Krisis Air Pulau Jawa

Oleh Rikha*

Begitu banyak alasan bagi kita untuk datang dan tinggal di Pulau Jawa. Mulai dari fasilitas premium yang dimilikinya, keindahan yang dipancarkannya, hingga peluang yang ditawarkan oleh Pulau Jawa. Namun, terlepas dari daya tariknya yang mempesona, banyak juga isu-isu yang membuat sebagian kita khawatirkan untuk tinggal di Pulau Jawa. Mulai dari jumlah populasi yang berdiam di pulau ini, sebaran gunung berapi, hingga ketersediaan air baku yang semakin langka. Tulisan ini akan memberi perhatian yang lebih ke isu yang terakhir.

Jawa adalah pulau dengan populasi terbanyak di muka bumi. Ini adalah fakta! Ada lebih dari 140 juta orang bermukim di Jawa. Meskipun demikian, Jawa bukanlah pulau yang terpadat, dikarenakan wilayahnya yang relatif luas. Pulau Batam dan Ternate ternyata jauh lebih padat dibandingkan Jawa.

Perhatian mengenai jumlah penduduk Jawa yang besar telah ada sejak lama. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk mengendalikannya, dan beberapa diantaranya dinilai cukup berhasil, seperti program Keluarga Berencana dan Transmigrasi. Namun demikian, kedua program itu sepertinya kalah kuat dengan daya tarik instrinsik Jawa yang menarik lebih dan lebih banyak lagi orang datang ke Jawa. Termasuk penulis (sambil senyum sendiri hehehe).

Jawa juga rumah bagi banyak gunung berapi. Keberadaan mereka ini merupakan berkah yang menjadikan tanah Jawa subur disertai dengan lanskap yang menakjubkan. Ingat, ketika SD kita sering diminta guru untuk menggambar pemandangan (lanskap). Penulis bisa menduga apa yang Anda gambar saat itu. Sepertinya tidak jauh dari lanskap gunung dengan sawah yang membentang di bawahnya.

Gambar 1 Lanskap Pegunungan dan Sawah

Gunung berapi juga merupakan salah satu sumber bencana alam. Tanyakan geologis yang Anda temui berapa banyak gunung berapi aktif di Pulau Jawa? Penulis berharap Anda tidak terkejut mendengar jawabannya. Jika kita buka catatan sejarah, beberapa mega letusan gunung berapi di dunia terjadi di bumi nusantara, seperti letusan Gunung Toba Purba, Tambora, dan Karakatau. Percaya atau tidak, awan dari letusan Tambora sekitar dua abad lalu yang menginspirasi penulis Mary Shelley melahirkan cerita monster Frankenstein di Eropa. Mengerikan!

Monster Frankenstein itu sendiri sejujurnya tidak membuat penulis takut. Karena itu hanyalah cerita fiksi belaka (atau cerita fiktif?). Apa yang membuat penulis khawatir adalah krisis air di Jawa. Rasa khawatir ini seketika berubah menjadi kengerian karena sebagian besar, kalau tidak hampir semua, penduduk Jawa belum menyadarinya. Oh dear!  

Memang seberapa parah sih krisis air di Jawa ini? Boleh dong kita lihat data sejenak.

Gambar 2 Neraca Air per Pulau (2015)

Sumber: Bappenas

Secara total, ketersediaan air di bumi pertiwi Indonesia masih surplus. Menurut hitungan Bappenas, kondisi air permukaan masih surplus sebesar 449.045 juta m3 berdasarkan data tahun 2015. Namun, untuk Pulau Jawa dan Bali sudah terjadi defisit sebesar 105.786 juta m3.  Gugus kepulauan Nusa Tenggara juga menderita defisit sebesar 2.317 juta m3. Penulis yakin, seiring dengan bertambahnya penduduk defisit air ini akan semakin besar jika kita tidak melakukan upaya terobosan yang jelas dan terukur.

