Transformasi Ekonomi

oleh Rikha*

Transformasi ekonomi merupakan ide pembanguan yang paling popular di negara berkembang. Ini wajar, karena negara berkembangan tentunya tidak mau mentok menjadi negara berkembang seterusnya. Negara berkembang berusaha untuk mentransformasi ekonomi mereka untuk menjadi negara maju, secepat yang mereka bisa. Perlu dicatat bahwa negara maju itu berbeda dari negara kaya. Menjadi maju biasanya juga kaya, namun belum tentu sebaliknya.

Sesungguhnya banyak teori yang sudah berusaha menjelaskan soal transformasi pembangunan ekonomi. Karl Marx, WW. Rostow, Arthur Lewis adalah beberapa di antaranya yang mencoba menteorikan tentang tahapan pembangunan ekonomi. Meskipun kontroversial, kami melihat evolusi pembangunan ekonomi yang diprediksi oleh Marx cukup menarik untuk diulas di sini. Bukan karena daya prediksi dari teori ini, namun karena interpretasi dan praktek dari teori ini sangat beragam, bahkan di kalangan penganut Marxism itu sendiri.

Marx memperkenalkan teori pentahapan ekonomi pembangunan yang sekaligus melengkapi teori dia sebelumnya tentang pertarungan kelas sosial. Dia membagi evolusi pembangunan ekonomi ke dalam lima kategori, yaitu masyarakat primitif, feodalisme, kapitalisme, sosialisme, dan komunisme.

Di era masyarakat primitif, sumber daya yang paling penting adalah sumber daya pekerja itu sendiri. Semua aktivitas kehidupan masih dilakukan sendiri, seperti berburu, membuat rumah dan pakaian. Sehingga individu atau kelompok masyarakat yang memiliki tenaga kerja murah (bahkan gratis) dalam jumlah yang banyak adalah individu atau kelompok yang cukup berkuasa di masyarakat.

Seiring dengan populasi yang semakin besar permintaan akan pangan pun meningkat (ingat teori Malthus). Akibatnya, lahan pertanian menjadi sumber daya yang penting dan menggeser perekonomian menuju era feodalisme. Individu atau kelompok yang memilik tanah pertanian yang luas menjadi individu atau kelompok yang dominan di masyarakat, baik secara politik maupun ekonomi. Karena merupakan moda utama dalam sistem produksi saat itu, tanah menjadi perebutan di kalangan elit para tuan tanah. Pastinya, pertanian menjadi sektor ekonomi yang paling dominan. Relasi sosial, ekonomi, dan politik di masyarakat mengikuti pola feodalisme, di mana kaum buruh tani bekerja kepada para tuan tanah dengan upah yang sangat rendah.

Revolusi industri telah menghasilkan dan menyebarkan ide-ide ilmiah di masyarakat luas. Perkembangan positif ini bergerak ke arah penerapan teknologi baru di pelbagai sektor ekonomi, termasuk pertanian. Akibatnya, produktivitas sektor pertanian meningkat drastis dan kebutuhan buruh tani juga berkurang. Di saat bersamaan, sektor industri pengolahan, terutama tekstil dan mineral tumbuh dengan pesat, yang menyerap surplus buruh dari sektor pertanian tadi. Peningkatan produktivitas juga berdampak pada berkurangya kebutuhan akan lahan pertanian. Akibatnya, peran tanah dalam perekonomian menjadi tidak sepenting di era feodalisme. Sementara itu peran kapital semakin krusial dengan semakin dominannya sektor industri pengolahan. Di titik ini, perekonomian telah bergeser dari era feodalisme menuju kapitalisme. Di era kapitalisme, moda produksi utama adalah kapital, sementara pembagian kerja (division of labour) di masyarakat terpecah antara kaum kapitalis dan kaum buruh.

