Ketika Perencana Dunia Berkumpul

oleh Khairul Rizal

Minggu lalu penulis mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu local expert di hajatan perencana dunia ke-55 yang diselenggarakan di dua kota Indonesia: Jakarta dan Bogor.

Bagi penulis pribadi, forum perencanaan dunia ini tentunya tidak hanya menjadi ajang untuk berbagi pengetahuan antar-perencana tetapi juga menjadi wadah untuk membangun jejaring. Bagi Indonesia sendiri, menjadi tuan rumah kongres perencana dunia memberikan daya ungkit profesi perencana di tanah air terutama di tengah maraknya isu pemindahan ibu kota negara.

Kongres kali ini mengambil tema yang cukup menarik: Beyond the Metropolis. Diskusi membidik tujuh isu perkotaan secara global, termasuk megapolitan dan masa depan kota, kota-kota yang lebih kecil, kota sehat dan layak huni, ekonomi pengetahuan dan identitas kota, kota cerdas dan keberlanjutan, perubahan lingkungan dan risikonya bagi kota, serta tata kelola dan profesi perencana[1].

Di samping mengeksplorasi isu-isu tersebut, terdapat beberapa sesi khusus yang cukup mengundang keingintahuan, antara lain kota-pulau Jawa 2045, pemindahan ibu kota negara, dan banyak lagi yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Kongres menghasilkan Jakarta Declaration yang pada prinsipnya berisi 12 rekomendasi terkait ketujuh isu di atas.

Selama kongres berlangsung, penulis fokus mengikuti diskusi terkait isu megapolitan. Terus terang, penulis kesulitan menaraik benang merah jalannya diskusi karena tulisan yang masuk sepertinya kurang disiplin mengikuti logika isu yang dibangun oleh panitia kongres. Terlepas dari diskusi yang substansinya sedikit agak ‘liar’, penulis berhasil menangkap beberapa ide yang layak untuk dibagi di tulisan ini. Kami artikulasikan pada beberapa paragraph berikut.

Munculnya megapolitan dalam skala global dengan kecepatan yang tak terduga menawarkan beberapa keuntungan dari aglomerasi perkotaan yang bisa diraup, seperti terkonsentrasinya talenta-talenta terbaik, modal, dan pengetahuan. Namun demikian, megapolitan juga memiliki tantangannya sendiri yang harus direspon serius oleh para perencana, beberapa diantaranya adalah degradasi lingkungan, inflasi harga lahan, dan kemacetan. Tantangan yang dihadapi setiap megapolitan itu tertangkap dengan baik di dalam diskusi dan sepertinya cukup konvergen. Solusinya, akan tetapi, berbeda dari megapolitan yang satu ke megapolitan yang lain. Perbedaan respon dan cara mengelola megapolitan ini, menurut penulis, bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan. Justru, berbagi mengenai perbedaan itu membuka ruang pembelajaran yang berharga bagi para perencana.

Salah satu solusi pengelolaan megapolitan yang didiskusikan cukup dalam adalah melalui investasi infrastruktur besar-besaran dalam bentuk pembangunan megablok (enclave urbanism) dan transportasi massal, sebagaimana yang terjadi di Guangdong dan Manila. Ide yang mendasari solusi ini adalah untuk membuat megapolitan itu sekompak mungkin namun di saat yang bersamaan sebisa mungkin tetap menjaga kelayakhuniannya. Jakarta sepertinya mengikuti jalur logika ini.

Solusi lainnya yang cukup ramai didiskusikan di dalam kongres bergantung pada pendekatan yang sifatnya dari bawah ke atas (bottom-up) dan skalanya mikro. Berbagai pendakatan tersebut cukup mendapat perhatian karena dipandang mempromosikan ide dan pemikiran yang inovatif. Beberapa terobosan yang diangkat di antaranya kebun kota (urban farm), micro-regeneration atau semacam konsolidasi tanah di Indonesia, analisis permukaan lahan untuk perencanaan iklim mikro, dsb. Walaupun mendapat banyak pujian dari berbagai pihak, pendekatan ini masih bergelut dengan upaya bagaimana terobosan-terobosan yang ada dapat diadopsi di tingkat kota secara keseluruhan. Beberapa penyebab yang menghambat proses adopsi antara lain peraturan yang tidak kondusif, tata kelola dan kelembagaan yang kurang mendorong proses kolaborasi, dan lain sebagainya.

Ide alternatif yang penulis lihat cukup kontras dengan ide arus-utama adalah mengadopsi kembali teori lama Kota Satelit yang diperkenalkan oleh Taylor (1915) dan teori Kota Organik Saarinen (1943). Singkatnya, limpahan kota (urban sprawl) yang terencana dengan baik, berkepadatan rendah, polisentrik dapat menjadi lebih berkelanjutan, layak huni, dan berdaya tahan dibandingkan dengan kota utama yang kompak dan berkepadatan tinggi. Empiri datang dari kota pinggiran Auckland yang terbukti pulih jauh lebih cepat setelah terkena guncangan gempa dibandingkan pusat kota Auckland. Kota layak huni, berkelanjutan, berketahanan barangkali merupakan jargon yang paling sering dikemukan selama kongres berlangsung. Ironisnya, kata seperti kumuh, informal atau ilegal juga sering diucapkan, yang membayangi perkembangan megapolitan di banyak, jika tidak semua, negara berkembang seperti Ghana, Rwanda, Brazil, Bangladesh, India, Peru, Indonesia, dan Brazil. Fenomena megapolitan yang kontras antara apa yang terjadi di negara-negara barat dengan apa yang sesungguhnya berlangsung di negara-negara berkembang, pada tingkatan tertentu telah membuat dialog antar-perencana dunia yang berkumpul di forum tersebut terdengar seperti ‘kurang nyambung’. Sepertinya upaya berbagi pengetahunan antar-perencana dunia tidak semudah yang dibayangkan karena perbedaan konteks yang kontras ini.

Semoga perlehatan akbar perencanaan dunia yang baru saja berakhir bisa menginspirasi para perencana tanah air untuk lebih sering berkolaborasi serta berbagi ide dan pengetahuan. Tentunya hal tersebut dapat dilakukan tidak hanya melalui forum-forum resmi seperti seminar ataupun kongres, tetapi juga melalui simpul-simpul komunitas epistemik, baik itu fana maupun maya, seperti halnya komunitas epistemik rumahpangripta ini. Knowledge for better cities!


[1] https://isocarp2019.isocarp.org/en/programme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s