Lalu bagaimana penulis tahu bahwa sebagian besar orang belum menyadari krisis air di Jawa? Karena penulis masih melihat banyak orang yang menggunakan air tanpa rasa krisis. Misalnya, untuk mencuci kendaraan yang tidak terlalu kotor, menyiram halaman rumah yang tidak ada urgensinya, dan mandi menggunakan gayung. Uups, bukan maksud menyindir loh ya. Ini hanya spekulasi subjektif penulis saja.

Penggunaan air apakah itu untuk mandi, cuci mobil, siram halaman dan lain sebagainya itu merupakan penggunaan air untuk kebutuhan domestik. Meskipun air tetap harus dihemat, penggunaan air untuk kebutuhan domestik itu ternyata jumlahnya relatif kecil. Digabungkan dengan penggunaan untuk permukiman dan industri, penggunaan air untuk domestik diestimasi hanya berkisar sembilan persen dari total konsumsi air. Konsumsi air terbesar adalah untuk irigasi pertanian, mencapai 69 persen penggunaan air secara keseluruhan di Pulau Jawa. What a fu**ing number!

Logikanya, jika kita ingin memastikan ketersediaan air di Pulau Jawa maka langkah yang paling reasonable adalah dengan mengurangi konsumsi air untuk irigasi pertanian. Demikian kah?

Hei, tunggu dulu! Ini adalah Pulau Jawa.  Pulau yang diberkahi dengan tanah hasil bentukan debu vulkanik yang subur dan merupakan lokasi premium untuk padi sawah. Dan lagi, investasi pembangunan irigasi teknis yang sudah dimulai sejak dulu kala di Jawa sudah sangat besar sekali. Artinya, jika kita mengurangi luasan sawah di Jawa, maka sia-sialah investasi tersebut. Di samping itu, dalam jangka yang lebih panjang, ketahanan pangan nasional akan turut terancam juga.

Jadi, jika dipeta-konflikan, ini seperti pilihan antara krisis pangan atau krisis air. Padahal, jika dipikirkan secara lebih mendalam, situasinya tidaklah se-simalakama itu.

Mungkin ada baiknya sebagian lahan sawah mulai dipindahkan ke luar pulau Jawa. Pada kenyataanya, memang demikian yang terjadi sesungguhnya. Lahan sawah di Jawa secara alami mulai berkurang (melalui konversi lahan), sementara di pulau lainnya menunjukan penambahan luasan yang cukup signifikan (kecuali Sumatera, lihat Tabel 1). Meskipun ada perbedaan produktivitas karena perbedaan infrastruktur dan kualitas lahan sawah di Jawa dibandingkan pulau lainnya, namun dengan perbaikan yang konsisten, kami yakin perbedaan produktivitas tersebut akan terus menyempit seiring dengan berjalannya waktu.

Tabel 1  Perubahan Luas Lahan Sawah 2004-16

Luas Sawah
2004
Luas Sawah
2016
Perubahan
(Ha)
%
Sumatera     2,268,142      2,200,950     – 67,192 -3.1%
Jawa-Bali     3,394,598      3,299,425      – 95,173 -2.9%
NT        329,968         441,904      111,936 25.3%
Kalimantan        944,791      1,055,877      111,086 10.5%
Sulawesi        960,427      1,009,453        49,026 4.9%
Maluku           20,268            25,196          4,928 19.6%
Papua           40,740            54,588        13,848 25.4%
Indonesia     7,958,934      8,169,762      210,828 2.6%

Sumber: BPS

Alternatifnya, tekanan terhadap ketahanan air Pulau Jawa yang bersumber dari pertumbuhan penduduk harus dikurangi dan dikendalikan. Dalam konteks inilah konsep hijrah seperti transmigrasi dan pemindahan ibu kota menjadi relevan[.]  

*) Rikha adalah pemerhati isu-isu pembangunan dan perencanaan, bermukim di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s