Desain Ibu Kota Baru: Inikah Kota Ideal Versi Indonesia?

Beberapa kali blog ini telah mempublikasi artikel terkait rencana ibu kota baru. Sejak dari alternatif pemilihan lokasi, sampai dengan kemungkinan terjadinya fenomena konurbasi. Topik ibu kota baru sepertinya masih menarik untuk didiskusikan, apalagi setelah Pemerintah mengumumkan pemenang desain kota dari calon ibu kota baru.

Kami yakin desain kota yang terpilih sudah melalui proses penilaian yang ketat. Kami sendiri kagum dengan ide dan tampilan visual rancangan ibu kota baru. Tim perancang mencoba merefleksikan nilai-nilai Pancasila dan demokrasi dalam karya mereka, sekaligus berusaha memadukan hubungan yang harmonis antara alam, manusia dan Tuhan. Keseluruhan ide dasar yang cukup kompleks tersebut dibungkus dalam sebuah tema Nagara-Nusa-Rimba.

Terlepas keanggunan yang dipancarkan oleh desain ibu kota baru, kami mempunyai dua catatan penting yang mungkin luput dari rancangan ibu kota baru.

Pertama, ibu kota baru tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga diharapkan menjadi pusat peradaban nasional. Sebagai pusat peradaban, ibu kota perlu didukung oleh sebuah lembaga penghasil pengetahuan terdepan, seperti universitas. Lembaga pengetahuan ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber kebijaksanaan bagi kebijakan nasional yang setiap harinya didiskusikan dan diadopsi di ibu kota baru, tetapi juga sebagai salah satu sumber inovasi bagi kota agar tetap berkelanjutan.

Absennya sebuah universitas di ibu kota baru mempertanyakan perannya sebagai pusat peradaban nasional. Diskursus yang berkembang sejauh ini adalah ibu kota baru haruslah sebuah kota yang cerdas (smart city). Secara konsep, kota cerdas lebih menitikberatkan pada aplikasi teknologi digital dan internet dalam penyediaan pelayanan kota yang efisien dan tepat guna. Kota cerdas memang sebuah kebutuhan, tetapi kota cerdas lebih menekankan pada penggunaan perangkat agar lebih efisien (efficient business process). Sementara membangun peradaban harus dilandasi pada pembelajaran dan pengembagan (learning and growth), di mana keberadaan universitas menjadi sentral di sini. Pesannya adalah menjadi cerdas itu berbeda dari menjadi sumber pengetahuan dan inovasi. Jangan sampai ibu kota baru menjadi sebuah kota yang cerdas, namun tidak inovatif[1].

Pemenang Lomba Desain Ibu Kota Baru

Kedua, keinklusifan dan keterbauran dengan rakyat sepertinya luput dari desain ibu kota baru ini. Sangat dipahami kesulitan yang dihadapi tim perancang dalam mengintegrasikan nilai-nilai modern dan universal, seperti demokrasi dan keberlanjutan, dengan nilai-nilai tradisional yang bersumber dari budaya nusantara ke dalam desain sebuah kota. Pada akhirnya, tim perancang mentok pada solusi dangkal, yaitu memberi label demokrasi pada desainnya padahal desainnya kurang merefleksi kedemokrasian itu sendiri. Hal ini terlihat jelas dari lokasi pusat pemerintahan yang terkesan terisolir dari warga masyarakatnya. Bentuk desain yang menyerupai hurup ‘T’ memposisikan pusat pemerintahan secara ekslusif di batang horizontal, sementara warga kota berada di zona vertikal. Pemilihan lokasi yang seperti ini secara desain memberi kesan adanya ‘jarak’ antara pemerintah dengan warga kotanya.

Tidak hanya itu, lokasi pusat pemerintah berada di lokasi yang secara altitude lebih tinggi, seakan-akan memberi pesan yang jauh dari keegaliteran. Padahal, dalam demokrasi, rakyatlah pemegang kekuasan tertinggi. Jadi tidak semestinya pemerintah, yang dalam hal desain dicerminkan dari lokasinya, berada dalam posisi yang tidak setara dengan rakyat. Di sinilah terbaca titik konflik antara nilai-nilai demokrasi modern dan kebudayaan tradisional kita. Budaya tradisional nusantara yang didominasi oleh feodalisme (raja, bangsawan, dan kaum elit) sepertinya tanpa disadari telah mempengaruhi desain ibu kota yang memperlakukan lokasi pusat pemerintahan ‘lebih spesial’. Benar kah demikian?

Lokasi yang tidak sentral jelas memberi dampak psikologis yang berbeda bagi warga kota. Jarak warga kota ke pusat pemerintah menjadi berbeda-beda (walaupun tidak mungkin dibuat sama). Sebagian warga kota bisa menginterpretasikan ini sebagai sebuah perbedaan yang disengaja (by design), terlebih bagi warga yang berada di lokasi terjauh dari pusat pemerintahan. Efek psikologisnya akan sedikit berbeda jika pusat pemerintah berada cukup di tengah. Meskipun tidak menjamin jarak geometri yang relatif sama, lokasi yang sentral memberi efek psikologis yang lebih dekat ke warga. “Pemerintah ada di tengah-tengah kita”, begitu lah kiranya ungkapan yang terdengar enak di telinga.

Ada baiknya kita melirik sedikit ke praktek bagus desain ibu kota di negara tetangga kita Australia. Bagi yang pernah tinggal di Canberra cukup lama akan paham bahwa kompleks parlemen lokasinya cukup sentral dan berada di DALAM sebuah bukit, dalam arti yang sesungguhnya. Ide awalnya, kompleks parlemen ini akan dibangun di atas sebuah bukit agar terlihat megah, anggun dan berwibawa. Namun, lokasi yang berada di atas bukit memberi kesan yang kuat bahwa parlemen itu lebih tinggi dari rakyat yang harus mereka layani. Rakyat Australia tidak menyukai sinyal seperti itu. Konsekuensinya, kompleks parlemen tetap dibangun di bukit yang sama, akan tetapi bukan di atas, melainkan di dalamnya. Tujuannya adalah agar kompleks parlemen sebagai pusat pemerintahan nasional setara dengan rakyat yang harus mereka layani. Menggali sebuah bukit adalah ongkos yang harus dibayar untuk mewujudkan kesetaraan ini dalam desain ibu kota Australia.

Kami perlu sedikit memberi kualifikasi pada tulisan ini karena disusun berdasarkan semata-mata pada desain resmi yang beredar di media. Kami belum pernah mendengar penjelasan langsung dari tim perancang mengenai detail dari desain mereka. Bisa jadi apa yang kami sampaikan di sini sudah masuk dalam kalkulasi tim perancang dan menjadi bagian dari rancangan perluasan ibu kota baru ke depan. Semoga begitu[.]


[1] Liat tulisan di blog ini mengenai aglomerasi perkotaan serta pembelajaran dan inovasi (learning and innovation)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s