Rahasia sekolah ke luar negeri yang tidak akan anda temukan di buku manapun

 

profile2-e1509966287745.png

Oleh Rizal, K.

 

Banyak sekali kaum muda yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. Namun, sering kali mereka kesulitan untuk, bahkan tidak tahu cara mewujudkannya. Umumnya, atau setidaknya dari beberapa pembicaraan yang saya rangkum, ada beberapa faktor yang menjadi penghalang. Faktor-faktor tersebut biasanya bersifat tacit, sehingga jarang atau tidak dibahas di buku panduan mencari beasiswa manapun. Tulisan ini akan mengulas beberapa diantaranya, seperti mencari rekomendasi, wawancara, menyusun proposal riset, dan menemukan supervisor yang tepat.

Abaikan soal bangga, tulisan ini bersumber dari pengalaman pribadi bagaimana melalui berbagai rintangan tersebut. Pengalaman ini mungkin bukan terbaik, dan belum tentu juga sesuai dengan situasi masing-masing pembaca. Namun saya yakin ada pembelajaran di dalamnya, yang sayang jika tidak dibagi.

1. Menyusun proposal

Ini adalah ide riset yang kita jual kepada calon supervisor. Biasanya disediakan panduan umum di situs universitas bagaimana format dan batasan isi dari proposal. Saran saya adalah ikuti sekonsekuen mungkin!

Penyusunan proposal riset adalah proses yang tricky. Banyak hal yang ingin kita jelaskan kepada calon pembaca, dalam hal ini calon supervisor. Namun, supervisor adalah seorang yang super sibuk. Jadi, susunlah proposal yang ringkas namun cukup jelas mengartikulasikan ide kita.

Supervisor juga bisa jadi, namun tidak selalu, punya kepentingan terhadap proposal riset yang kita ajukan. Membuatnya panjang dan spesifik dapat menutup kepentingannya di riset yang kita ajukan. Dengan sendirinya itu juga menutup peluang kita menjadi murid bimbingannya. Sebaliknya, membuat proposal yang terlalu general membuat calon supervisor sulit menangkap apa yang kita mau.

Menjual sesuatu ke seseorang yang membutuhkan biasanya lebih laku ketimbang yang tidak membutuhkan. Begitu juga halnya dengan ide. Ketertarikan kita terhadap sebuah ide riset atau disiplin tertentu adalah satu hal. Namun menjual ide tersebut ke orang yang tepat adalah hal yang berbeda. Ingat, supervisor juga punya ketertarikan riset sendiri. Saya mendengar beberapa celoteh dosen di kampus saya yang menurut saya rada aneh, tetapi saya pandang perlu diungkapkan di sini. Mereka mengatakan bahwa banyak proposal riset yang mereka terima secara substansi tidak mereka kuasai. Justru si penyusun proposal jauh lebih mengerti tentang topik tersebut ketimbang mereka. Ini memaksa mereka untuk menolak proposal tersebut. Penjelasannya cuma ada dua: proposalnya yang kurang menjual, atau kita menjual ke orang yang salah.

2. Berburu supervisor

Ini adalah bagian yang paling menantang. Saya menemukan banyak kolega yang terhambat melanjutkan studi karena faktor ini. Biasanya, calon mahasiswa ingin mempunyai supervisor seorang akademisi yang mempunyai reputasi besar atau influencer di bidangnya. Tentunya akan membanggakan jika kita berhasil menjadi murid seorang peraih nobel. Namun, para begawan akademik seperti mereka biasanya banyak yang memperebutkan, dan mempunyai standar yang kelewat tinggi. Siapkah anda bersaing dengan para pemburu supervisor lainnya dari berbagai belahan dunia untuk merebut ‘hati’ si begawan? Jika kurang yakin, jangan buang waktu anda di sini! Saya pernah mencobanya dua kali. Satu tidak menggubris surel saya, yang satu lagi meresponnya setelah dua bulan lebih hanya untuk menyampaikan penolakan.

