Kelindan antara Normalisasi dan Naturalisasi Sungai!

oleh Rikha*

Konsep normalisasi sungai itu berkelindan dengan naturalisasi sungai. Berikut artikel ini berargumen.

Cara termudah untuk memahami sebuah konsep adalah dengan menelusuri makna dari pilihan kata yang digunakan untuk merefleksikan konsep dimaksud. Untuk gampangnya, mari kita lihat definisi normalisasi dan naturalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

normalisasi/nor·ma·li·sa·si/ n tindakan menjadikan normal (biasa) kembali; tindakan mengembalikan pada keadaan, hubungan, dan sebagainya yang biasa atau yang normal: — hubungan kedua negara yang telah lama berperang sulit dilakukan;

naturalisasi/na·tu·ra·li·sa·si/ n 1 pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing; hal menjadikan warga negara; pewarganegaraan yang diperoleh setelah memenuhi syarat sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan; 2 Bio gejala terjadinya penyesuaian diri tumbuhan yang didatangkan dari tempat lain dan menjadi anggota biasa masyarakat tumbuhan di tempat yang baru itu;

Normalisasi sungai berarti mengembalikan sungai pada keadaannya yang normal, atau keadaan alaminya. Bagaimana keadaan alami sebuah sungai kami kira tidak perlu dijelaskan lagi. Normalisasi sungai juga mengandung arti bahwa keadaan sungai sudah tidak seperti biasanya (sudah berubah) sehingga perlu dikembalikan seperti kondisi semula.

Sementara naturalisasi mengandung makna penyesuaian sesuatu yang berasal dari luar dengan kondisi atau lingkungan barunya. Mungkin tujuannya dua hal. Pertama adalah agar sesuatu yang baru bisa beradaptasi dan terus bertahan (survive) di lingkungan barunya. Kedua adalah agar tidak mengganggu atau merubah dengan drastis lingkungan baru yang didatangi. Dengan demikian, naturalisasi sungai berarti apa yang datang atau masuk ke dalam sungai harus melalui proses penyesuaian terlebih dahulu agar, sebagai contoh, tidak mencemari sungai.

Sebagian mungkin menganggap ini hanya persoalan semantik semata. Namun, bisa jadi ini merupakan gejala ketidakdisiplinan logika. Jika ini memang ketidaksiplinan cara berpikir, dan celakanya diterima secara luas di masyarakat, dampaknya bisa signifikan.

Di masyarakat sendiri, konsep normalisasi dan naturalisasi dimaknai secara berbeda dari diskusi semantik di atas. Normalisasi, sebagai contoh, dipandang sempit sebagai betonisasi tepi sungai. Hal ini lebih disebabkan pada fakta yang diterima masyarakat bahwa normalisasi itu terwujud dalam bentuk pelebaran dan penguatan dinding sungai dengan menggunakan beton.

Begitu juga naturalisasi yang dimaknai berbeda. Definisi yang berkembang luas di masyarakat adalah membuat sungai kembali seperti kondisi ekosistem alaminya. Definisi ini sesungguhnya sangat mirip dengan makna semantik dari normalisasi sebagaimana dibahas di atas. Dengan merujuk pada praktek di kota-kota negara lain (karena belum ada wujud konkretnya di Jakarta), wujud naturalisasi identik dengan pelebaran dan penghijauan di sekitar bantaran sungai. Harapannya, fungsi lingkungan dari bantaran sungai yang alami tadi dapat mengurangi risiko banjir karena mampu menahan dan menyerap air lebih banyak.

Panorama Sungai Thames di London

Wujud naturalisasi sebagaimana makna semantiknya kami temukan di London (dan mungkin di banyak kota maju lainnya). Air limbah domestik diolah terlebih dahulu di sebuah fasilitas pengolahan air kotor. Air yang sudah cukup bersih yang keluar dari fasilitas ini tidak langsung dialirkan ke sungai. Akan tetapi, air tersebut disalurkan ke situ lokal terdekat (seperti situ Lembang di Jakarta) untuk dinaturalisasi sebelum masuk ke jaringan sungai primer atau sekunder. Jangan heran jika menemukan banyak situ kecil bersebaran di kota London. Naturalisasi ini menghasilkan sungai yang tidak tercemar dan kualitas airnya terjaga.

Kembali ke Jakarta, naturalisasi dalam konteks semantik dan perwujudannya sebagaimana halnya di London, tidak perlu dilakukan terhadap air hujan, karena air hujan itu sudah natural dan bersih. Permasalahannya adalah sistem drainase yang menampung air hujan dan sistem air kotor domestik masih bercampur di selokan Jakarta. Akibatnya air hujan di Jakarta juga harus dinaturalisasi. Hanya saja, menurut hemat kami, naturalisasi versi semantik ini tempatnya tidak semestinya dilakukan di sungai, tetapi lebih efektif jika dilakukan sebelum air kotor memasuki sungai.

Begitu jenakanya peristilahan di negeri ini. Pelbagai gagasan atau konsep yang ada di alam logika kita tidak terejawantahkan dengan baik dalam tutur bahasa verbal dan tulisan kita. Bahkan termanifestasi dalam wujud yang sama sekali berbeda dari konsepsi serta ekspresi yang berkembang.

Menarik untuk ditelusuri kenapa ketidakdisiplinan bisa jamak di masyarakat Jakarta yang cerdas.

Singkatnya, kontroversi normalisasi dan naturalisasi bukan hanya perbedaan pada aras ide dan gagasan, tetapi juga menyangkut semantik dan aktualisasi. Oleh karena itu, sila membuka KBBI jika pembaca bingung akan makna kelindan.

*Pemerhati masalah perencanaan dan kebijakan publik independen, berdomisili di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s