Metropolitan Jakarta mau (di)jadi(kan) seperti apa ???

Bayu Wirawan*


Konsepsi Metropolitan Jakarta

Berbicara mengenai perkembangan perkotaan di Indonesia, cerita tentang perkembangan Metropolitan Jakarta seakan tidak ada habisnya.  Memasukkan kata kunci Jakarta Metropolitan Area di halaman peramban Google (bukan endorse jenama lho) akan menampilkan lebih dari dua puluh satu juta hasil. Tidak hanya tulisan populer, tulisan ilmiah yang termuat dalam jurnal-jurnal ternama pun sangat banyak, terdapat lebih dari tiga puluh ribu riset tentang Jakarta Metropolitan Area di halaman google scholar (lagi, ini bukan endorse). Tulisan ini akan mencoba menelusuri kembali bagaimana Jakarta Metropolitan Area atau Metropolitan Jakarta berkembang, dan akan menjadi apa kawasan ini di masa mendatang.

Terdapat berbagai konsep tentang Metropolitan Jakarta.  Pada tulisan ini, penulis menggunakan batasan konsep Metropolitan Jakarta sebagai (1) kesatuan ruang daratan yang berada pada (2) lingkup yurisdiksi administrasi kota dan kabupaten di Jakarta – Bogor – Depok – Tangerang – Bekasi (Jabodetabek). Metropolitan Jakarta terdiri atas tiga belas kabupaten kota yang terdiri atas lima kota administratif yang berada di Provinsi DKI Jakarta, ditambah dengan Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang.

Perkembangan Metropolitan Jakarta

Memiliki luas sekitar 6.000 kilometer persegi serta dihuni oleh sekitar 31 juta penduduk pada tahun 2015, Metropolitan Jakarta merupakan kisah proses “pengkotaan” terbesar yang terjadi di Asia Tenggara. Kisah perkembangan Jakarta dapat dilihat pada gambar pertama. Pada gambar ini terlihat berawal dalam bentuk kawasan perkotaan kecil di sekitar poros Jalan Sudirman-Thamrin-Gajah Mada (Kota Jakarta) dan di sekitar Kebun Raya Bogor (Kota Bogor). Kemudian Metropolitan Jakarta berekspansi ke arah barat, timur dan selatan serta bahkan mungkin juga ke utara apabila proyek reklamasi Teluk Jakarta tetap dilanjutkan. Hingga tahun 2030, diperkirakan seluruh wilayah administrasi kota yang berada di Metropolitan Jakarta (Jakarta, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan) akan sepenuhnya menjadi kawasan terbangun (Rustiadi, et al, 2018) serta diproyeksikan Metropolitan Jakarta akan dihuni oleh 39 juta penduduk (Kementerian PU, 2015)

Gambar 1 Ilustrasi Perkembangan Kawasan Terbangun di Metropolitan Jakarta

Ekspansi perkembangan Metropolitan Jakarta disebabkan antara lain oleh meningkatnya jumlah penduduk, yang berdampak pada meningkatnya jumlah kebutuhan lahan untuk permukiman dan aktivitas ekonomi penduduk Metropolitan Jakarta.  Adanya pengembangan jaringan jalan tol Jagorawi, tol Jakarta-Merak, dan tol Jakarta-Cikampek turut mendorong ekspansi kawasan terbangun Metropolitan Jakarta ke bagian barat, timur dan selatan. Perkembangan di Metropolitan Jakarta kemudian saling menyusul antara pengembangan kawasan terbangun dan JORR/Jakarta Outer Ring Road tahap 1 (jalan tol Penjaringan – Kembangan – TB Simatupang –  Cilincing); serta JORR tahap 2 (jalan tol Bandara Soetta – Karawaci – Serpong – Cinere – Cibubur – Cikarang – Cilincing). Adanya rencana pengembangan JORR tahap 3 diperkirakan akan mengakselerasi ekspansi kawasan terbangun Metropolitan Jakarta, pada daerah-daerah yang saat ini masih berupa kawasan pertanian.

Berdasarkan kecenderungan serta perkiraan yang ada, tulisan ini mencoba mengajak pembaca berpikir kembali, apakah Metropolitan Jakarta akan berkembang seperti yang digambarkan di ilustrasi di atas?


Kilas Balik Perencanaan Metropolitan Jakarta

Melihat hingga beberapa dekade ke belakang, proses pengkotaan Metropolitan Jakarta yang sepertinya tidak teratur pada saat ini adalah merupakan buah dari perencanaan yang diterapkan di Metropolitan Jakarta. Baik pada era pemerintahan yang tersentralisasi (sebelum tahun 1999) maupun pada era desentralisasi (setelah 1999).

