Berdamai dengan Tsunami

oleh Admin RP

Sebelum membaca lebih jauh, ada baiknya saya membuat memberapa klarifikasi terlebih dahulu. Pertama, tulisan ini dimuat bukan untuk menakut-nakuti. Namun perlu disadari bahwa risiko bencana itu nyata adanya di sekitar kita. Mudah-mudahan tulisan ini bisa meningkatkan kehati-hatian kita, baik dalam melakukan analisis bencana maupun dalam melakukan mitigasi dan adaptasi bencana.

Kedua, tulisan ini fokus pada tinjauan data sejarah kejadian tsunami. Dengan demikian, apa yang disampaikan belum tentu mencerminkan peluang terjadinya tsunami di masa yang akan datang. Tulisan hanya menyampaikan fakta sejarah yang kemudian diilustrasikan dengan asumsi jika kejadian tersebut berulang kembali.

Ketiga, tulisan ini memanfaatkan data dari Global Historical Tsunami Database yang melacak dan mencatat kejadian tsunami dengan cakupan global yang pernah terjadi dalam dua millennium ini. Namun dalam tulisan ini data yang ditampilkan lebih difokuskan pada sebelas tahun terakhir.

Setelah klarifikasi, mari kita lihat beberapa fakta penting sejarah kejadian tsunami. Kami menduga bahwa fakta tsunami yang penting dan paling ingin diketahui adalah seberapa tinggi gelombangnya dan seberapa jauh penetrasi gelombang tersebut ke daratan. Tentunya jauhnya penetrasi tsunami ke daratan sangat dipengaruhi lanskap pantai dan daratan, kondisi vegetasi, dan keberadaan bangunan atau kondisi lain yang dapat menghambat laju tsunami ke daratan. Bisa jadi tsunami setinggi 30 meter terhenti di bibir pantai, namun bisa jadi tsunami yang hanya 1 meter bisa menembus jauh ke dalam daratan hingga puluhan bahkan ratusan meter.

Pertama, dalam sebelas tahun terakhir, tsunami tertinggi yang pernah tercatat adalah setingg 55.88 meter, yang terjadi di Iwate, Jepang pada tahun 2011 lalu. Namun demikian, jauhnya penetrasi tsunami yang tercatat adalah nol meter. Kemudian kami juga menelusuri database untuk mengetahui lokasi dan tahun kejadian penetrasi tsunami terjauh ke daratan. Kami menemukan penetrasi terjauh hingga 7,900 meter di lokasi dan tahun yang sama, yaitu Iwate, Jepang tahun 2011 (Gambar 1). Tinggi gelombang yang tercatat saat itu adalah 10.69 meter.

Tsunami_Data Historis_tampil

Kedua, telah terjadi 9,290 kejadian tsunami selama sebelas tahun terakhir (data per Oktober 2018). Lebih dari setengahnya (55%) tercatat memiliki tinggi gelombang di bawah lima meter. Fakta ini bisa diinterpretasikan sebaliknya. Sekitar 45% kejadian tsunami dalam sebelas tahun terakhir memiliki tinggi gelombang di atas lima meter. Rincian frekuensi kejadian tsunami berdasarkan tingginya gelombang kami tampilkan pada Gambar 2.

Ketiga, kembali ke Gambar 1. Fakta mengindikasikan bahwa walaupun tinggi gelombang tsunami di bawah lima meter, cukup banyak di antaranya yang bisa mencapai ke dalam daratan hingga lima kilometer jauhnya.  Kami menghitung jumlah kejadian penetrasi tsunami yang melebihi satu kilometer dengan tinggi gelombang di bawah lima meter. Hitungan kami terhenti di angka 125 untuk semua kejadian di sebelas tahun terakhir (lihat kotak merah putus-putus). Kami ingatkan kembali, membaca angka ini harus memperhatikan klarifikasi kami di awal tulisan.

Mari kita melihat ke kawasan Palu di Sulawesi Tengah yang baru-baru ini diterpa bencana tsunami. Penelusuran database global menunjukkan telah terjadi setidaknya 45 kali tsunami di Sulawesi Tengah, terhitung dari tahun 1858. Spesifik di kawasan Palu dan sekitarnya (Palu, Donggala, Parigi), kejadian tsunami pertama kali tercatat di tahun 1920 dan hingga saat ini telah tercatat sebanyak enam kejadian (Gambar 3). Dari catatan tersebut, tiga di antaranya memiliki tinggi gelombang sepuluh meter atau lebih. Fakta sejarah ini mendorong kami untuk menyandingkannya dengan lanskap kawasan Palu dan sekitarnya.

Kami memetakan kawasan Palu dan sekitarnya yang memiliki ketinggian di bawah sepuluh meter dari permukaan laut. Dengan bantuan peta kontur dengan kerapatan lima meter, dengan mudah kami menemukan area yang kemungkinan bisa terjangkau oleh gelombang tsunami setinggi sepuluh meter (Gambar 4). Dengan bantuan googlemap, analisis kontur seperti ini mengindikasikan potensi jangkauan gelombang tsunami bisa mencapai lima kilometer jauhnya, mengikuti jalur utama sungai Palu hingga melewati perbatasan administrasi Kota Palu. Namun, catatan yang tersedia di database menunjukkan jangkauan air terjauh hanya 300-500 meter saja.

Haruskah kita mengikuti apa yang diindikasikan data sejarah?

Rawan Tsunami Palu_tampil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s