Transformasi Kota Kecil di Jawa

Bayu Wirawan*

Pada tulisan sebelumnya, penulis mencoba mendeskripsikan sejauh apa fenomena (mitos) pulau-kota terjadi di Pulau Jawa. Pada kali ini, penulis ingin membawa dalam skala yang lebih detail tentang transformasi dari kota-kota kecil yang terlibat dalam mitos tersebut.

Hal pertama yang perlu disepakati adalah bagaimana mendefinisikan kota kecil.  Penulis menyadari bahwa apa itu “kota” akan memiliki berbagai definisi, sementara “kecil” sendiri juga memiliki ragam parameter.  Untuk memudahkan, disini definisi “kota” dibatasi berdasarkan status jurisdiksi administratif yaitu daerah otonom berbentuk Kota, sementara batasan “kecil” adalah dengan menggunakan jumlah penduduk pada rentang 100 s/d 300 ribu jiwa per-kota.

Berdasarkan definisi di atas, pada tahun 2010 teridentifikasi terdapat 14 kota kecil di Pulau Jawa yaitu Sukabumi, Cirebon, Pekalongan, Tegal, Banjar, Salatiga, Magelang, Kediri, Probolinggo, Pasuruan, Madiun, Blitar, Batu dan Mojokerto.

Picture1

Karakteristik yang paling menonjol dari kota-kota kecil di Jawa adalah terkait status berdiri dan luasan wilayah administrasi. Kota-kota tersebut telah berdiri sebagai wilayah administrasi sejak Indonesia merdeka, bahkan penelusuran peta-peta pra kemerdekaan juga memperlihatkan bahwa kota-kota kecil tersebut telah menjadi pusat kegiatan sejak abad ke-18.  Terkait luas wilayah administrasi, terdapat kemiripan tipologi yaitu luasannya yang berada di kisaran dan/atau di bawah 50 km2.  Hanya Kota Batu dan Banjar yang luasannya lebih dari 100 km2. Luasan yang besar ini dimungkinkan karena kedua kota ini merupakan wilayah administrasi yang pembentukannya relatif baru, yaitu pada era awal tahun 2000.

Kota kecil di Jawa secara demografis mengalami pertambahan penduduk yang berbeda-beda.  Apabila dikomparasikan berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1961, 1980, 1990, 2000, dan 2010 serta hasil proyeksi di tahun 2015 terlihat adanya perbedaan karakter pertumbuhan penduduk kota kecil.

Picture2Hasil sensus penduduk tahun 1961 memperlihatkan hanya empat kota yang sudah masuk dalam definisi kota kecil yaitu Cirebon, Pekalongan, Kediri dan Madiun. Sementara Kota lainnya bahkan belum menjadi kota kecil.  Lebih dari setengah abad kemudian, terkecuali Kota Magelang, kota-kota tersebut mengalami pertumbuhan secara positif.  Bahkan pada tahun 2015, Cirebon dan Sukabumi bahkan telah berkembang menjadi kota menengah dan Pekalongan diperkirakan akan segera mengikuti.

Secara keseluruhan terjadi perlambatan pertumbuhan penduduk pada kota-kota kecil. Bahkan pada beberapa kasus, setelah melalui lompatan pertumbuhan penduduk, terdapat beberapa kota yang mengalami tingkat pertumbuhan penduduk yang kecil yaitu Tegal, Magelang, Madiun, Blitar, Mojokerto.  Perlambatan pertumbuhan ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  • Luas wilayah administrasi kota-kota kecil yang di bawah 50 km2 hektar berdampak secara signifikan dalam mengakomodasi ruang terbangun yang dapat menampung penduduk kota;
  • Hasil analisis tutupan lahan tahun 2000 dan 2010 berdasarkan data landsat memperlihatkan bahwa pada hampir seluruh kota telah menggunakan lebih dari setengah ruang yang ada untuk kegiatan terbangun. Bahkan pada kasus Kota Cirebon Magelang, Madiun, dan Salatiga telah menggunakan kurang lebih 2/3 wilayahnya untuk kawasan terbangun;
  • Adanya amanat dan tuntutan 30% dari luas kota untuk Ruang Terbuka Hijau turut membatasi ruang pembangunan di kota-kota kecil;
  • Pada sisi lain penetapan kawasan pertanian lahan basah pada RTRW sebagai lahan yang harus dikonservasi juga turut membatasi perkembangan kegiatan terbangun.  Hal ini terjadi  di Blitar, Probolinggo, Pasuruan, Sukabumi;