Setelah era kapitalisme, lalu apa? Marx memprediksi bahwa kapitalisme akan menciptakan konflik kepentingan antarkelas di masyarakat, yaitu perseteruan antara kelas pekerja dan kaum kapitalis (pengusaha). Menurut Marx, kapitalisme akan menyebabkan jurang ketimpangan yang terus melebar di masyarakat. Ketidakadilan sosial ini memicu terjadinya sebuah revolusi politik. Di bagian ini pemikiran Marx yang paling banyak menimbulkan kontroversi karena gagasannya mengenai revolusi. Pada akhirnya, kaum pekerja akan memenangkan perseteruan dengan menguasai negara beserta seluruh moda ekonominya. Di titik ini era sosialisme mulai berlangsung. Pembagian kerja (division of labour) dibuat setara di semua lini, baik produksi, distribusi dan konsumsi. Mekanisme pasar akan berangsur menghilang di era sosialisme dan perlahan digantikan oleh perencanaan yang sentralistis oleh negara. Ketika peran negara begitu sentralnya hingga mengatur seluruh proses produksi, distribusi, dan konsumsi secara adil dan merata, maka pada saat itulah, dalam pandangan Marx, era komunisme sebagai sebuah kondisi masyarakat madani telah terbentuk.

Dalam diskursus politik, teori Marx ini seringkali dijadikan semacam justifikasi ilmiah untuk melakukan revolusi. Oleh karena itu, jangan heran jika ide Marx ini sering dianggap tabu di beberapa negara, terutama di negara yang sistem politiknya belum begitu stabil. Di samping itu, bagi beberapa negara, tahapan kapitalisme dipandang dengan begitu negatifnya. Sehingga muncul pandangan bahwa kapitalisme itu merupakan tahapan yang tidak perlu dilalui, namun bisa diloncati langsung menuju tahap sosialisme. Ideologi sosialisme seperti ini masih bertahan di beberapa negara hingga kini.

Dalam diskursus ekonomi, pandangan Marx ini sering dijadikan rujukan untuk mengkritisi ekonomi arusutama (mainstream) yang menguntungkan kaum kapitalis. Pemilik modal akan terus semakin kaya sehingga akumulasi kapital akan terkonsentrasi di kelompok sosial tertentu saja. Ketimbang melalui sebuah revolusi politik, pemerataan dapat dilakukan melalui instrumen ekonomi berupa pajak progresif, subsidi silang, atau kewajiban sosial semacam CSR. Lebih dari itu, Piketty (2013) malah menyarankan agar pajak progresif tidak saja diterapkan atas pendapatan (income) kita, namun juga terhadap kepemilikan aset kapital kita. Sebuah pemikiran sosialisme yang revolusioner, menurut kami.

Kita juga dapat melihat perbedaan kinerja ekonomi antara negara yang melalui tahapan kapitalisme dulu secara penuh sebelum memasuki tahapan sosialisme dibandingkan dengan negara yang mengadopsi ideologi sosialisme secara fanatik dan mengabaikan kapitalisme. Terakhir, meskipun Marx melihat evolusi pembangunan ekonomi ini secara sekuensial, pada kenyataannya ditemukan tumpang tindih antar-tahapan. Di beberapa negara, seperti Brazil, berbagai kelompok masyarakat dengan level pembangunan ekonomi yang berbeda masih eksis secara berdampingan, mulai dari masyarakat yang berburu dan nomaden, masyarakat pertanian yang cenderung masih feudal, hingga kelompok elit industrialis. Penting untuk dicatat bahwa Brazil juga memiliki sistem jaminan sosial yang cukup baik untuk merfleksikan eksistensi ideologi sosialisme di negara tersebut.

Bacaan:
https://www.theguardian.com/books/2014/apr/28/thomas-piketty-capital-surprise-bestseller

https://www.cla.purdue.edu/academic/english/theory/marxism/modules/marxstages.html

*Pemerhati masalah perencanaan dan kebijakan publik independen, berdomisili di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s