teori perkotaan konvensional. Dikotomi tersebut, menurut mereka, sudah tidak relevan sekarang ini, termasuk sub-kategorisasi yang menyertainya, seperti metropolitan, megopolitan, agropolitan, dsb. Alasannya sederhana, jejak perkotaan sudah tersebar ke seluruh penjuru, bahkan terlacak hingga di pelosok paling terpencil di planet bumi ini. Alih-alih, mereka merangkum bahwa sesungguhnya planet bumi ini telah menjadi sebuah planet-kota. Konsekuensinya, dikotomi kota-desa harus didefinisi ulang.

Contoh sederhananya, sekarang ini semua ‘fungsi dan layanan kota’, mulai dari jaringan internet, mobil, perkantoran dan sebagainya sudah ditemukan dengan mudah di wilayah perdesaan (dalam definisi lama). Untuk memperkuat teorinya, mereka mengerjakan sebuah proyek besar untuk melacak jejak perkotaan di berbagai lokasi ekstrim di planet bumi, seperti di gurun Sahara, kutub Selatan/Utara, hutan Amazon, dasar lautan dalam, puncak Himalaya, bahkan luar angkasa. Kurang lebih seperti itulah dalil teori planet-kota (planetary urbanism). Terdengan gila tapi, jika saya jujur,  menakjubkan!

Secara data, fenomena planet kota ini cukup masuk akal. Penduduk perkotaan di negara-negara Eropa rata-rata sudah berada di atas tujuh puluh persen. Bahkan negara seperti Belanda, Denmark dan Swedia penduduk perkotaannya sudah melebihi 85 persen[1]. Indonesia sendiri sudah mendekati angka 60 persen.

Jika teori ini mendapat penerimaan yang cukup luas, lalu seperti apa pengaruhnya terhadap ontologi dan kajian perkotaan di masa mendatang? Tidak kalah pentingnya, seperti apa implikasinya terhadap kebijakan dan praktek manajemen perkotaan? Mari kita sedikit berspekluasi terhadap dua pertanyaan tersebut.

Pertama, kami berpandangan bahwa ide planet-kota ini sedikit bias. Jika bumi telah menjadi kota, apakah itu berarti konsep desa sudah tidak ada lagi di planet ini? Padahal karakteristik utama desa, seperti keberadaan ruang terbuka yang dominan, aktivitas ekonomi penduduknya yang cukup erat dengan tanah/alam, serta ikatan sosial masyarakatnya yang masih kental belumlah hilang, bahkan masih kuat eksistensinya di planet ini. Cukup masuk di akal jika kita melihat planet bumi ini dari kacamata ‘kota’ maka kita akan melihat jejak perkotaan ada di mana-mana. Namun, apakah itu berarti bahwa bumi ini telah menjadi planet-kota? Dengan alur logika yang sama, namun menggunakan kacamata ‘desa’, maka kita akan sampai pada kesimpulan yang bertolak belakang.

Kedua, kami juga merasa bahwa, secara ide, teori ini kurang alami. Kota dapat diibaratkan seperti organisme yang memerlukan input untuk dapat bertahan hidup. Hampir semua kebutuhan vital kawasan perkotaan disuplai dari kawasan perdesaan. Menghilangkan dikotomi kota-desa, secara ide, dalam pandangan kami, mengabaikan relasi dan interaksi yang terjadi antara keduanya. Dikotomi desa-kota itu bukan hanya sekedar representasi fisik saja, tapi juga merepresentasikan relasi alami keduanya, baik itu berlangsung secara mutual ataupun eksploitatif.

Implikasi teori ini terhadap kebijakan dan manajemen perkotaan masih belum dapat diketahui dengan pasti. Teorinya sendiri masih panas diperdebatkan. Logikanya, perkotaan akan menjadi isu lintas negara yang menuntut hadirnya tata kelola global yang lebih demokratis dan terkoordiasi. Di tingkat negara, teori ini bisa menggiring kebijakan pemerintah nasional menjadi bias ke perkotaan. Kemungkinan dampaknya adalah teori ini tidak hanya mempengaruhi bentuk lanskap perdesaan tetapi juga pola interaksi sosial-ekonomi masyarakat desa.

Hal yang menarik adalah apa yang akan terjadi dengan kebijakan perdesaan?

 

*Penulis adalah seorang pemerhati perencanaan dan pembangunan, admin blog rumahpangripta.org, mahasiswa doktoral UCL, UK.

Featured image by detail.de

[1] Data tahun 2015 menunjukan penduduk perkotaan Belanda 90.5%, Denmark 87.7% dan Swedia 85.8%.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s