Urbanisasi dan Keunggulan Kompetitif Aglomerasi

Ditulis oleh Rikha*

Tulisan kali ini mengangkat kembali tema aglomerasi perkotaan. Kenapa aglomerasi ini penting? Karena aglomerasi memberikan beberapa keuntungan yang bersumber dari ekternalitas skala ekonomi. Ekternalitas positif ini muncul dalam bentuk berbagi input, tenaga kerja, dan pengetahuan (knowledge spillover) baik di level industri (localisation economies) maupun di level kota (urbanisation economies). Singkatnya, aglomerasi itu memfasilitasi efisiensi dan inovasi sehingga menjadikannya lebih kompetitif.

Kawasan dengan aglomerasi tinggi mengindikasikan bahwa di kawasan tersebut telah terjadi akumulasi kapital, sumber daya manusia, infrastruktur fisik, dan sebagainya yang membuat kawasan tersebut menjadi lebih efisien, inovatif dan kompetitif. Bentuk aglomerasi yang paling mudah dikenali adalah kawasan perkotaan. Literatur yang ada saat ini memberikan tuntunan kepada kita bahwa ekonomi lokalisasi lebih sering ditemukan di kota kecil atau sedang, sementara ekonomi urbanisasi umumnya ditemukan di kota besar atau metropolitan.

Kali ini kami melihat pola sebaran aglomerasi dengan mendekatinya dari status unit pemerintahan terkecil yang bercirikan kota, yaitu kelurahan. Informasi ini kami peroleh dari dataset Potensi Desa (Podes) tahun 2014 yang kami visualisasikan ke dalam peta. Dataset Podes tersebut merupakan hasil sensus terhadap seluruh desa dan kelurahan. Namun demikian, dataset yang kami miliki mengandung sedikit kelemahan dimana dataset tersebut tidak mencakup Provinsi Aceh, sehingga Provinsi Aceh tidak kami masukan dalam analisis visual ini. Hasil visualisasi kami tampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Sebaran Aglomerasi Nusantara

Secara sekilas sepertinya sulit memunculkan pola aglomerasi dari tampilan visual di Gambar 1. Pulau Jawa, misalnya, seakan-akan sudah menjadi ‘pulau-kota’ karena hampir seluruh wilayahnya sudah mengkota, kecuali Jawa Barat bagian selatan. Namun demikian, jika dilihat lebih mendalam dan detail, kita masih bisa melihat sebaran aglomerasi yang terpola. Sayangnya sulit untuk melakukan ini dengan keterbatasan ruang tampilan peta yang tersedia[1]. Oleh karena itu, kami akan membuat beberapa highlight di atas peta untuk menuntun pembaca melihat pola ini. Peta ini ditampilkan pada bagian akhir tulisan ini (Gambar 2).

Abaikan Aceh, maka kita dapat mengamati bahwa aglomerasi cenderung terkonsentrasi sisi timur Pulau Sumatera. Pola aglomerasi yang terbentuk sepertinya mengikuti struktur jalan lintas-timur Sumatera. Beberapa aglomerasi juga terjadi secara melintang, seperti di jalur Tebingtinggi-Siantar-Prapat-Balige-Sibolga di Sumatera Utara dan jalur Palembang-Prabumulih-Muara Enim-Lahat-Lubuklinggau di Sumatera Selatan.

Berbeda dengan Sumatera, Pulau Jawa-Bali secara umum sudah menjadi sebuah pulau-kota. Namun demikian, kita masih bisa mengamati bahwa aglomerasi masih lebih terkonsentrasi di utara Jawa. Beberapa wilayah terlihat belum mengalami urbanisasi yang masif, terutama di selatan Banten dan Jawa Barat, ujung timur bagian selatan Jawa Timur, Pulau Madura dan utara Bali. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor geografi di wilayah tersebut. Menarik untuk diperhatikan adalah pola aglomerasi perkotaan terbagi menjadi dua jalur di antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu jalur utara dan jalur tengah. Meskipun perlu dikonfirmasi lebih lanjut, namun peta visual ini menunjukan jalur tengah Surakarta-Sragen-Ngawi-Madiun-Nganjuk-Mojokerto-Surabaya terlihat ‘lebih urban’ dibandingkan jalur utara Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang-Tuban-Lamongan-Gresik-Surabaya.

