Kota Informal

oleh Dea Paramita* dan Khairul Rizal**

Sektor informal perkotaan selalu mewarnai diskursus akademik dan kebijakan perkotaan di Indonesia. Namun demikian, sektor ini tidak banyak mendapat rekognisi dalam dokumen resmi kebijakan publik, katakanlah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kawasan Perkotaan. Tulisan ini mencoba mengeksplorasi keberadaan dan magnitude sektor informal di kota-kota Indonesia.

Bicara soal sektor informal perkotaan memang agak kompleks. Dari aspek estetika lanskap perkotaan, sektor ini sering dituding sebagai penyebab kekumuhan kota. Pelaku sektor ini mudah sekali ditemukan di pusat-pusat keramaian seperti terminal/stasiun dan pusat perbelanjaan. Mereka bahkan menguasai ruang-ruang publik seperti ruang terbuka hijau, trotoar jalan, hingga ke badan jalan. Di beberapa kasus, mereka bahkan masuk ke ruang yang lebih private, seperti halaman perkantoran/rumah.

Di sisi lain, sektor informal selalu digaungkan sebagai penyokong ekonomi perkotaan. Sektor ini dipandang sebagai penyedia lapangan kerja alternatif sehingga bisa menekan pengangguran di perkotaan. Dan lagi, kontribusi sektor ini ke ekonomi perkotaan konon tidak bisa diabaikan. Benarkah bagitu faktanya? Tulisan ini mencoba mengeksplorasi keberadaan sektor informal ini dan magnitudenya di kota-kota Indonesia melalui tampilan emprik.

Untuk mengekplorasi sektor informal, kami menggunakan data hasil sensus ekonomi 2016. Artinya, data yang digunakan adalah populasi, bukan sampel. Kami mendefinisikan sektor informal sebagai sektor yang tidak mempunyai status badan hukum yang, menurut definisi BPS, otomatis dikategorikan sebagai usaha skala mikro dan kecil. Selanjutnya, kami memfokuskan pada usha mikro, yang didefinisikan sebagai unit usaha dengan omset lebih kecil dari 300 juta dan/atau jumlah pekerja antara 1-4 orang saja. Ekstraksi informasi mengenai sektor informal di kota-kota Indonesia yang ditarik hasil sensus tersebut ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Sektor informal dan usaha mikro di kota-kota Indonesia

Sektor informalCatatan: Garis merah adalah nilai rata-rata. Sumber: Sensus Ekonomi 2016.

 

Mari kita ulas satu per satu secara ringkas. Secara umum, rata-rata jumlah usaha informal di kota-kota adalah 89.3% dari total unit usaha yang ada di perkotaan. Persentase tertinggi  ada di kota Magelang (95.4%), disusul oleh kota Pasuruan (94.7%), Pekalongan, Tasikmalaya, dan Cimahi (94.4%). Sebaliknya, persentase terendah adalah kota Tual (72.5%), diikuti oleh kota Gunungsitoli dan Ambon (79.6%). Menarik untuk dicermati lebih lanjut, kota-kota tersebut dikategorikan kota sedang dengan 100-500 ribu penduduk, kecuali Tasikmalaya dan Cimahi yang masuk kategori kota besar (>500 ribu). Kami akan mengulas ini setelah beberapa paragraf berikut.

Berdasarkan skala omsetnya, rata-rata 87,0% unit usaha di kota-kota Indonesia adalah usaha mikro (omset < 300 juta). Melihat angkanya yang mirip dengan angka sektor informal, sepertinya usaha mikro ini cenderung memiliki status informal atau tidak berbadan hukum. Kota Tidore Kepulauan (91,9%), Padangsidimpuan (91.9%) dan Sawah Lunto (93,2%) adalah kota-kota yang dipenuhi dengan usaha mikro terbanyak. Adapun kota dengan usaha mikro paling sedikit (secara porsi) adalah kota Jakarta Pusat (73,4%) dan Jakarta Selatan (78,0%). Tidak heran, bukan?

Berdasarkan skala pekerjanya, jumlah pekerja usaha mikro masih mendominasi lapangan kerja di kota-kota Indonesia, yaitu rata-rata 52,5% dari total pekerja kota. Kota dengan jumlah pekerja skala mikro terbesar adalah kota Tanjung Balai (75,9%), Subulussalam (74,4%), Tidore Kepulauan (72,2%) dan Sabang (71,1%). Adapun kota dengan pekerja usaha mikro terkecil adalah kota Kendari (4,9%), Jakarta Pusat (25,3%), Batam (25,6%) dan Tangerang (26,8%).

Jika dari sisi jumlah unit usaha dan penyerapan tenaga kerja usaha informal  cukup dapat diandalkan, lalu bagaiman kontribusi sektor ini terhadap perekonomian kota? Sayangnya, data sensus tidak menyediakan informasi ini. Oleh karenanya kami melakukan estimasi dengan menggunakan asumsi nilai tengah omset tahunan. Hasilnya, secara rata-rata usaha informal berkontribusi hanya 35% ke perekonomian kota. Kota Banjar dan Bima adalah dua kota teratas dimana mayoritas perekonomiannya ditopang oleh sektor informal. Kontras dengan itu, kota Jakarta Pusat, Bontang, Kediri dan Jakarta Selatan adalah sedikit dari banyak kota yang peran sektor informalnya sangat kecil dalam perekonomian kota. Menarik!

Kembali ke persoalan ukuran kota yang telah di singgung beberapa paragraf sebelum ini, sejauh mana relasi antara ukuran kota dengan jumlah sektor informal di sebuah kota. Kami memetakan relasi ini dalam sebuah grafik (lihat Gambar 2). Seperti yang diduga, grafik tersebut menunjukan hubungan yang lumayan linear, yaitu semakin besar ukuran kota semakin banyak jumlah sektor informalnya. Menariknya, semakin besar ukuran kota dispersinya juga terlihat semakin lebar. Beberapa kota besar, seperti kota Batam, Tangerang, Depok, Bekasi dan Tangerang Selatan berhasil ‘menekan’ keberadaan sektor informal di wilayah mereka. Jika kami boleh berspekulasi, mungkin ini didorong oleh kuatnya sektor formal yang dimiliki kota-kota tersebut. Sebaliknya, kota metropolitan seperti Surabaya, Bandung dan Jakarta Barat sepertinya kewalahan membendung serbuan usaha informal di wilayahnya. Fenomena ini sangat menarik untuk distudi lebih lanjut.

Gambar 2 Relasi usaha informal dan ukuran kota

kota-informalSumber: analisis penulis

Untuk menuntaskan rasa penasaran, kami melakukan regresi OLS sederhana untuk melihat secara lebih sistematis relasi antara ukuran kota dengan jumlah usaha informal. Koefisien ukuran kota menunjukan tanda positif dengan nilai 0.09 dan secara statistik signifikan. Artinya, setiap penambahan seribu jumlah penduduk akan muncul kurang lebih sembilan puluh usaha informal baru di kota tersebut.

Kesimpulannya, jika estimasi ini konsisten ke depannya, maka selamat datang kota ‘informalitan’!

 

 

* Konsultan dan pengamat perkotaan
** Founder dan admin rumahpangripta.org

Featured image dari beritagar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s