Menakar Risiko Pandemi Covid-19 Berdasarkan Level Urbanisasi

oleh Rikha*

Benarkah kota itu lebih berisiko terhadap Covid-19? Tulisan ini mencoba untuk memberi secercah insight terhadap pertanyaan tersebut. Respon kami terhadap pertanyaan tersebut adalah pertanyaan balik, benarkah demikian? Analisis di sini justru menemukan fakta yang cenderung sebaliknya.

Wajar jika banyak orang berasumsi bahwa kota itu lebih berisiko terhadap wabah penyakit menular. Hal ini dikarenakan kepadatan perkotaan akan memfasilitasi penularan wabah lebih cepat. Dalam kadar tertentu, kami sepakat dengan persepsi umum ini, dengan catatan bahwa semua faktor penentu lainnya adalah setara. Pada kenyaatannya, banyak faktor lainnya ini tidak setara, misalnya akses dan kualitas layanan kesehatan serta tingkat kesadaran masyarakat, yang membuat kota itu lebih aman dan sehat dibanding kawasan non-urban.

Sejarah mengingatkan kita bahwa perkotaan di abad ke-19 itu sangat rentan terhadap penyakit menular seperti TBC dan Kolera. Pada saat itu, kota-kota belum memiliki sanitasi yang baik, vaksin belum ditemukan, dan akses layanan kesehatan masih jauh dari memadai. Kepadatan kota membuat interaksi antarwarga menjadi lebih intensif yang pada akhirnya mempercepat rantai transmisi penyebaran penyakit. Bagi yang tertarik, ada tinjauan sejarah mengenai penyebaran penyakit menular di perkotaan dan bagaimana pandemi tersebut membentuk (reshape) wajah kota yang dapat diikuti di sini.

Sebaliknya, kawasan yang kurang urban dan non-urban justru menawarkan tempat perlindungan dari penyakit tersebut. Kepadatan yang rendah kawasan perdesaan menjadi semacam isolasi alami terhadap penyebaran penyakit berbahaya.

Terlepas dari persepsi tersebut, kota secara umum masih lebih sehat dan lebih aman, yang menghasilkan harapan hidup yang relatif lebih panjang.  Gambar 1 menunjukan bahwa penduduk kota megapolitan (> 5 juta penduduk) dan metropolitan (> 1 juta penduduk) secara rata-rata hidup lebih lama, mengindikasikan kondisi yang lebih sehat dan aman. Harapan hidup menurun secara monoton seiring dengan menurunnya tingkat urbanisasi. Sulit mendapatkan data umur harapan hidup untuk kawasan non-urban. Namun, melihat kecenderungan data yang ada, sepertinya angka harapan hidup akan lebih rendah lagi untuk kawasan non-urban.

Gambar 1 Harapan Hidup Berdasarkan Tingkat Urbanisasi

Seseorang mungkin akan berargumen bahwa risiko terpapar bahaya penyakit akan lebih tinggi di kota karena tidak hanya disebabkan oleh kepadatan, tetapi juga akibat dari polusi, kecelakaan (kebakaran, lalu lintas, dsb), kriminal, dan pola hidup yang kurang sehat. Namun, kita perlu mencatat bahwa kota juga menawarkan akses premium ke layanan esensial, seperti kesehatan, bantuan sosial dan nutrisi. Sesuatu yang seringkali lebih sulit ditemukan di kawasan non-urban.

Perkembangan kasus Covid-19 sejauh ini mengindikasi bahwa kondisi demografi, terutama usia dan gender, cukup mempengaruhi risiko kematian. Data Worldometer per 14 April 2020 (merujuk kasus di NYC) menunjukkan bahwa 72,3% kematian dari kasus positif Covid-19 adalah berusia 65 tahun ke atas. Angka ini mencapai 95,4% untuk cohort 45 tahun ke atas. Dengan demikian, ada baiknya kita meninjau korelasi antara distribusi demografi ini dengan pola spasialnya, dalam hal ini tingkat urbanisasi.

Masih menggunakan klasifikasi urbanisasi yang sama, Gambar 2 menunjukkan porsi populasi yang berusia di atas 50 tahun berdasarkan tingkat urbanisasi. Terlihat bahwa secara umum rata-rata porsi penduduk usia tua relatif tidak berbeda untuk setiap tingkat urbanisasi (lihat garis di chart). Dengan kata lain, kota kecil tidak lebih rentan dibandingkan dengan kota metropolitan, dan sebaliknya. Namun demikian, jika kita perhatikan angka rincinya, terlihat bahwa kota sedang memang memiliki porsi penduduk tua yang sedikit lebih tinggi. Hal ini mengindikasikan kota sedang relatif lebih ringkih dalam menghadapi penyebaran Covid-19. Tanpa upaya mitigasi yang serius, kota sedang rawan menjadi episentrum baru penyebaran virus ini.

Gambar 2 Porsi Populasi 50+ Tahun Berdasarkan Tingkat Urbanisasi

Dua fakta tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kota yang lebih besar itu lebih aman dan sehat dari pada kota yang lebih kecil atau kawasan non-urban. Namun, kedua fakta tersebut cukup membuat kita waspada bahwa migrasi ke kota yang lebih kecil, atau ke kawasan perdesaan tidak membuat kita menjadi lebih aman dari wabah Covid-19. Sebaliknya, dengan kerentanan yang lebih tinggi, migrasi akan mempercepat terjadinya infeksi yang lebih parah di kota-kota yang lebih kecil. Masing-masing kita tentu bisa dengan mudah mengaitkan hasil analisis ini terhadap situasi mudik/pulang kampung yang jamak terjadi menjelang lebaran seperti sekarang ini.

Temuan ini konsisten dengan analisis sebelumnya di blog ini yang tidak menemukan adanya pola korelasi yang sistematis antara kepadatan kota (density) dengan penyebaran kasus Covid-19. Kepadatan memang membuat tingkat keterpaparan terhadap penyakit Covid-19 lebih tinggi, namun kerumunan (crowding) sesungguhnya yang menjadi biang penyebaran virus ini. Di sini, ada perbedaan yang mendasar antara kepadatan kota yang merupakan wujud lanskap perkotaan (urban landscape) dengan kerumunan yang merupakan bentuk perilaku masyarakat, terlepas itu di kota maupun di desa.

Singkatnya, karena kepadatannya, kota yang lebih besar (baca: megapolitan dan metropolitan) jelas memiliki keterpaparan yang lebih tinggi terhadap penyakit menular seperti Covid-19. Namun, jika tertular, risiko kematian sepertinya relatif lebih tinggi dialami oleh kota yang lebih kecil[.]

*Pemerhati masalah perencanaan dan kebijakan publik independen, berdomisili di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s