Pola aglomerasi di Kalimantan terlihat jelas mengikuti jalur sungai-sungai besar di pulau tersebut. Aglomerasi besar terbentuk di beberapa titik di pesisir Pulau Kalimantan yang umumnya berlokasi di sekitar muara sungai besar, seperti di Pontianak, Banjarmasin dan Samarinda. Palangkaraya adalah salah satu aglomerasi yang cukup besar namun berada cukup dalam di tengah Pulau Kalimantan, yang mungkin terbantu dengan keberadaan Sungai Kahayan. Dalam pandangan kami, pola aglomerasi ‘konsentris’ menuju pedalaman atau tengah Pulau Kalimantan seperti ini kurang menguntungkan apalagi mengingat keberadaan kawasan lindung yang cukup besar di tengah pulau tersebut. Mendorong aglomerasi di sepanjang atau mendekati pesisir Pulau Kalimantan dipandang lebih efisien dari sisi akses ke pasar di luar pulau dan lebih ramah terhadap keberadaan kawasan hutan lindung yang cukup dominan di tengah Pulau Kalimantan. Jikapun harus dibangun konektivitas menuju pedalaman Kalimantan, disarankan moda yang dikembangkan adalah moda yang berbasis rel agar dampak lingkungannya dapat lebih terkendali.

Untuk Pulau Sulawesi, sebaran aglomerasi terkonsentrasi di Sulawesi Selatan, di bagian selatan Sulawesi Tenggara, dan di ujung timur Sulawesi Utara. Kami mengamati bahwa meskipun aglomerasi cukup tersebar di Sulawesi Selatan, namun masih terlihat polanya mengikuti jalur transportasi utama. Sementara itu, kuat dugaan kami bahwa aglomerasi yang lebih terkonsentrasi di selatan Sulawesi Tenggara dipacu oleh keberadaan aktivitas pertambangan yang sudah cukup lama di wilayah tersebut (Pulau Buton dan sekitarnya). Konsentrasi aglomerasi juga terlihat di ujung timur Sulawesi Utara yang merupakan kawasan Bitung-Minahasa-Menado. Sulit untuk melacak sebuah pola tertentu atau jalur aglomerasi di Sulawesi bagian tengah dan bagian utara. Beberapa aglomerasi besar tentunya ada, seperti di Kota Gorontalo dan sekitarnya serta di Kota Palu dan sekitarnya, namun lokasinya terpisah jauh satu dengan yang lain.

Di Kepulauan Nusa Tenggara, selain dua aglomerasi utama Mataram dan Kupang, aglomerasi cukup banyak ditemukan di wilayah sekitar perbatasan Nusa Tenggara Timur dengan negara Timor Leste.

Di Pulau Papua dan Maluku pola aglomerasi yang teramati sifatnya ‘enclave’ di beberapa titik saja. Kondisi geografis kemungkinan besar berkontribusi dalam pembentukan pola aglomerasi yang seperti itu. Karakteristik kepulauan membuat aglomerasi tersebar di pesisir beberapa pulau kecil di Maluku. Serupa dengan itu, kondisi alam Papua juga mengakibatkan aglomerasi ‘terisolir’ hanya di beberapa lokasi saja. Situasi ini mirip jika bandingkan dengan pola aglomerasi di Australia.

Jadi, dalam pandangan saya, fenomena aglomerasi di Papua justru yang lebih efisien dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan pola aglomerasi yang merata seperti halnya yang terbentuk di Pulau Jawa.

Gambar 2 Pola Sebaran Aglomerasi Nusantara

[1] Dalam tampilan ArcGIS pola ini lebih mudah dimunculkan dengan melakukan zoom-in dan zoom-out.

*Rikha adalah pengamat perkotaan dan seorang ekonomi geografer independen. Kontributor aktif https://rumahpangripta.org.

2 comments

Leave a Reply to Menapak Jalur Manukfaktur Nusantara – Rumah Pangripta Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s