Di belakang garis musuh

Profile2Oleh: Rizal, K.*

Pertama-tama, saya tidak malu-malu menyatakan bahwa tulisan ini terinspirasi oleh tulisan Claudia Hanson Thiem dan Morgan Robertson di jurnal Geoforum edisi 41 tahun 2010. Kedua, tulisan ini juga termotivasi dari pengalaman pribadi ketika melakukan riset yang sempat melintasi ‘garis musuh’.  Ketiga, dalam masyarakat yang terkutub seperti ‘zaman now’ ini, tulisan ini menjadi relevan dan harapannya bisa memberi sedikit pencerahan.

Dalam melakukan riset, terutama di bidang keilmuan sosial, kita sering kali berada dalam situasi yang bertentangan dengan posisi ideologi, politik atau profesional kita. Posisi ‘kubu seberang’ yang melekat pada peneliti bisa saja menimbulkan sikap antipati yang berpengaruh pada relasi si peneliti dengan parapihak yang menjadi narasumbernya. Akibatnya, riset oposisi[1] tidak hanya membuat situasi menjadi aneh, namun juga memberikan tekanan tersendiri, bahkan bisa tereskalasi menjadi ancaman keamanan, bagi si peneliti.

Lalu, apakah kita sebaiknya jangan terlibat dengan tipe riset seperti itu sejak awal sehingga terhindar dari situasi aneh seperti di atas? Atau, jika entah bagaimana kita terlanjur terlibat dalam situasi tersebut, adakah caranya kita berinteraksi dan terus melanjutkan riset oposisi kita yang penuh dengan kecurigaan dan antipati?

Saya sendiri berpandangan bahwa tipe riset oposisi seperti ini tidak perlu dihindari. Justru jenis riset seperti ini membuat kita lebih ‘hati-hati’, tidak hanya dalam merumuskan sasaran dan pertanyaan riset, tetapi juga dalam mendiseminasikannya.

Posisi yang bertentangan juga membuat kita bisa lebih objektif dalam melakukan kritik, dibanding ketika kita berada si posisi yang sama. Bandingkan subjektivitas yang terjadi ketika kita mengkritik pihak lain dan diri sendiri.

Namun demikian, riset oposisi juga bukan tanpa tantangan. Salah satunya adalah bagaimana memperoleh akses dan membangun relasi dengan parapihak yang menjadi narasumber riset. Jika pun kita berhasil mendapatkan akses, narasumber akan selalu curiga tentang motif penelitian kita. Akibatnya, informasi yang diperoleh kemungkinan akan sangat terbatas. Relasi dengan narasumber juga akan penuh dengan kecurigaan, karena ada kekhawatiran bahwa informasi yang mereka berikan nantinya akan disalahgunakan untuk melawan kepentingan mereka sendiri.

Emosi juga menjadi faktor kendala. Berada di belakang garis musuh tentunya menimbulkan semacam rasa khawatir. Ini adalah perasaan yang wajar. Berhadapan dengan narasumber yang bertentangan, bahkan kadang disela dengan kemarahan, bisa memberi tekanan psikologis tersendiri bagi peneliti. Jika terakumulasi dalam waktu yang cukup lama kondisi tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap keberlanjutan riset, tetapi juga dapat memberikan efek negatif bagi sang peneliti.

Perlu diingat bahwa belum tentu semua yang berada di ‘belakang garis musuh’ adalah oposisi. Bisa jadi kita menemukan narasumber yang secara ideologi posisinya banyak beririsan dengan kita. Ini bisa menjadi titik masuk yang memudahkan bagi pelaku riset oposisi.

Diseminasi hasil riset oposisi, saya kira, adalah hal yang paling menakutkan bagi kedua belah pihak. Bagi narasumber, kekhawatiran terbesar adalah mereka tidak punya kontrol atas hasil penelitian. Hasil riset sepenuhnya berada di tangan peneliti yang mendiseminasikannya. Mengingat posisi peneliti yang berseberangan, kecurigaan hasil penelitian akan ‘dipelintir’ untuk melawan kepentingan narasumber adalah cukup beralasan.

Bagi peneliti, hasil riset oposisi bisa mempertajam kontroversi yang sudah ada. Di samping itu, peneliti dihadapkan pada dilema antara menjadi kritis terhadap substansi penelitian atau mempertahanan akses dengan narasumber untuk penelitian lebih lanjut.

Sedikit catatan, situasi serupa tidak unik terjadi dalam konteks riset oposisi keilmuan sosial saja, tetapi juga jamak ditemui dalam berbagai konteks lainnya, seperti ketika berdiskusi, dalam pekerjaan kita sehari-hari, dan tidak terkecuali di dunia keplanologian.

 

*Penulis adalah pemerhati perencanaan dan pembangunan, admin blog rumahpangripta.org.

Featured imaged by Fanart

[1] Label untuk riset jenis ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s