Bauran Transportasi Metropolitan Indonesia


Oleh: Rizal K.

Aglomerasi menawarkan berbagai keuntungan. Salah satunya adalah kemudahan utuk mencari input produksi sekaligus kemudahan distribusi produk ke pasar yang terkonsentrasi. Di samping itu, aglomerasi memudahkan orang untuk bertukar informasi dan saling belajar satu dengan yang lain. Hasilnya, aglomerasi menciptakan kondisi yang mendorong lahirnya kreasi dan inovasi melalui kemudahan untuk mengkombinasikan beragam pengetahuan yang terkonsentrasi di dalam sebuah wilayah geografi yang relatif sempit.

Aglomerasi, akan tetapi, mempunyai ekternalitas negatif juga. Terpusatnya aktivitas ekonomi yang besar dalam sebuah wilayah geografis yang sempit menimbulkan berbagai kongesti, inflasi dan degradasi.  Kemacetan di kawasan perkotaan metropolitan adalah contohnya, di samping inflasi harga lahan yang meroket dan degradasi kualitas lingkungan. Tulisan kali ini coba mengangkat isu transportasi (kongesti) di kawasan perkotaan dengan membandingkan bauran transportasi (transportation-mix) untuk pergerakan komuter di beberapa kawasan metropolitan di Indonesia. Singkatnya, kami menanyakan metropolitan mana dengan bauran transportasi terbaik? Analisis menggunakan data komuter yang dikonstruksi dari survei BPS antara tahun 2014-2017.

Transportasi kawasan perkotaan di Indonesia sangat dicirikan dengan dominasi penggunaan moda transportasi pribadi sepeda motor. Harga sepeda motor yang relatif terjangkau, fasilitas kredit dengan uang muka rendah, biaya operasional yang sangat kecil, dan ‘kehandalan’ motor untuk menerobos kemacetan menjadi faktor penyebab menjamurnya moda kendaraan ini. Bahkan untuk perjalanan jarak jauh sekalipun masyarakat perkotaan Indonesia masih bergantung pada sepeda motor[1]. Jadi, jangan heran jika penggunaan moda sepeda motor untuk komuter menunjukan pola yang tidak proporsional.

Solusi kemacetan di kawasan perkotaan metropolitan adalah dengan mendorong penggunaan angkutan umum dan di saat bersamaan menekan penggunaan angkutan pribadi. Efektivitas dari solusi ini terefleksi dari bauran transportasi para komuter di kawasan perkotaan. Tentunya, semakin besar proporsi penggunaan kendaraan umum oleh komuter di suatu kawasan metropolitan, maka semakin efisien sistem transportasi metropolitan tersebut.

Gambar 1 Bauran Transportasi Beberapa Metropolitan di IndonesiaModa Komuter MetropolitanSumber: Publikasi BPS, 2014-2017
Keterangan: Metropolitan Jabodetabek meliputi Kota Jakarta, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, dan Kota Bekasi; Metropolitan Mebidang meliputi Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Deliserdang; Metropolitan Bandung Raya meliputi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang; Metropolitan Gerbangkertosusila meliputi Kabupaten Gresik, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Lamongan; Metropolitan Sarbagita meliputi Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan.

Jika dilihat baurannya, Jabodetabek memiliki komposisi penggunaan moda transportasi terbaik dibandingkan dengan metropolitan lainnya. Meskipun dianggap masih tinggi, perjalanan komuter di kawasan Jabodetabek yang menggunakan moda trasportasi pribadi merupakan yang terendah, berkisar 70 persen dari total perjalan pergi komuter. Tentunya motor mendominasi penggunaan kendaraan pribadi.

Menariknya, proporsi penggunaan angkutan umum di Jabodetabek sudah lebih besar dibandingkan pengunaan kendaraan pribadi mobil, hampir mencapai dua kali lipat.

Jika kita sedikit jeli memperhatikan, proporsi pengguna mobil untuk berkomuter berkisar 7-8 persen, kecuali Jabodetabek dan Mebidang yang masing-masing mencapai 12,8 dan 5,0 persen. Terdapat kesan bahwa semakin tinggi porsi penggunaan sepeda motor tidak mengurangi porsi penggunaan mobil. Sebaliknya, justru terbentuk pola bahwa semakin tinggi porsi penggunaan sepeda motor seakan-akan mengurangi penggunaan angkutan umum. Namun demikian, tentunyakita belum bisa mengklaim kausalitas hanya dari pola yang terbaca dari gambar di atas.

Gambar di atas juga menyadarkan kita bahwa kawasan metropolitan Indonesia kita tidak dilengkapi dengan sistem angkutan massal berbasis rel yang memadai. Selain Jabodetabek, penggunaan kereta api sebagai moda komuter nyaris dapat diabaikan.

Kembali ke pertanyaan semula, kawasan metropolitan mana dengan bauran transportasi terbaik? Jawaban cukup mudah, yaitu metropolitan Jabodetabek. Jika pertanyaan yang sama diajukan hanya untuk Mebidang dan Bandung Raya, menurut Anda metropolitan mana yang lebih baik?

 

[1] Topik tulisan ke depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s