Mengentaskan Kemiskinan Itu Tidak Mahal

oleh Rikha*

Bulan ini Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-75. Perayaan kemerdekaan tahun ini cukup istimewa dan unik. Istimewa karena angkanya yang 75 tahun, atau tiga per empat abad. Unik karena perayaan kemerdekaan tahun ini dalam situasi krisis sehingga perayaannya agak dibatasi, tanpa mengurangi makna dari kemerdekaan itu tentunya. Pada bagian pemaknaan inilah tulisan ini hendak berkontribusi dengan mengangkat kembali tulisan di blog ini pada momen kemerdekaan yang ke-72.

Masih banyak yang mempertanyakan makna kemerdekaan dalam konteks pembangunan yang lebih luas. Merdeka dari belenggu penjajahan tentunya sudah kita rebut dan miliki. Namun merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterpurukan sesungguhnya masih diragukan banyak orang. Hal ini terekam dari banyaknya posting di sosial media yang mengangkat isu kemiskinan, ketimpangan, keterisolasian, dan pelbagai isu  pembangunan sosial-ekonomi lainnya yang masih mendera bangsa setelah 75 tahun merdeka.

Kontras dengan hal di atas, kita masih melihat terjadi pemborosan sumber daya di mana-mana. Pemborosan tidak hanya dalam bentuk kegiatan mewah yang menggunakan sumber daya publik, namun juga alokasi anggaran yang kurang efektif dan efisien (seperti subsidi tidak tepat sasaran), serta praktik koruptif yang masih jamak di mana-mana.

Jika kita bisa memanfaatkan sumber daya tersebut lebih efektif mungkin kita bisa memerdekakan bangsa ini sepenuhnya dari, misalnya, kemiskinan. Bayangkan, APBN kita meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam 17 tahun belakangan ini, dari hanya 223 triliun pada tahun 2000 menjadi 2.080 triliun pada tahun 2017.  Jika menurut data BPS terdapat 38,74 juta orang miskin di tahun 2000, sementara garis kemiskinan sebesar Rp 91.632 per kapita per bulan, maka dibutuhkan dana sekitar 42,6 triliun untuk mengangkat semua orang miskin di Indonesia ke atas garis kemiskinan di tahun tersebut. Nilai tersebut setara dengan 19% APBN tahun 2000.  Dengan perkalian yang serupa, untuk mengangkat 26,42 juta orang miskin di tahun 2020 dibutuhkan dana sekitar 144,2 triliun, atau hanya 5,7% APBN tahun 2020.

Sebagai informasi, pagu awal APBN 2020 sebelum pandemi adalah 2.540,4 triliun. Adapun alokasi belanja perlindungan sosial sebesar adalah sebesar 372,5 triliun, jauh di atas kalkulasi kebutuhan di atas.

Gambar 1 Alokasi belanja perlindungan sosial pada APBN 2015-2020. Anggaran perlindungan sosial mencakup PKH, Bantuan Pangan, PIP, PBI JKN, Bidik Misi/KIP Kuliah, subsidi (di luar subsidi pajak), dan Dana Desa, serta pengeluaran pembiayaan untuk kredit ultra mikro. Sumber: Kementerian Keuangan.

Dengan hitung-hitungan sederhana seperti di atas, dan kapasitas dana publik yang semakin besar secara nominal, semestinya memerdekakan bangsa ini dari kemiskinan bukanlah hal yang terlalu sulit. Syaratnya, pemborosan seperti di atas harus dikurangi, bahkan dihilangkan sama sekali.

Untuk mewujudkannya, setiap alokasi sumber daya publik haruslah ditimbang berdasarkan opportunity costs-nya terhadap memerdekaan bangsa ini dari kemiskinan. Teknisnya, kita dapat menggunakan satuan garis kemiskinan  (GK) sebagai opportunity costs dari setiap penggunaan dana publik.  Misalnya, GK 2020 adalah Rp Rp 454.652 per kapita per bulan, atau setara Rp 5,5 juta per kapita per tahun.  Jika ada alokasi dana publik untuk perjalanan dinas sejumlah Rp 55 juta, maka sesungguhnya kita menghilangkan kesempatan (opportunity cost) untuk memerdekakan sepuluh orang miskin selama setahun. Sama dengan itu namun dengan skala yang lebih besar, pembangunan sirkuit balap sebesar Rp 550 miliar akan menghilangkan kesempatan untuk memerdekakan100 ribu orang dari kemiskinan selama setahun.

Tentunya, kondisi riil pengentasan kemiskinan di lapangan tidaklah semudah kalkulasi di atas. Akurasi data serta kapasitas SDM dan kelembagaan masih menghambat upaya kemerdekaan bangsa ini dari kemiskinan. Setidaknya, dari perspektif sumber daya dan pembiayaan kemerdekaan itu tidaklah terlalu jauh di depan mata, bukan?

*Pemerhati masalah perencanaan dan kebijakan publik independen, berdomisili di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s