Kenapa Tarif Batas Bawah Diperlukan?

Oleh Admin RP

Sampai saat ini kehadiran taksi (roda 4) dan ojeg (roda 2) online masih menimbulkan kontroversi. Baru-baru ini otoritas transportasi mengeluarkan kebijakan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan batas bawah dan batas atas tarif taksi online. Selama ini ketentuan batas bawah tarif seringkali ‘dilanggar’ dengan mekanisme voucer promo. Singkatnya, tarif resmi tetap mematuhi ketentuan batas bawah, namun kemudian diberi diskon sehingga konsumen membayar lebih rendah dari ketentuan batas bawah yang berlaku.

Sejauh pengamatan kami, promosi diskon ini tidak dibebankan ke pengemudi. Artinya, entah bagaimana caranya, mungkin melalui subsidi silang dari unit bisnis yang lain di platform yang sama, biaya promo ini ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan aplikasi.

Pertanyaannya adalah kenapa otoritas transportasi memaksakan penerapan batas bawah tarif taksi online dengan melarang memberikan voucer promo atau diskon? Sejauh ini jawaban pihak berwenang yang disampaikan ke publik di berbagai media adalah untuk melindungi pengemudi dari perang harga[1][2]. Benarkah demikian halnya? Di tulisan kali ini, kami mencoba mengeksplorasi beberapa kemungkinan motif yang melatarbelakangi kebijakan batas bawah tarif taksi online ini.

Pertama, sebagaimana yang dinarasikan oleh otoritas transportasi, kebijakan batas bawah ini ditujukan untuk melindungi pengemudi dari perang harga. Argumen ini didasari pada asumsi bahwa biaya dari promo atau diskon harga yang diterapkan oleh perusahaan aplikasi sebagian atau sepenuhnya dibebankan kepada pengemudi. Dengan demikian, promo atau diskon harga membuat penghasilan pengemudi berkurang. Atau, untuk memperoleh penghasilan yang sama pengemudi harus bekerja lebih keras dan lama.

Kedua, motivasi dari kebijakan batas bawah adalah melindungi perusahaan aplikasi dari perang harga. Hal ini berangkat dari asumsi jika beban promo atau diskon itu sepenuhnya ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan aplikasi. Dalam kasus ini tentunya konsumen diuntungkan (surplus) dan pengemudi tidak dirugikan. Lalu siapa yang dirugikan di sini? Jelas secara finansial perusahaan aplikasi yang menanggung beban promo tarif tersebut. Perlu dicatat bahwa perusahan aplikasi tentunya punya motivasi yang kuat untuk melakukan ini meskipun secara finansial akan merugikan mereka dalam jangka pendek. Bisa jadi ini adalah strategi untuk merebut pasar, memenangkan kompetisi, atau untuk tujuan lainnya yang memberi mereka profit jangka panjang. Jika demikian halnya, menerapkan tarif bawah secara konsekuen tidak akan melindungi perusahaan aplikasi dari perang harga. Justru mereka berusaha ‘mengelabui’ aturan batas bawah dengan mengeluarkan voucer promo dan diskon.

Ketiga adalah motivasi melindungi angkutan umum seperti halnya bus Transjakarta, KRL, MRT dan LRT. Dengan tarif yang terlalu rendah dikhawatirkan taksi online akan menggerus pengguna angkutan umum. Apalagi dengan beroperasinya MRT Jakarta di awal tahun 2019 ini, penerapan kebijakan tarif bawah secara konsukuen sangat urgen untuk mengalihkan masyarakat ke penggunaan MRT. Harga tiket MRT yang diperkirakan berkisar antara Rp 8-9 ribu[3] dinilai cukup terjangkau bagi sebagian masyarakat Jakarta dan diharapkan dapat menarik penggunaan MRT secara maksimal. Akan tetapi, harga tiket yang terjangkau tersebut tidak serta merta menjamin penggunaan MRT yang maksimal jika pesaing terdekatnya, yaitu taksi online, menawarkan voucer promo yang jauh lebih murah. Kebijakan batas bawah diharapkan dapat memisahkan segmen pasar antara taksi online dan MRT.

Argumen bahwa angkutan online itu membunuh angkutan umum ini sudah terbukti di Amerika Serikat. Sebuah studi di tahun 2017[4] menunjukkan bahwa kehadiran transportasi online pada awalnya memberi dampak positif bagi angkutan umum. Namun dengan semakin menjamurnya transportasi online tersebut, perlahan-lahan membalik dampak positif tersebut menjadi negatif.

Kami mencoba menelusuri efek tersebut di Jakarta dengan mengamati pertumbuhan penumpang bus Transjakarta dan KRL untuk periode 2012-2018. Sebagaimana kita ketahui, fenomena ojeg online sebagai pesaing terdekat Transjakarta, mulai muncul sekitar awal tahun 2014. Observasi terhadap jumlah pengguna Transjakarta menunjukkan pertumbuhan negatif mulai terjadi di tahun tersebut (2014). Di tahun 2015 penumpang Transjakarta anjlok dengan signifikan sebanyak 9 juta penumpang. Meskipun fenomena ini tidak membuktikan adanya relasi kausalitas, penurunan jumlah penumpang yang signifikan dan terjadi pada waktu yang bersamaan dengan fenomena berkembangnya ojeg online tidak bisa diabaikan begitu saja. Jumlah pengguna Transjakarta kembali tumbuh di tahun-tahun setelahnya. Kemungkinan disebabkan oleh perluasan rute layanan Transjakarta.

Penumpang CI dan TJSumber: situs resmi Transjakarta dan Commuter Line

Penurunan penumpang tidak ditemukan di layanan KRL (Commuter Line). Perbedaan karakteristik perjalanan mungkin menjadi penjelasannya. Dengan kata lain, taksi dan ojeg online bukanlah kompetitior KRL karena segmen pasar yang berbeda. Fakta ini seakan-akan membantah hasil temuan studi di Amerika Serikat di atas.

Keempat, dan yang paling menarik, adalah motivasi melindungi taksi konvensional. Sebagaimana diulas dalam tulisan RP sebelumnya, kebijakan pemerintah itu sering kali terbelenggu oleh kepentingan kelompok tertentu. Dalam kasus taksi online ini, kepentingan dimaksud adalah kepentingan taksi konvensional.

Berkembangnya taksi online sebagai pesaing utama jelas mengancam eksistensi taksi konvensional. Mau tidak mau taksi konvensional harus melakukan sesuatu untuk merespon ancaman ini. Sejauh ini, langkah yang diambil diantaranya adalah dengan bergabung dengan perusahaan aplikasi. Langkah ini dinilai cukup strategis, namun tidak tanpa konsekuensi biaya. Taksi konvensional terpaksa mengikuti aturan perusahaan aplikasi, termasuk dalam hal penentuan tarif. Harga yang sangat mahal untuk dibayar oleh taksi petahana.

Alternatifnya, taksi konvensional melakukan konsolidasi dan memperkuat lobi ke pemerintah. Sepertinya upaya mereka cukup membuahkan hasil dengan keluarnya kebijakan batas bawah yang diperketat, yang dilengkapi dengan larangan promo dan diskon.

Penulis yakin bahwa kebijakan batas bawah ini mempunyai motivasi yang multi-sisi. Motivasi mana yang paling dominan kami serahkan pilihannya kepada pembaca[.]

[1] https://www.inews.id/

[2] https://finance.detik.com/

[3] https://nasional.tempo.co/

[4] https://www.researchgate.net/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s