Kepadatan dan Kerentanan Kota Terhadap Covid-19

Oleh Rikha*

Saat ini kita sedang menyaksikan bagaimana pandemi Covid-19 menyebar sangat cepat ke seluruh sudut dunia. Walaupun tingkat fatalitas Covid-19 terbilang rendah dibandingkan wabah lainnya, seperti Ebola, MERS dan SARS, kecepatan transmisi penyakit ini memaksa banyak wilayah dikarantina (lockdown). Kita juga dibuat sadar bahwa penyebaran Covid-19 ini difasilitasi oleh jejaring kota-kota di seluruh dunia yang sudah terkoneksi satu dengan lainnya. Apakah ini berarti desain kota-kota dunia rentan terhadap pandemi?

Gambar 1 Tingkat Kematian Covid-19 Dibandingkan Epidemi Lainnya

Kota, dalam pengertian yang paling sederhana adalah konsentrasi orang, transportasi dan aktivitas[1]. Dalam dunia kapitalisme seperti sekarang ini, konsentrasi dari berbagai aktivitas akan menghasilkan apa yang disebut ekonomi keskalaan (economies of scale). Konsentrasi tidak hanya menguntungkan bagi sistem produksi di kota dalam hal kemudahan input tenaga kerja, berbagi-pakai logistik, pasar, dan sebagainya, tetapi juga memfasilitasi terjadinya pertukaran dan kombinasi pengetahuan yang pada akhirnya berujung pada inovasi. Konsentrasi atau aglomerasi perkotaan juga bukan tanpa eksternal negatif. Kongesti (mis. kemacetan), inflasi (mis. meroketnya harga lahan), dan degradasi (mis. kerusakan lingkungan, kekumuhan) adalah beberapa eksternal negatif yang terus menggelayuti perkembangan kota-kota kita.

Kepadatan perkotaan tidak saja dipromosikan oleh para ekonom, tetapi juga diadvokasi oleh para perencana kota. Kota yang kompak (compact city), yang dipadukan dengan konsep transit oriented development (TOD), dipercaya bisa menjadi solusi terhadap eksternalitas negatif tadi (yaitu kongesti, inflasi, dan degradasi). Densifikasi kota seakan-akan sudah menjadi sebuah rumusan baku dalam perencanaan kota, utamanya didorong oleh keterbatasan lahan. Kurang lebih begitu diskursus arus-utama perencanaan kota yang berlangsung sampai sesaat sebelum merebaknya pandemi Covid-19.   

Dengan kejadian pandemi seperti sekarang, kepadatan penduduk perkotaan diduga kuat mengakselerasi penyebaran Covid-19. Situasi pandemi ini menggiring kita untuk mempertanyakan diskursus arus-utama perencanaan kota, terutama yang terkait densifikasi. Spesifiknya, apakah mazhab densifikasi kota yang saat ini cukup dominan di kalangan perencana kota perlu dipertahankan setelah kejadian wabah pandemi Covid-19 ini? Atau, apakah peri-urban yang memiliki kepadatan yang lebih rendah bisa menjadi semacam penyangga (buffer) untuk mencegah merebaknya pandemi seperti sekarang ini? Dua pertanyaan mendasar tersebut adalah yang paling relevan untuk diajukan kepada semua perencana kota saat ini.

Tulisan kali ini mencoba untuk merespon dua pertanyaan tersebut. Selain argumentatif, beberapa data empiri akan disampaikan meskipun data tersebut harus dibaca dengan hati-hati.

Untuk pertanyaan pertama, tulisan ini berargumen bahwa kepadatan bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan selama warga kota disiplin ketika menghadapi wabah pandemi ini. Manfaat yang ditawarkan dari aglomerasi masih jauh lebih besar daripada risiko yang menyertainya. Tentunya risiko ini perlu dimitigasi, misalnya dengan jaga jarak fisik dan sosial. Dan lagi, masifnya penyebaran wabah sepertinya tidak selalu liner dengan kepadatan kota sebagaimana yang dibayangkan sebelumnya.