Gambar 2 Timeline Perencanaan Metropolitan Jakarta

Embrio Perencanaan Metropolitan Jakarta dimulai dengan dikeluarkannya Rentjana Regional Metropolitan Jakarta pada tahun 1966.  Rencana ini menargetkan beberapa wilayah sekitar Jakarta (terutama di selatan) tumbuh menjadi pusat pertumbuhan baru yang dihubungkan dengan jaringan jalan bebas hambatan yang saat ini dikenal dengan Jalan Tol Jagorawi.  Konsep ini dikembangkan lebih lanjut menjadi Konsep Kebijaksanaan Perencanaan dalam Rangka Wilayah Metropolitan yang meliputi wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi yang kemudian dikenal dengan istilah Jabotabek pada era awal tahun 70-an.  Secara kebijakan, konsep ini kemudian ditetapkan ke dalam Inpres No. 13 tahun 1976. Pada era ini, perkembangan Metropolitan Jakarta masih terkonsentrasi di pusat Jakarta dan pusat Kota Bogor.

Pada tahun 1983, Metropolitan Jakarta kembali dikembangkan melalui Rencana Struktur Jabotabek melalui pengembangan kota-kota kecil di sekitar Jakarta.  Pengembangan tersebut terbagi dua kelompok yaitu kelompok pertama adalah kawasan lingkar dalam, berupa kota-kota dengan radius 15-20 km dari pusat kota Jakarta (Monumen Nasional) dan diperkirakan mengakomodasi 75% dari pergerakan ulang-alik ke Jakarta.  Kelompok kedua adalah kawasan lingkar luar, yaitu pusat-pusat pemukiman yang berjarak kurang lebih 30-40 km dari pusat kota Jakarta dan mengakomodasi 25% dari pergerakan ulang-alik (Soegijoko, 2016). Rencana komprehensif yang sudah tersusun tersebut tidak pernah dikenal secara resmi dikarenakan proses penetapan melalui Peraturan Presiden tidak pernah diterbitkan. Ketiadaan peraturan yang mengikat menyebabkan pada tahun 1992 (lihat gambar 1), perkembangan kawasan terbangun di Metropolitan Jakarta bergerak ke arah barat (Kota Tangerang), timur (Kota Bekasi) dan sedikit ke selatan walaupun masih dalam setengah dari wilayah Kota Jakarta Selatan.  Pada era ini, perkembangan kawasan terbangun di Kota Bogor juga mulai terjadi.

Pada tahun 1999, istilah Jabotabek berubah menjadi Jabodetabek. Perubahan ini terjadi seiring dengan mekarnya Kota Depok dari Kabupaten Bogor sehingga akronim metropolitan Jakarta kemudian menjadi Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).  Perkembangan riil kawasan terbangun di Metropolitan Jabodetabek yang semakin meluas menyebabkan penataan ruang Metropolitan Jabodetabek perlu segera diatur.

Adanya kebijakan baru nasional yaitu UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang disertai dengan PP 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional juga mengharuskan penataan ruang Metropolitan Jakarta yang merupakan Pusat Kegiatan Nasional harus segera diatur.  Berdasarkan pertimbangan tersebut, kemudian diterbitkan Perpres No. 54 tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Puncak-Cianjur atau dikenal dengan RTR Jabodetabekpunjur. Perubahan mendasar dari RTR ini adalah bagaimana proses perencanaan harus berubah mengikuti perkembangan desentralisasi pemerintah daerah di Indonesia. RTR Jabodetabekpunjur berusaha menjadi jembatan mengenai bagaimana keinginan perencanaan ruang lintas daerah dapat terakomodasi dalam satu kebijakan. Dalam RTR ini, Metropolitan Jakarta dikembangkan dengan Jakarta sebagai pusat, serta sepuluh kawasan sub pusat yang terhubungkan dengan jalan tol Jagorawi dan JORR 2. Ide dari RTR ini adalah membagi pusat-pusat kegiatan ke kawasan di sekitar Jakarta untuk mengurangi beban pemusatan kegiatan di Jakarta. RTR ini juga menggunakan paradigma ekoregion, yaitu menggunakan kesatuan daerah sungai sebagai dasar perencanaan. Penggunaan paradigma ekoregion menyebabkan wilayah yang diatur dalam RTR ini lebih luas daripada wilayah Metropolitan Jakarta, yaitu hingga ke Kabupaten Cianjur. Peruntukan ruang yang diatur dalam RTR Jabodetabekpunjur meliputi kawasan lindung sebesar 7,95%; kawasan budidaya 90,51%; kawasan penyangga budidaya 1,12%; serta sisanya terdiri dari tubuh air.

