Pola Pergerakan dan Orientasi Pembangunan

oleh Rikha*

Di era digital, hampir semua aktivitas kita di dunia maya akan meninggalkan jejak digital. Jejak digital ini sangat besar volumenya dan terus bertambah dengan sangat cepat, tidak terstruktur dan sangat beragam. Jika kita bisa melacak dan mengolahnya, maka jejak digital ini bisa menjadi sebuah sumber informasi yang sangat berharga terutama bagi pengembangan kebijakan publik. Jejak digital ini dikenal dengan sebutan mahadata (bigdata). Seseorang yang mempunyai keahlian untuk melacak dan mengolah mahadata ini disebut sebagai ilmuwan data (data scientist).

Salah satu pemanfaatan mahadata ini adalah di sektor transportasi. Kami menemukan hasil olahan mahadata terkait pola pergerakan penduduk Jabodetabek yang dilacak dari media sosial Twitter. Kami tentunya tidak akan mendiskusikan bagaimana mahadata ini diekstraks dari internet dan dan diolah menjadi sebuah informasi. Ini adalah tugas seorang ilmuwan data. Akan tetapi, kami mencoba untuk menginterpretasi dan menelaah informasi yang dihasilkan dari mahadata secara lebih mendalam dan menggunakannya untuk menggugat narasi arusutama (mainstream) perkotaan yang jamak saat ini.

Mari kami memulai dari satu fakta penting mengenai pola pergerakan Jabodetabek yang diekstrak dari mahadata tersebut. Pergerakan membujur Utara-Selatan ternyata lebih mendominasi arus pergerakan di Jabodetabek dibandingkan pergerakan melintang Timur-Barat (48,7%). Fakta ini seakan-akan membantah orientasi pembangunan Jabodetabek yang diarahkan ke poros Timur-Barat.

Sumber: Pulse Lab Jakarta

Kami sendiri mempertanyakan relevansi dari orientasi pembangunan poros Timur-Barat ini, karena alasan sederhana: perubahan iklim. Di era 80an, perkembangan Jakarta sangat pesat ke kawasan pinggiran Jakarta, terutama ke wilayah selatan. Akibatnya, muncul kekhawatiran perkembangan tersebut akan mengganggu fungsi ekologis kawasan penyangga Jakarta. Sebagai respon, orientasi pembangunan poros Timur-Barat mulai diperkenalkan dan diadopsi dalam dokumen kebijakan dan perencanaan.

Perubahan iklim bisa mengubah permainan (game changer). Jika di era 80an wilayah Selatan sebagai kawasan penyangga Jakarta yang terancam, maka sekarang ini justru wilayah Utara yang sangat ringkih terkena dampak perubahan iklim. Kami pernah mengangkat isu ini di salah satu tulisan di blog ini. Dengan skenario moderat, diperkirakan pada 2030 akan terjadi kenaikan genangan air di Jakarta Utara setinggi 6,45 meter akibat kombinasi dari tiga kekuatan penghancur: kenaikan air laut, pasang-surut, dan penurunan tanah.

Jika demikian pelik situasinya di Utara Jakarta, sekarang saatnya mengambil langkah mitigasi. Kami mengusulkan perubahan orientasi pembangunan dari poros Timur-Barat menjadi poros Utara-Selatan.

Tentunya proposal untuk merubah orientasi poros pembangunan ini bukan tanpa kontroversi. Orientasi poros Utara-Selatan akan menambah tekanan terhadap ekologi di wilayah Selatan Jakarta. Kami pun tidak menyangkalnya. Hanya saja, pilihan untuk tetap berorientasi ke Utara juga penuh risiko. Jika dibiarkan tanpa intervensi, biaya yang ditanggung dari tenggelamnya kawasan pantai di Utara sepertinya melebihi dari apa yang ditanggung di Selatan.

Kembali ke data, kami memperhatikan bahwa tujuan (destination) dari semua pergerakan di Jakarta terkonsentrasi ke dua wilayah, yaitu Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Pergerakan menuju ke dua wilayah ini melebih 60 persen dari total pergerakan keseluruhan. Fakta ini mengisyaratkan bahwa pusat kegiatan di Jakarta sesungguhnya berada di kedua wilayah tersebut. Temuan ini memperkuat argumen kami sebelumnya mengenai poros pembangunan yang sudah berorientasi ke Tengah dan Selatan.

Menariknya, tujuan pergerakan terkecil adalah Jakarta Utara. Bisa jadi ini menandakan telah terjadi pergeseran pusat kegiatan, di mana wilayah Jakarta Utara sudah mulai ditinggalkan dan aktivitas penduduk sudah bergeser ke wilayah Tengah dan Selatan.

Fakta menarik lainnya yang bisa kami ungkap adalah besaran pergerakan dalam kota ternyata lebih kecil bila dibandingkan dengan besaran pergerakan penglaju (lintas-batas). Artinya, beban infrastruktur terbesar sesungguhnya berada pada jaringan transportasi yang menghubungkan kota Jakarta dengan wilayah sekitarnya. Jika diperhatikan lebih rinci, asal dari pergerakan ini didominasi dari arah Selatan, termasuk Depok, Tangerang Selatan, dan Bogor.

Tidak dapat dipungkiri amenitas di wilayah Selatan jauh lebih baik dibandingkan wilayah lainnya. Lalu, kenapa kita ‘memaksakan’ untuk mengarahkan pembangunan ke Utara dan membatasi pembangunan di Selatan? Kenapa tidak sebaliknya? Bisa jadi ini saatnya kita harus mulai membatasi pembangunan di Utara Jakarta dan, jika perlu, menjadikannya kawasan lindung. Sementara itu, kita dapat fokus menata wilayah di Selatan untuk mempertahankan tingkat amenitas sebagaimana yang disyaratkan sebuah kota layak huni[.]

*Rikha adalah pemerhati masalah perkotaan dan kebijakan publik independen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s