Kota dan Milennia: sebuah survei

Profile2Oleh Rizal, K.

Konon generasi milenia adalah generasi yang paling fenomenal saat ini. Kiprah generasi ini ramai dibicarakan, entah itu di lini media maupun di literatur. Topiknya pun beragam, mulai dari gaya hidup milenia, kelekatannya dengan teknologi, hingga efek milenia bagi pertumbuhan ekonomi. Sefenomenal itu kah milenia?

Milenia seringkali diidentikan dengan generasi perkotaan. Mereka dinarasikan sebagai generasi yang menyukai ekosistem padat di inti kota-kota besar. Tidak heran jika kemunculan generasi ini dikaitkan dengan gelombang ‘back to the city’. Dalam konteks ini, kehadiran milenia tidak hanya mempengaruhi dinamika yang terjadi di masyarakat perkotaan, tetapi juga turut membentuk lanskap perkotaan secara menyeluruh.

Bahkan, cendikiawan perkotaan, Richard Florida[1] berteori bahwa keberadaan kaum muda adalah kunci untuk merevitalisasi pusat kota-kota besar yang mengalami penurunan. Kaum muda ini jelas merujuk pada generasi milenia yang kreatif dan berorientasi teknologi. Manajer kota tidak perlu membangun gedung konser yang mahal atau stadium raksasa untuk menghidupkan kembali pusat-pusat kota. Mereka, lanjut Florida, cukup memikirkan bagaimana caranya mengundang milenia datang dan melakukan tugas tersebut untuk mereka. Caranya, menurut Florida, adalah dengan mengkombinasikan tiga hal: teknologi, talenta muda, dan toleransi.

Diskursus milenia di Indonesia

Di Indonesia tak terkecuali. Milenia mewarnai diskursus di pelbagai disiplin. Gaya hidup dan cara kerja mereka yang unik dibandingkan generasi sebelumnya hampir selalu menjadi fokus diskusi mengenai generasi ini. Misalnya, bagaimana perusahaan merespon perubahan demografi ini dalam proses bisnis mereka. Atau, sejauhmana perusahaan milenia berbeda dari perusahaan dari generasi sebelumnya.

Milenia juga menjadi sasaran empuk bagi para pelaku politik praktis. Suara milenia adalah segmen strategis yang diperebutkan para kandidat dan partai politik mereka. Dari perspektif politik, generasi sebelumnya cenderung sudah terkutub dan memiliki preferensi politik yang relatif mapan.  Sehingga, prospek generasi yang lebih tua untuk berayun secara politik tidaklah begitu menjanjikan. Sebaliknya, milenia dan generasi yang lebih muda (Z) secara preferensi politik dapat dikatakan masih ‘polos’, sehingga lebih prospektif untuk disasar.

Kelekatan generasi milenia dengan teknologi dan gawai pintar juga tidak luput dari perhatian, khususnya terhadap relasi sosial yang diperkenalkan oleh generasi ini. Istilah ‘phubber[2]’ atau kebiasaan yang selalu melirik ke gawai pintar sering diartikan sebagai karakter dari sebuah generasi yang lebih soliter ketimbang membentuk relasi sosial dengan lingkungan sekitarnya.

Isu perkotaan yang paling sering dikaitkan dengan keberadaan milenia adalah yang terkait dengan akses perumahan. Belakangan ini, kesulitan kaum milenia untuk memiliki rumah sendiri di kota Jakarta dan sekitarnya sangat ramai didiskusikan di ruang publik. Isu keterjangkauan harga rumah berada di inti diskursus publik tersebut.

Isu perkotaan lainnya yang terkait dengan milenia dan cukup sering diangkat adalah kota pintar. Meskipun kota pintar dan milenia sama-sama identik dengan teknologi, sulit buat kita untuk mengklaim bahwa kota pintar adalah konsekuensi dari kehadiran milenia. Hal ini mengingat akar dari ide kota pintar telah ada jauh ke akhir tahun 1960an dan 1970an [3]. Namun demikian, diakui bahwa gagasan kota pintar ini mulai intensif didiskusikan, setidaknya di literatur, mulai tahun 1990an setelah arsitektur sistem berbasis internet mulai jamak diaplikasikan[4].

Terlepas dari ‘milenia-effects’ yang diulas di atas, belum ada yang secara spesifik mengamati pengaruh kehadiran milenia terhadap lanskap perkotaan di Indonesia, bahkan oleh perencana kota sekalipun. Tulisan ini mencoba menjadi remedi bagi keluputan tersebut dengan membuka isu ini dalam ruang diskusi publik keplanologian.

Survei Milenia di Jabodetabek[5]

Seseorang mungkin memandang tulisan ini datang sedikit terlambat, karena era puncak generasi milenia sesungguhnya akan segera (atau telah?) berlalu. Akan tetapi, kami berargumen, tulisan ini salah satu dari yang pertama membuka diskusi tentang efek generasi milenia dan generasi Z dalam diskursus perkotaan di Indonesia. Karena keterbatasan tempat, kami menajamkan pembahasan hanya untuk kawasan perkotaan Jabodetabek.

