Mobil atau Motor, Siapakah Penyebab Kemacetan di Jakarta?

Oleh: Rizal, K.*

Jakarta semakin macet bukanlah cerita baru. Keseharian berjuang melalui jalanan Jakarta membuat saya berpikir bahwa jumlah sepeda motor adalah penyebabnya. Bahwa jumlah sepeda motor jauh lebih banyak dari mobil pribadi, itu sudah jelas. Tetapi apakah sepeda motor lebih menyebabkan macet daripada mobil pribadi, itu yang belum terjawab.

Untuk membuktikan siapa penyebab kemacetan Jakarta, saya mencoba menghitung ekuvalensi volume kendaraan.  Perhitungan ini mengacu pada satuan mobil penumpang (smp) yang diperoleh dari Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997. Menurut manual tersebut, volumetric  satu sepeda motor setara dengan 0.25 mobil pribadi untuk jalan satu arah, dan setara 0.4 mobil pribadi untuk jalan dua arah. Tulisan ini akan menggunakan nilai tengah dari keduanya, yaitu 0.325.

Pada tahun 2015, tercatat ada 13,31 juta sepeda motor dan 3,53 juta mobil pribadi di Jakarta[1]. Setelah disetarakan dengan indeks 0.325, maka jumlah sepeda motor yang ada di Jakarta itu setara dengan 4,33 juta mobil pribadi. Artinya, secara volume, sepeda motor memang jauh lebih besar dibandingkan dengan mobil pribadi.

Akan tetapi, hitungan di atas terkesan kurang akurat, karena hanya berdasarkan jumlah kendaraan yang tercatat saja. Bisa jadi banyak sepeda motor yang diparkir di rumah dan justru mobil pribadi yang berkeliaran di jalanan.  Hal yang perlu diperhatikan juga adalah di Kota Jakarta sangat mungkin terdapat motor dan/atau mobil yang berasal dari luar Jakarta sehingga tidak tercatat oleh BPS Jakarta.

Untungnya, pada tahun yang sama tersedia data pergerakan di Jakarta hasil survei komuter yang dilakukan BPS[2]. Berdasarkan data tersebut, terdapat 23,42 juta pergerakan setiap harinya di Jakarta, dimana diperkirakan 17,57 juta (75%) menggunakan sepeda motor dan 5,39 juta (23%) menggunakan mobil pribadi. Sisanya adalah pergerakan dengan angkutan umum. Dengan menggunakan indeks yang sama, maka pergerakan dengan menggunakan sepeda motor setara dengan 5,71 juta pergerakan mobil pribadi. Singkatnya, sepeda motor menggunakan jalanan Jakarta enam persen lebih banyak dibandingkan dengan mobil pribadi.

Kami diperingatkan agar hati-hati membaca data pergerakan tersebut. Jumlah pergerakan dengan menggunakan sepeda motor yang banyak tersebut bisa jadi dilakukan secara bersamaan, atau boncengan. Demikian halnya dengan mobil pribadi, bisa jadi dilakukan berdua hingga berlima, tergantung ukuran dan jenis mobilnya.

Kami melakukan kalkulasi ulang, kali ini dengan menggunakan dua asumsi. Pertama, pergerakan dengan menggunakan sepeda motor diasumsikan selalu berdua (boncengan). Ini asumsi maksimum! Artinya, volume sepeda motor yang berseliweran di jalanan Jakarta tidak bisa lebih kecil lagi dari angka yang dihasilkan dari asumsi ini.

Kedua, pergerakan dengan mobil penumpang diasumsikan berdua juga. Asumsi ini cukup moderat dan realistis mengingat terdapat 5.4 juta pergerakan dengan mobil pribadi sementara jumlah mobil pribadi yang tercatat hanya 3.5 juta unit. Rasionya mendekati 1/2. Dan lagi, mengasumsikan jumlah penumpang mobil pribadi lebih dari dua akan membuat volumenya akan semakin kecil. Sementara asumsi hanya satu penumpang terkesan kurang realistis mengingat jumlah mobil yang tercatat hanya setengah dari pergerakan yang ada.

Hasil kalkulasi menunjukkan volume smp motor sedikit lebih tinggi dibanding mobil. Volume mobil pribadi sekitar 2.69 juta smp per harinya (49 persen), sementara volume sepeda motor mencapai 2.85 juta smp setiap harinya (51 persen) di Jakarta. Dengan kata lain, sepeda motor menggunakan jalanan Jakarta lebih besar dibandingkan mobil pribadi setiap harinya.  Perbandingan motor dan mobil dalam menggunakan jalan adalah 2.85/2.69=1.06 artinya sepeda motor membutuhkan enam persen volume jalan lebih banyak dibandingkan mobil pribadi. Kalkulasi ini menunjukkan bahwa  sepeda motor lebih menyebabkan macet Jakarta daripada mobil pribadi,

Temuan fakta di atas sesuai dengan dugaan kami sebelumnya. Akan tetapi, menyimpulkan bahwa motor lebih menyebabkan macet dari volumenya saja terkesan terlalu menyederhanakan. Dengan menggunakan 2.85 juta smp per hari, sepeda motor mampu menampung 17.57 juta pergerakan. Sementara, volume mobil pribadi sebesar 2.69  juta smp hanya untuk menampung 5.39 juta pergerakan. Jika kita standarisasikan, berapakah volume mobil pribadi jika melakukan pergerakan sebanyak sepeda motor? Jawabannya adalah 8.78 juta smp, atau lebih dari tiga kali lipat volume sepeda motor yang hanya sebesar 2.85 juta smp.  Artinya, perbandingan tingkat efisiensi pergerakan di Jakarta tahun 2015 yang ditawarkan mobil pribadi hanya sekitar 23 persen jauh di bawah sepeda motor yang mencapai 77 persen.  Hal ini menunjukkan bahwa sepeda motor ternyata secara efisiensi mengangkut penumpang jauh lebih banyak di Jakarta.

Motor vs Mobil, Jakarta 2015.jpeg

Dengan berasumsi fenomena tahun 2015 tidak banyak berubah dengan kondisi tahun 2018, keseluruhan kalkulasi di atas dapat diringkas sebagai berikut. Apabila dilihat dari penggunaan volume jalan, sepeda motor menggunakan sedikit lebih banyak dibanding mobil pribadi (hanya sekitar enam persen). Namun di saat bersamaan, sepeda motor ternyata menampung pergerakan 300 persen lebih banyak daripada mobil pribadi. Sehingga dari segi efisiensi maka cukup jelas mobil pribadi menjadi penyebab utama macet di Jakarta setiap harinya.

*Penulis adalah Pemerhati Perkotaan yang juga Pengemudi Sepeda Motor.

[1] https://jakarta.bps.go.id/publication/2017/10/11/306f08af1cacc7446e818011/statistik-transportasi-dki-jakarta-2016.html

[2] http://bptj.dephub.go.id/?p=1409

 

Featured image: kaskus

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s