Picture3Mengamati dari situasi ini, kemudian sangat tidak heran kota-kota konurbasi kawasan perkotaan terjadi di kota-kota kecil dengan daerah sekitarnya.  Konurbasi ini dapat terjadi dikarenakan berkembangnya kota besar/metropolitan yang berdampingan dengan kota kecil (sebagaimana yang terjadi di Kota Mojokerto dengan Metropolitan Gerbangkertosusilo dan Kota Batu dengan Metropolitan Malang Raya) sehingga mendorong kota kecil bergabung dengan metropolitan tersebut.

Pada sisi lain, konurbasi kota kecil terjadi dengan merubah kawasan-kawasan perdesaan di sekeliling kota-kota kecil (yang berada dalam wilayah jurisdiksi kabupaten) menjadi kawasan perkotaan.  Data potensi desa tahun 2000 menunjukkan bahwa terdapat 351 desa-kota yang terdapat pada kota-kota kecil (sebagai kota inti) serta 391 desa-kota yang berada di sekitar kota-kota kecil (sebagai perluasan kawasan perkotaan).  Pada tahun 2010 terjadi peningkatan jumlah desa-kota perluasan (yang berada di wilayah kabupaten) menjadi 672 desa-kota atau bertambah hampir dua kali lipat.  Perluasan kawasan perkotaan dalam skala jumlah desa sangat terlihat di Kota Cirebon, Tegal, Pekalongan, Kediri, Sukabumi, Magelang, Blitar, Madiun dan Pasuruan.  Hal ini menjadi juga jawaban atas terjadinya stagnasi pertambahan jumlah penduduk di kota inti, dimana ternyata kegiatan perkotaan ternyata meluas hingga kawasan-kawasan yang berada di sekitar kota-kota kecil.

Picture4Adanya perluasan kawasan perkotaan yang berpusat di kota kecil mau tidak mau harus merubah persepsi terkait kota kecil di Pulau Jawa.  Apabila hanya berdasarkan definisi jumlah penduduk maka terjadi transformasi dari status kota kecil di Pulau Jawa.  Berbasis data jumlah penduduk dalam wilayah administrasi desa di tahun 2010, perluasan kawasan perkotaan untuk kota kecil menyebabkan Kota Cirebon dan Tegal masuk dalam definisi kawasan perkotaan metropolitan (kawasan perkotaan dengan penduduk sama dengan dan/atau lebih dari satu juta jiwa).

Perluasan desa-kota juga menyebabkan Kota Sukabumi, Pekalongan dan Kediri menjadi kota besar (diatas 500 ribu penduduk), serta kota Magelang dan Kediri menjadi kota menengah (300-500 ribu penduduk).  Kota Madiun, Probolinggo dan Pasuruan masih merupakan kota kecil, hanya saja dengan jumlan penduduk yang sudah lebih dari 250 ribu, diperkirakan kota-kota tersebut akan terus berkembang menjadi kota menengah di masa mendatang.  Hanya Kota Banjar dan Salatiga yang masih betul-betul merupakan kota kecil dengan penduduk di kisaran 200 ribu jiwa.

Penulis menyadari bahwa terdapat simplifikasi terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam tulisan ini.  Tetapi setidaknya tulisan ini dapat membuka mata bahwa kota-kota kecil di Jawa ternyata telah berkembang dengan sangat pesat melebihi batasan jurisdiksi administrasi.  Adanya pembangunan jaringan jalan tol Trans Jawa yang akan menghubungkan hampir seluruh kota-kota kecil tersebut dimungkinkan dapat semakin mendorong percepatan perkembangan kota-kota kecil menjadi kawasan perkotaan besar.

Pertanyaan mendasar adalah apakah perencana dan pengambil kebijakan pengembangan perkotaan di kota-kota kecil tersebut telah menyadari tantangan ini?

*Penulis adalah peneliti di Urban and Regional Development Institut (URDI) sekaligus salah satu admin blog rumahpangripta.org

 

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s