Seiring dengan berkembangnya penggunaan lahan, dinamika kebijakan pemerintah, dan pembangunan infrastruktur maka dimulai tahun 2013 telah dilakukan revisi RTR Jabodetabekpunjur.  Revisi tersebut terkulminasi dalam bentuk laporan materi teknis di tahun 2015. Perbedaan mendasar dari revisi ini adalah perubahan sebaran sub pusat dari 10 yang berada di pinggiran Kota Jakarta menjadi menjauh dan berada di pusat masing-masing kota/kabupaten. Revisi RTR juga mengakomodasi perkembangan kawasan budidaya kepadatan tinggi dan sedang, terutama ke bagian barat Metropolitan Jakarta.  Perbandingan dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3 Komparasi antara RTR Jabodetabekpunjur 2008 (kiri)
dan draft revisi 2015 (kanan)

Dalam kerangka kebijakan nasional, dapat terlihat bahwa perkiraan ekspansi Metropolitan Jakarta diakomodasi oleh rencana tata ruang yang ada. Proses perluasan kawasan terbangun ini harus dilihat dengan hati-hati, apalagi ditinjau dari penetapan kawasan lindung yang hanya menyebutkan kawasan cagar alam dan hutan lindung. Walaupun pada draft RTR 2015 luasan kawasan hutan produksi lebih jelas serta kawasan pertanian dengan irigasi teknis bertambah besar, tetap saja diperlukan adanya kebijakan yang tepat agar keberadaan kawasan-kawasan budidaya tersebut dapat dijaga keberlanjutannya. Konservasi kawasan hutan produksi dan kawasan pertanian irigasi teknis sangat penting karena dapat mendukung keseimbangan lingkungan bagi Metropolitan Jakarta. Draft revisi RTR Jabodetabekpunjur bahkan memberikan ruang budidaya terbangun yang lebih besar dibandingkan perkiraan yang telah diilustrasikan dalam gambar 1


Perencanaan Metropolitan Jakarta di Tingkat Lokal

Berkaca dari sistem perencanaan ruang di Indonesia yang bersifat hirarkis, maka kita juga perlu memahami bagaimana kota dan kabupaten merencanakan ruangnya.  Hal ini sangat penting karena dalam era desentralisasi, proses perencanaan ruang menjadi kewenangan kota dan kabupaten. Adanya kebijakan di tingkat regional tanpa adanya penyelarasan dengan kebijakan di tingkat lokal dapat menimbulkan adanya ketidakpastian peruntukan ruang yang dapat berdampak pada timbulnya konflik dalam penggunaan lahan.

Seluruh kota dan kabupaten di Metropolitan Jakarta telah memiliki RTRW (rencana tata ruang wilayah dan kota) masing-masing.  Apabila masing-masing RTRW digabungkan, penulis menemukan bahwa 56,5% Metropolitan Jakarta diperuntukkan sebagai kawasan terbangun, 32% sebagai kawasan budidaya penyangga (kawasan hutan dan pertanian), 11,25% sebagai kawasan lindung (hutan lindung, cagar alam, dan ruang terbuka hijau perkotaan), serta sisanya sebagai tubuh air (lihat gambar 4).  Kebijakan pada tingkat lokal memperlihatkan bahwa upaya penetapan kawasan lindung telah sedikit lebih baik dibanding dengan RTR Jabodetabekpunjur 2008. Hanya saja dalam skala agregat, luasan peruntukan kawasan lindung sebesar 11,25% masih sangat jauh dari ketetapan yang telah disebutkan dalam UU Penataan Ruang, yaitu minimal 30% ditetapkan sebagai kawasan lindung. Pada sisi lain, penetapan kawasan budidaya terbangun di tingkat lokal juga melebihi perkiraan sebagaimana yang telah diilustrasikan dalam gambar 1.

(Sumber Gambar: Joihot Tambunan)
Gambar 4 Kompilasi RTRW Kabupaten dan Kota di Metropolitan Jakarta

(Sedikit) Epilog

Penulis memandang bahwa sejak awal berkembang hingga di masa mendatang, Metropolitan Jakarta akan terus didorong untuk dikembangkan sebagai kawasan terbangun. Penetapan kawasan lindung yang luasannya hanya mencapai sepertiga dari ketentuan yang telah ditetapkan memperlihatkan bahwa pembangunan Metropolitan Jakarta hanya diprioritaskan untuk mendukung urbanisasi beserta aktivitas ekonomi di dalamnya.  Jadi apabila dikembalikan ke judul artikel ini, Metropolitan Jakarta mau dijadikan apa??? Jawabannya silakan disimpulkan sendiri …. prok prok prok (pakai gaya Pak Tarno ya). Tabik.

*Peneliti di Urban and Regional Development Institute, tulisan ini merupakan pendapat pribadi

Referensi:

Kementerian PU, 2015. Materi Teknis Revisi Perpres 54 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur.

Rustiadi, E., Pribadi, D.O., Pravitasari, A.E., dan Indraprahasta, G.S., 2015. Jabodetabek Megacity: From City Development Toward Urban Complex Management System.

Soegijoko, B.T., 1996, Jabotabek and Globalization. Dalam Emerging World Cities in Pacific Asia [Editor: Fu-chen Lo dan Yue-man Yeung]. United Nations University Press.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s