Bisnis Mendua yang Merugikan Kita

Beberapa hal yang memotivasi kami untuk menulis tentang topik ini. Pertama adalah kenaikan harga tiket pesawat udara yang lumayan besar. Kedua, adanya indikasi terjadinya duopoli di industri penerbangan kita[1]. Ketiga, salah satu bahan kuliah di Colombia University yang mengulas kasus duopoli melalui Teori Permainan (Game Theory).

Tanpa kita sadar, secara perlahan duopoli terbentuk di industri penerbangan komersial terjadual. Beragam maskapai yang berterbangan di langit nusantara ternyata hampir seluruhnya dimiliki oleh hanya dua kelompok penyedia jasa penerbangan. Sebut saja Grup Manuk Dadali dan Grup Macan Merah. Kedua grup tersebut diduga menguasai hingga 96 persen pasar penerbangan domestik. Cukup mencengangkan, bukan?

Bahwa duopoli ini yang menyebabkan harga tiket pesawat meroket memang sudah ramai menjadi kasak-kusuk publik. Tulisan ini melihat lebih dalam ke perilaku pemain yang terlibat di dalamnya. Kenapa melihat perilaku para pemain yang terlibat ini penting? Karena bisa jadi Manuk Dadali dan Macan Merah masih berkompetisi secara sehat. Namun, bisa jadi keduanya berkolusi membentuk kartel sehingga merugikan konsumen.

Tulisan ini akan menginvestigasi apakah duopoli yang terjadi masih kompetitif, atau sudah membentuk kartel dengan menggunakan kasus ilustratif yang disusun berdasarkan teori permainan sebagaimana kami sebutkan di awal tadi.

Sebelumnya, mari kita pelajari terlebih dahulu struktur duopoli yang ada. Informasi yang kami gunakan berasal dari berbagai sumber daring, salah satunya adalah OAG, sebuah perusahaan intelijen penerbangan udara berbasis di United Kingdom. Setelah pengecekan ulang secara daring terhadap beberapa data yang ada, hasilnya kami sampaikan pada Tabel 1 berikut. Kami melihat bahwa Grup Macan Merah melakukan ekspansi dengan membentuk subsidiaries, yaitu Macan Batak dan Macan Air. Sementara itu, Grup Manuk Dadali melakukan ekspansi dengan mengakuisisi Sriwi pada 2018 lalu, sekaligus Nami yang merupakan anak dari Sriwi, melalui anak perusahaan Dadali, Sritili. Dari langkah akuisisi yang agresif dapatlah kita menduga kiranya siapa yang mempunyai motivasi untuk membangun duopoli ini sesungguhnya.

TABEL 1 STRUKTUR DUOPOLI MANUK DADALI DAN MACAN MERAH

GRUP MANUK DADALIGRUP MACAN MERAH
KekuatanArmada252 unit
(Dadali 144, Sritili 50, Sriwi dan Nami 58)
326 unit
(Macan Batak 58, Macan Merah 194, Macan Air 74)
Penguasaan Pasar 46 persen
(Dadali 20%, Sritili 13%, Sriwi 10%, Nami 3%)
50 persen
(Macan Batak 10%, Macan Merah 34%, Macan Air 6%)

Dilihat dari perspektif Teori Permainan[2], ada empat skenario yang mungkin dilakoni oleh kedua pemain yang terlibat. Untuk memudahkan pemahaman, kami sedikit menggunakan angka hipotetikal untuk setiap skenario yang diambil dari ilustrasi kasus. Untuk skenario pertama, jika kedua pemain mengadopsi strategi bersaing satu dengan yang lain, dan diasumsikan pasar terbagi dua, maka masing-masing pemain mendapat pendapatan (hasil perkalian output dan harga) yang agak rendah, katakanlah 1.600 milyar per tahun (ingat ini angka hipotetikal). Dalam skenario kedua, jika keduanya berkolusi membentuk kartel, maka masing-masing pemain mendapat pendapatan yang lebih tinggi, katakanlah 1.800 milyar per tahun. Skenario ketiga dan keempat adalah skenario kartel yang gagal. Jika salah satu pemain ‘berkhianat’ terhadap strategi kolusif yang disepakati, maka salah satu pemain sangat diuntungkan dengan pendapatan mencapai 2.025 milyar per tahun sementara pihak yang dikhianati akan merugi dengan perolehan pendapatan yang sangat rendah, yaitu 1.350 milyar per tahun.