Dengan menggunakan data survei daring dan statistik, tulisan ini mencoba untuk memetakan distribusi generasi milenia dan generasi Z di kawasan perkotaan, menggali motivasi yang mendasari kenapa memilih kawasan perkotaan tertentu sebagai tempat tinggal, dan menelusuri pola mobilitas antargenerasi di kawasan perkotaan Jabodetabek. Untuk kemudahan pengamatan, kami membedakan kawasan perkotaan berdasarkan kawasan inti kota (core)[6], kawasan suburban[7], dan kawasan exurban[8].

Hasilnya cukup mengejutkan. Per tahun 2016, secara proporsi generasi milenia memang cukup dominan menempati inti kota, dengan komposisi 29%. Fakta ini sejalan dengan klaim bahwa milenia adalah generasi perkotaan. Namun klaim tersebut tidaklah sefenomenal yang didengungkan. Faktanya, generasi X ternyata sedikit ‘lebih kota’ (30%) ketika mereka seusia milenia sekarang ini.

Dimana Milenial berada

Jika dibandingkan dengan generasi Z, milenia memang jauh ‘lebih kota’ (19%) pada saat mereka masih sebaya dengan generasi Z sekarang ini (16%). Artinya, generasi Z sepertinya tidak seantusias pendahulunya untuk menghuni inti kota.

Menarik untuk diperhatikan bahwa generasi milenia relatif lebih dominan di kawasan exurban daripada suburban. Jika milenia adalah generasi kota, kenapa demikian kejadiannya? Pertanyaan ini memotivasi kami untuk melihat alasan generasi milenia dan generasi Z kenapa mereka memilih berada dimana mereka berada saat ini.

Survei kami menemukan dua alasan kuat kenapa milenia lebih memilih tinggal di kawasan exurban yang ‘kurang kota’ ketimbang kawasan suburban yang ‘lebih kota’: amenitas dan melanjutkan sekolah. Sementara itu, alasan mencolok kenapa milenia memilih tinggal di inti kota adalah pekerjaan dan kenyamanan tinggal (convenience).

Generasi Z punya motivasi berbeda. Secara umum, keberadaan keluarga masih cukup kuat mempengaruhi pilihan lokasi tempat tinggal generasi Z. Temuan ini dapat diinterpretasikan bahwa generasi Z cenderung masih tinggal bersama dengan orang tuanya yang notabene adalah generasi X, atau generasi yang lebih tua lagi.

Dilihat dari pola pergerakan masing-masing generasi, terlihat memang generasi milenia dan generasi Z cenderung bergerak ke lokasi yang ‘lebih kota’. Sementara itu generasi X sudah menunjukkan pola yang lebih berimbang. Hal ini dapat dimengerti karena sebagian besar generasi X sepertinya sudah berorientasi ke kawasan yang lebih ‘kurang kota’. Ketika di usia 20an dan 30an, milenia dan generasi Z mungkin menyukai kepadatan pusat kota dengan segala antusiasme yang ditawarkannya. Di usia 40an, yang direpresentasikan oleh generasi X, preferensi itu sepertinya berubah. Selain alasan pekerjaan, mereka mengaku ditarik keluar oleh alasan keterjangkauan harga.

Pergerakan generasi

Kesimpulannya, survei ini mendukung klaim bahwa milenia adalah generasi yang menyukai habitat perkotaan yang padat. Namun demikian, generasi X pada usia muda mereka ternyata relatif ‘lebih kota’ dibandingkan milenia sekarang ini. Dan lagi, ada indikasi bahwa generasi Z lebih ‘kurang kota’ dari milenia, tidak hanya dalam hal pilihan tempat tinggal tetapi juga dalam pola mobilitasnya. Artinya, ada kemungkinan inti kota akan kekurangan ‘semangat muda’ dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini cukup membuatnya menjadi sebuah isu yang harus dipikirkan oleh manajer kota sejak sekarang ini[.]

 

*Penulis adalah pemerhati perencanaan dan pembangunan, founder rumahpangripta.org

 

[1] The Rise of the Creative Class (2002).

[2] Gabungan dari kata ‘Phone’ dan ‘Snubber’.

[3] https://www.planetizen.com/node/78847.

[4] https://hal.inria.fr/hal-00769635/document.

[5] Survei dilakukan secara daring dan diisi oleh 170 responden. Dengan kalkulator ukuran sampel dan jumlah penduduk Jabodetabek sebanyak 32,3 juta (2016), jumlah responden menghasilkan 99% confidence level. Kuesioner dapat diakses di sini.

[6] Mencakup kota Jakarta keseluruhan.

[7] Mencakup kota Bekasi, kota Depok, kota Tangerang, kota Tangerang Selatan.

[8] Mencakup kabupaten Bekasi, kabupaten Bogor, kota Bogor, dan kabupaten Tangerang.

 

Featured imaged by marketingtochina.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s