Rektor Asing: Antara Butuh tapi Gengsi

Oleh: Khairul Rizal

Objektivitas itu seringkali dipertanyakan ketika kita membicarakan atau mendiskusikan sesuatu yang menyangkut kepentingan diri kita sendiri. Tidak terkecuali di dunia akademik sekalipun. Hal ini terlihat jelas dari wacana perekrutan rektor asing yang belakangan ini dicecar banyak kritik dari kalangan akademisi itu sendiri.

Sesuatu yang menarik perhatian dan memotivasi tulisan ini adalah respon beberapa akademisi yang, menurut pandangan saya berdasarkan beberapa opini yang beredar, terlalu emosional untuk figur yang mengedepankan objektivitas berdasarkan fakta empiri.

Misalnya saja, wacana rektor asing ini dipandang sebagai sebuah solusi yang salah dari masalah birokrasi/administrasi pendidikan tinggi yang tidak efisien, anggaran yang terbatas, beban kerja yang tinggi, serta berbagai permasalahan lainnya yang tidak akan selesai dengan adanya rektor asing. Berbagai fakta pun diungkap, seperti kerumitan dalam mengurus pensiun dosen dan proses sertifkasi dosen yang berbelit. Tentunya dengan perbandingan dengan sistem universitas di luar negeri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa berbagai persoalan di atas memang masih menjadi beban dalam sistem pendidikan tinggi kita. Namun, membingkai wacana rektor asing ini ke dalam isu ketidakefisienan birokrasi juga bukan tanpa risiko. Hal ini bisa mengalihkan fokus kita dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu daya saing global dari pendidikan tinggi kita.

Mari kita ulas wacana rektor asing ini dari ukuran yang digunakan dalam peringkat universitas global yang dikeluarkan oleh QS. Singkatnya, ada enam ukuran yang digunakan dengan bobot berbeda, yaitu reputasi akademik (40%), reputasi dari pemberi kerja (10%), rasio dosen/mahasiswa (20%), sitasi per fakultas (20%), fakultas/staf internasional (5%), dan mahasiswa internasional (5%). Hasil pemeringkatan QS menunjukkan hanya ada tiga perguruan tinggi nasional yang masuk 500 besar peringkat dunia tahun 2019, yaitu UI (296), UGM (320), dan ITB (331). Dari ketiga perguruan tinggi tersebut, terlihat ukuran terlemah ada pada sitasi per fakultas, fakultas/staf dan mahasiswa internasional. Jadi adalah wajar jika kita ingin peringkat global perguruan tinggi kita ingin naik di ajang global, maka ketiga indikator tersebut harus diperbaiki secara signifikan. Tulisan ini fokus pada ketiga perguruan tinggi tersebut dan menelaah kinerja ketiganya berdasarkan dataset yang tersedia di QS.

Tabel 1 Peringkat dan Indikator UI, UGM dan ITB Tahun 2020

UI UGM ITB
CITATIONS PER FACULTY 1.9 1.6 3.7
INTERNATIONAL STUDENTS 5 2.5 1.6
INTERNATIONAL FACULTY 94.5 42.9 29.2
FACULTY STUDENT 43.4 51.3 51.3
EMPLOYER REPUTATION 47.3 36.7 39.8
ACADEMIC REPUTATION 39.5 41.3 39.3
OVERALL SCORE 34.7 33.2 32.3
RANK 296 320 331

Sumber: QS

Sebagaimana ramai diperbincangkan di kalangan akademisi, upaya untuk memperbaiki skor sitasi per fakultas dilakukan dengan mendorong dosen dan peneliti untuk membuat tulisan akademik di jurnal ilmiah yang diakui secara internasional. Upaya ini pun bukan tanpa kontroversi, mulai dari beban kerja dosen dan peneliti hingga ketersediaan laboratorium dan dana riset. Namun demikian, terlepas dari kontroversi yang ada, Pemerintah tetap menggelotorkan pendanaan riset melalui skema LPDP hingga mencapai 500 juta per judul penelitian. Terlepas apakah ada atau tidak kaitan sebab-akibat, hasilnya cukup menggembirakan. ITB mengalami peningkatan yang cukup signifikan untuk indikator ini (lihat Tabel 2).

Tabel 2 Perubahan Indikator Sitasi per Fakultas

2017 2018 2019 2020
UI n.a. n.a. 1.8 1.9
UGM n.a. n.a. 1.5 1.6
ITB n.a. n.a. 3.2 3.7

Sumber: QS

Bagaimana dengan fakultas internasional? Di sinilah relevansi dari wacana rektor dan pengajar internasional (asing) yang belakangan ini memanas. Keberadaan fakultas internasional ini penting karena memfasilitasi terjadinya pertukaran pengetahuan dan praktek terbaik, sebagaimana kutipan berikut:

“A highly international university acquires and confers a number of advantages. It demonstrates an ability to attract faculty and students from across the world, which in turn suggests that it possesses a strong international brand. It implies a highly global outlook: essentially for institutions operating in an internationalised higher education sector. It also provides both students and staff alike with a multinational environment, facilitating exchange of best practices and beliefs. In doing so, it provides students with international sympathies and global awareness: soft skills increasingly valuable to employers.”

Berbeda dengan UI dan UGM yang semakin mengglobal, ITB justru orientasinya semakin lokal berdasarkan ukuran QS, baik fakultasnya maupun mahasiswanya (lihat Tabel 3 &4).

Tabel 3 Perubahan Indikator Fakultas Internasional

  2017 2018 2019 2020
UI 68.1 87.1 93.9 94.5
UGM n.a. 23.5 36.5 42.9
ITB n.a. 30.1 42.1 29.2

Sumber: QS

Ke depannya, jika dibolehkan berspekulasi sedikit, kami menduga kebijakan yang paling masuk akal untuk diusulkan adalah merekrut mahasiswa internasional. Kemungkinan kebijakan ini pun akan menuai kontroversi sebagaimana wacana rektor asing. Resistensi diprediksi bakal tinggi apabila perekrutan mahasiswa internasional tersebut menggunakan skema beasiswa.

Tabel 4 Perubahan Indikator Mahasiswa Internasional

2017 2018 2019 2020
UI n.a. n.a. 5.5 5
UGM n.a. n.a. 2.6 2.5
ITB n.a. n.a. 2.6 1.6

Sumber: QS

Kesimpulannya, jika kita mau punya perguruan tinggi bertaraf internasional, maka, apapun caranya, mulailah mengglobal.

Featured image made by turkkub from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s