GRUP 1 / GRUP 2 Kompetitif Kolusif (Kartel)
Kompetitif 1.600/1.600 [1] 2.025/1.350 [3]
Kolusif (Kartel) 1.350/2.025 [4] 1.800/1.800 [2]

Skenario pertama dipandang sebagai Nash Equilibrium dalam asumsi permainan tunggal (one-shot game) ataupun berulang yang terbatas (finite repeated game). Ini merupakan asumsi yang paling realistis, dalam artian paling mendekati dunia nyata sebuah industri. Dalam asumsi tersebut, sulit untuk membangun sebuah kolusi dan membentuk kartel karena adanya insentif yang kuat untuk berkhianat oleh masing-masing pemain. Ingat angka di atas, pemain yang berkhianat akan mendapat pendapatan yang sangat besar, jauh melampaui pesaing satu-satunya. Apa gunanya membangun kartel jika kita tahu pesaing kita akan mengkhianati kesepakatan?

Skenario kedua bukanlah Keseimbangan Nash karena kartel cenderung tidak stabil dan pada akhirnya pecah. Namun, dalam situasi permainan berulang terus-menerus (infinite repeated game), muncul insentif yang kuat untuk berkolusi. Dengan kata lain, dalam jangka panjang strategi kartel adalah Keseimbangan Nash. Bayangkan pembicaraan telepon imajiner oleh kedua pemain, tentunya secara diam-diam seperti berikut ini:

Grup Dadali: “Halo? Ini Grup Dadali ”.
Grup Macan: “Ya. Ini Grup Macan.”
Grup Dadali: “Kita punya proposal nih. Bagaimana kalau kita berdua membentuk kartel, karena toh cuma kita berdua yang bermain di industri ini? Dengan catatan, jika kamu berlaku curang dengan memproduksi output dan menetapkan harga di luar kesepakatan kita, maka saya juga akan membalas dengan melakukan hal yang sama untuk selamanya. Setuju?”
Grup Macan: “Tawaran yang menarik. Ingat, saya juga akan melakukan pembalasan jika Anda terdeteksi curang.”
Grup Dadali dan Macan: “Sepakat! Mari kita tentukan output dan harga yang menguntungkan kita berdua (dan merugikan konsumen).”

Sebagai catatan, kesepakatan kolusif seperti di atas jauh mudah untuk dicapai dan dijaga keberlangsungannya dengan hanya dua pemain. Semakin besar jumlah pemain semakin sulit, bahkan mustahil, untuk melakukan kolusi seperti di atas.

Jika seperti itu situasinya, bagaimana kita bisa mengetahui apakah kartel sudah terbentuk atau para pemain masih bermain secara kompetitif? Jika mengacu informasi yang ditampilkan di atas, struktur pasar hampir terbagi rata menjadi dua bukanlah ciri dari skenario ketiga dan keempat (ingat angka hipotetikal 2.025 dan 1.350!). Kemudian, mari kita gali ingatan kita ke era dimana industri penerbangan masih sangat kompetitif dan harga tiket pesawat yang jauh lebih murah. Saya yakin pembaca bisa mengingat dan merasakan periode dimana kita, sebagai konsumen, adalah raja. Sila menjawab sendiri pertanyaan di awal paragraf ini[.]


[1] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4578695/kppu-kami-setuju-terdapat-duopoli-pada-maskapai-domestik

[2] Lihat ilustrasi kasus pada tautan berikut ini.

Ditulis oleh Rikha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s