Ketimpangan Dunia yang Terus Meningkat: Kasus Sepak Bola Dunia

Oleh: Rizal, K.

‘Ketimpangan’ itu kata yang ‘lebay’ menurut saya, dan sering kali dipergunakan sesukanya. Jika ada sedikit kontras, dianggap sudah terjadi ketimpangan. Padahal, dunia tanpa ketimpangan itu adalah konsep yang utopis. Artinya, dalam dunia yang tidak ideal ini, ketimpangan itu sebuah keniscayaan. Isunya adalah, seberapa lebar ketimpangan yang masih dapat diterima, atau seberapa jauh pemerataan yang mungkin dicapai. Ukuran ketimpangan menjadi sentral di sini.

Pada kenyataannya, ukuran ketimpangan sudah banyak tersedia, seperti indeks Gini, indeks Williamson, indeks Theil, dsb. Ukuran ketimpangan lazimnya digunakan dalam disiplin ekonomi, baik itu untuk mengukur ketimpangan antarwilayah maupun ketimpangan pendapatan individu. Namun demikian, aplikasi ukuran ketimpangan ternyata cukup luas dipergunakan di berbagai disiplin lainnya, tidak terkecuali di olahraga sepak bola.

Saat tulisan ini dibuat, perlehatan Piala Dunia 2018 sedang berlangsung di Rusia, dan masih pada tahap penyisihan grup. Menariknya, hasil putaran pertama di penyisihan grup banyak memberikan kejutan dan sering kali di luar prediksi. Beberapa tim unggulan seperti Argentina dan Brazil ditahan imbang oleh tim yang bukan unggulan seperti Islandia. Bahkan juara bertahan Jerman mengalami kekalahan atas Meksiko, yang kelasnya agak jauh di bawah sang juara bertahan.

Semakin ketatnya kompetisi Piala Dunia 2018 memunculkan spekulasi bahwa kekuatan sepak bola dunia sudah semakin merata. Benarkah begitu? Tulisan kali ini mencoba menginvestigasi spekulasi tersebut secara lebih serius. Tujuannya untuk melihat apakah kekuatan sepak bola dunia memang semakin merata, atau justru semakin timpang. Untuk melakukan itu, kami menggunakan data peringkat sepak bola yang dipublikasi secara regular oleh badan tertinggi sepak bola dunia, FIFA[1]. Data ini mencakup 200 lebih negara yang dinilai dan diperingkatkan berdasarkan hasil dari setiap pertandingan tim nasional.

Kami mengkalkulasi koefisien variasi untuk melihat dispersi dari nilai total sepak bola setiap negara. Koefisien variasi adalah sebuah metrik yang mengukur sebaran (dispersion) data terhadap nilai reratanya (mean).  Sederhananya, semakin besar nilai koefisien variasi maka semakin jauh sebaran data dari nilai reratanya, yang mengindikasikan semakin lebarnya ketimpangan. Untuk menangkap tren, kami menghitung koefisien variasi hingga 12 tahun ke belakang, dan membaginya ke dalam tiga kelompok kategori, yaitu koefisien variasi untuk kelompok tim nasional yang masuk peringkat 50 besar, 100 besar, dan seluruh tim nasional (populasi). Hasilnya ditampilkan sebagaimana berikut.

Piala Dunia 2018Sumber: hasil analisis data FIFA

Berbeda dari spekulasi yang berkembang, kami justru melihat pola kekuatan sepak bola dunia yang semakin divergen, setidaknya untuk delapan tahun belakangan ini. Bahkan di kelompok 50 besar dunia, kekuatan sepok bola menunjukkan pola yang semakin timpang, meskipun kenaikannya agak sedikit landai dibandingkan dengan kelompok 100 besar dan populasi (lihat garis tren putus-putus). Perlu dicatat bahwa sebagian besar peserta Piala Dunia 2018 masuk dalam kelompok 50 besar. Artinya, ada perbedaan kekuatan yang lebih menonjol pada ajang Piala Dunia kali ini dibandingkan dengan sebelumnya.

Apakah Piala Dunia kali ini akan didominasi oleh tim ‘superpower’ yang selalu bercokol di puncak tabel peringkat. Untuk mencari tahu jawabannya, kami menghitung korelasi data nilai tim nasional tahun 2018 dengan tahun-tahun sebelumnya. Seperti yang diduga, hasilnya menunjukkan korelasi yang sangat tinggi, berkisar antara 0.85-0.99. Angka korelasi yang tinggi mengisyaratkan bahwa struktur kekuatan sepak bola dunia tidak banyak berubah. Dengan kata lain, tim kuat akan tetap kuat, sementara tim lemah akan tetap lemah, setidaknya dalam periode delapan tahun terakhir. Perolehan nilai setiap tim nasional bisa jadi berubah setiap tahun, namun struktur kekuatan sepak bola dunia adalah tetap.

Struktur Kekuatan Sepak Bola yang Cenderung Tidak Berubah (Korelasi)

2017 2016 2015 2014 2013 2012 2011
2018 0.99042 0.94609 0.90682 0.89778 0.88296 0.83317 0.84910

Sumber: hasil analisis data FIFA

Sebagai penutup, kami menyerahkan kesimpulan analisis ketimpangan kekuatan sepak bola dunia di atas kepada pembaca masing-masing. Seandainya kekuatan sepak bola dunia lebih merata, setidaknya di kelompok 50 besar, mungkin kompetisi sepak bola akan menjadi jauh lebih menarik. Bagaimana mengubah struktur kekuatan sepak bola dunia yang timpang adalah pertanyaan yang menarik, namun di luar lingkup tulisan ini. Semoga analisis ini bisa menambah keseruan Anda ketika menyaksikan Piala Dunia 2018[.]

[1] http://en.fifaranking.net/ranking/index.php?d=2018-06-07

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s