Profesor senior juga biasanya menjadi rebutan. Supervisor saya punya sembilan murid, padahal kebijakan universitas dibatasi hanya 6-7 murid. Itu pun masih banyak yang calon murid yang memintanya untuk menjadi supervisor. Jawaban pasti sudah jelas, yaitu ditolak. Poinnya adalah, jangan sia-siakan waktu anda berburu sesuatu yang tidak akan anda dapatkan. Solusinya adalah coba selidiki apakah calon supervisor masih lowong atau tidak. Biasanya informasi ini tersedia di situs universitas. Jika calon supervisor sudah memiliki 6-7 murid yang masih aktif, sebaiknya coba mencari alternatif. Sila kirim email ke dia untuk sekedar menjajagi. Tapi jangan terjebak terlalu lama menunggu balasan yang mungkin bisa seminggu atau sebulan baru dibalas.

Alternatif calon supervisor yang lebih junior mungkin lebih menjanjikan. Mereka biasanya justru mencari-cari calon murid untuk dibimbing, apalagi baru punya murid bimbingan 1-2 murid. Jika anda adalah pendaftar pertama untuk menjadi calon muridnya, kemungkinan besar anda terima. Membimbing mahasiswa merupakan kredit bagi karir akademik mereka. Singkatnya, aplikasi anda adalah peluang karir buat mereka. Namun demikian, please jangan ‘ge-er’ duluan. Buat para pembimbing yang membaca ini, pasti mereka tersenyum malu. Kekurangan dari strategi ini adalah anda akan mendapatkan supervisor yang masih muda dan belum mempunyai reputasi besar di dunia akademik. Kekurangan yang tidak terlalu mengganggu bagi saya pribadi.

Cara lain mencari calon supervisor adalah melalui jalur struktural. Saya sarankan ini dipakai sebagai the last resort. Anda harus menghubungi ketua jurusan atau dekan, dan mereka akan mencarikan calon supervisor yang sesuai, masih lowong, dan tentunya bersedia membimbing anda. Ada beberapa kolega saya yang menempuh cara ini tanpa sengaja. Awalnya mereka mengincar si profesor yang kebetulan merangkap jabatan struktural sebagai ketua departemen atau dekan. Sebagai dekan, dia menugaskan salah satu staf pengajar untuk membimbing anda. Pendekatan ini sedikit agak top-down, dan mungkin menimbulkan isu relasi supervisor-murid yang kurang dekat di kemudian hari.

3. Mencari rekomendasi

Umumnya pihak universitas meminta rekomendasi tertulis setidaknya dari dua orang. Biasanya salah satunya harus dari akademisi. Pastikan anda meminta rekomendasi ke orang yang tepat. Pemberi rekomendasi biasanya adalah seorang profesional yang menjaga reputasi mereka. Jika mereka tidak mengenal anda dengan baik, besar kemungkinan mereka akan mengatakanya begitu.

Saya mencoba meminta rekomendasi dari tiga orang dosen yang relevan dengan topik proposal. Dua menolak dengan halus, dan satu yang bersedia adalah yang secara personal kenal cukup baik dengan saya.

4. Wawancara

Salah satu proses standar seleksi mahasiswa doktoral adalah wawancara dengan panel tim seleksi. Tim ini biasanya terdiri dari 3-5 orang yang mewakili universitas, jurusan dan calon supervisor. Pada kenyataannya, dari dua wawancara melalui videocall, saya hanya berhadapan dengan dua pewawancara saja.

Pertanyaannya yang diajukan umumnya terkait dengan proposal riset kita. Ada juga beberapa pertanyaan terkait kesiapan pendanaan dan kondisi keluarga. Perlu diingat bahwa wawancara ini merupakan kontak personal pertama dengan calon supervisor. Ini adalah kesempatan kita untuk mendemonstrasikan kemampuan bahasa, sekaligus kesempatan bagi calon supervisor untuk menilai kemampuan verbal kita. Selama proses wawancara, saya mendapat kesan bahwa wawancara lebih untuk menilai kemampuan verbal ini, dengan proposal riset hanya sebagai bahan obrolan. Kita tidak akan pernah sampai ke tahap wawancara jika sejak awal calon supervisor tidak tertarik dengan ide riset kita.

Setiap orang punya pengalaman berbeda. Kenapa tidak berbagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s