Sebagai contoh adalah Hong Kong (862 kasus), Tokyo (773 kasus), Seoul (528 kasus), San Fransisco (497 kasus), dan Singapore (472 kasus)[2] adalah beberapa kota padat dunia yang dapat dikatakan cukup berhasil mengisolasi penyebaran Covid-19 ke level terendah yang memungkinkan.

Sementara itu, aglomerasi global lainnya seperti New York (57,159 kasus), Madrid (34,188 kasus), Berlin (20,237 kasus), dan Milan (10,819) terlihat sangat rentan terhadap pandemi Covid-19.

Meskipun terbilang terlalu dini untuk meyakini keakurasian data kasus Covid-19, kami coba memetakannya persebarannya di beberapa kota dunia. Gambar 2 menunjukan relasi antara kepadatan beberapa kota dunia dan jumlah kasus Covid-19 yang distandarkan per seratus ribu penduduk. Terlihat bahwa sepertinya tidak [atau belum?] ditemukan suatu pola penyebaran tertentu yang dapat diasosiasikan dengan kepadatan kota.

Gambar 2 Kepadatan dan Kasus Covid-19 di Beberapa Kota Dunia

Untuk memitigasi risiko pandemi tentunya interaksi dan perilaku warga kota harus disiplin dalam menerapkan social distancing. Beberapa penggunaan fasilitas kota berskala besar harus disesuaikan agar tidak menjadi sumber penularan wabah, seperti stadion, gedung pertunjukan dan konvensi, teater, pasar, pusat bisnis, universitas, sekolah, tempat ibadah dan fasilitas kota lainnya. Selain pengaturan jarak antarpengguna yang memadai agar tidak terjadi kerumunan yang rapat, pemantauan terhadap suhu tubuh, kewajiban menggunakan masker, dan penyediaan sanitizer harus diterapkan secara konsekuen di setiap fasilitas kota.  

Tidak terkecuali transportasi kota. Transportasi bagaikan sirkulasi darah yang memastikan kehidupan sebuah kota. Situasi pandemi tentunya akan memberikan tekanan tersendiri terhadap sistem transportasi massal perkotaan. Sebagai langkah mitigasi, tingkat kepadatan angkutan massal juga harus dikendalikan, setidaknya sampai pandemi Covid-19 dapat dikontrol sepenuhnya. Konsekuensinya, batasan penggunaan kendaraan pribadi mau tidak mau harus direlaksasi untuk sementara waktu. Akibatnya, penggunaan kendaraan pribadi diduga akan meningkat signifikan. Kemacetan bisa jadi semakin parah dan harus diantisipasi juga.

Untuk pertanyaan kedua, dengan argumen yang sama, kepadatan yang rendah bukanlah jaminan peri-urban kebal dari pandemi Covid-19. Jika warga kota tidak disiplin menerapkan physical/social distancing kawasan peri-urban justru bisa menjadi episentrum dari penyebaran wabah ini. Sebagaimana diidentifikasikan oleh Klaus[3], penyebaran Covid-19 di beberapa negara justru dimulai dari kota-kota kecil dan satelit. Kembali ke Gambar 2, Madrid, Milan dan Berlin adalah bukti awal bahwa kepadatan yang relatif lebih rendah bukan berarti lebih lebih kebal terhadap pandemi Covid-19 ini.

Singkatnya, kekompakan kota sepertinya bukan faktor yang dominan dalam penyebaran penyakit menular, setidaknya dalam situasi Covid-19. Namun demikian, indikasi awal ini harus dibaca dengan penuh kehati-hatian karena kondisi data yang masih sangat dinamis dan jumlah sampel yang terbatas. Bisa jadi faktor lainnya, seperti struktur demografi (usia, gender), iklim, status sosial dan budaya masyarakat yang lebih menentukan kecepatan transmisi penyakit ini[.]


[1] Mengutip definisi yang digunakan oleh Prof. Djoko Sudjarto.

[2] Data per awal April 2020 (1-3 April 2020, kecuali untuk Copenhagen per 15 Maret 2020), diperoleh dari situs resmi berbagai negara di internet.

[3] https://www.citylab.com/design/2020/03/coronavirus-urban-planning-global-cities-infectious-disease/607603/

*Pemerhati masalah perencanaan dan kebijakan publik independen, berdomisili di Jakarta.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s