Jalur Skuter yang ‘Tertuker’

oleh Rikha*

Skuter listrik mulai digemari masyarakat perkotaan, setidaknya di Jakarta, baik sebagai hiburan atau pun sebagai alat untuk beraktivitas. Skuter listrik juga menawarkan altenatif moda transportasi yang ramah lingkungan bagi masyarakat perkotaan. Namun, kehadiran skuter listrik ini juga bukan tanpa kontroversi, apalagi setelah kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan dua pengguna skuter listrik. Amankah skuter listrik sebagai moda transportasi? Bagaimana sesungguhnya status skuter listrik ini dalam moda pertranspotasian kita?

Pemda DKI, dari pemberitaan di media, berencana akan menerbitkan regulasi terkait skuter ini. Dalam regulasi yang sedang dirancang tersebut, skuter listrik akan diperlakukan layaknya seperti sepeda. Pada kenyataannya, skuter yang ramai digunakan di Jakarta adalah jenis skuter yang bertenaga listrik. Di satu sisi, memperlakukan skuter listrik layaknya sepeda, menurut kami, juga kurang tepat. Dari kecepatan dan besarnya roda (yang merefleksikan massa kendaraan), skuter dan sepeda tidak bisa diperbandingkan. Belum lagi sepeda digerakan oleh tenaga manusia, sementara skuter oleh tenaga motor listrik. Di sisi lain, memperlakukan skuter listrik setara pejalan kaki juga dipandang kurang tepat karena skuter listrik digerakan oleh tenaga non-manusia.

Kejelasan mengenai kedudukan skuter listrik dalam moda pertransportasian menjadi urgen karena ini menentukan dimana sebaiknya skuter listrik berlalu lintas: apakah berbaur dengan pejalan kaki di atas trotoar, atau berbagi ruang dengan kendaraan bermotor lainnya di atas jalan.

Melintas di atas jalan tentu memiliki risiko terjadinya kecelakan fatal sebagaimana yang baru-baru ini terjadi. Menggunakan jalur khusus sepeda (jika tersedia) tentunya lebih aman, walaupun infrastrukturnya masih jauh dari memadai untuk kondisi saat ini. Kalau pun jalur khusus sepeda atau skuter sudah tersedia di sisi jalan, apakah peraturan lalu lintas secara umum berlaku bagi mereka yang mengendarai skuter listrik?

Kasus jalur khusus sepeda di London mungkin menarik dan relevan untuk didiskusikan di sini. Pembangunan jalur poros khusus sepeda yang membelah London dipertanyakan sebagian warganya. Kenapa sepeda mendapat perlakuan istimewa seperti itu padahal sepeda tidak membayar pajak. Dan lagi, karena bukan kendaraan bermotor maka aturan lalu lintas tidak berlaku bagi pengendara sepeda. Singkatnya, sepeda tidak ditilang walaupun melanggar peraturan lalu lintas, karena sepeda bukan kendaraan bermotor.

Apakah peraturan lalu lintas berlaku bagi skuter bertenaga motor listrik?

Melintas di atas trotoar tentu lebih aman bagi pengendara skuter listrik. Namun kehadiran mereka di trotoar tentunya akan mengganggu kenyamanan, bahkan keamanan, pejalan kaki. Namun dari sisi konflik dan fatalitasnya, sepertinya kehadiran skuter listrik di atas trotoar tidak setinggi bila dibandingkan di sisi jalan.

Oleh karena itu, penggunaan bersama trotoar antara pejalan kaki dan pengendara skuter listrik mesti diatur. Prinsipnya, pejalan kaki harus tetap diutamakan, karena mereka adalah pemilik sah trotoar. Pengguna skuter listrik harus membatasi kecepatannya dan mengalah dari pejalan kaki. Singkatnya, tulisan ini menyarankan penerapan peraturan berdasarkan jalur yang digunakan, bukan jenis moda transportasi yang digunakan. Ketika berada di atas jalan maka apapun moda yang digunakan, yang berlaku adalah peraturan lalu lintas secara umum. Demikian juga halnya dengan trotoar, ketika berada di atasnya yang berlaku adalah aturan trotoar.

*Rikha ada pemerhati masalah perencanaan dan kebijakan publik independen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s